Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Dimanja


__ADS_3

Salman melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Naila tidak tahu, ia akan dibawa kemana oleh suaminya. Keduanya mendengarkan lagu sholawatan dan sambil bersenandung di sepanjang perjalanan.


Tidak lama kemudian, Salman menghentikan mobilnya di masjid. Rupanya sudah waktunya shalat Maghrib. Dan mereka pun mampir untuk shalat. Selesai shalat, keduanya melanjutkan perjalanan.


"Sebenarnya kamu mau mengajakku kemana sih, By?"


"Sebentar lagi juga sampai, Mi! Rileks saja, Mi!"


Ternyata benar, mobil salman masuk ke area parkir salah satu mall terbesar di kotanya.


"By, ngapain ngajak aku ngemall?"


"Buat nonton, Mi! Kan, udah aku bilang mau ajak kamu kencan, Hehe..."


"Donat, By!" Naila menarik tangan Salman menuju salah satu gerai donat.


Seperti biasanya, Naila selalu membeli makanan kesukaannya itu kalau ke Mall.


Mereka membeli 3 box donat dengan mix varian rasa.


"Mi, nontonnya nanti jam 7! Sekarang kita belanja dulu! Sebentar lagi perutmu akan membesar, belilah baju hamil!"


"Hem, benar juga! Baju hamilku kan, sudah aku kasih ke orang."


"Ayo pilih saja, My!"


Naila memilih beberapa baju hamil yang cocok untuknya. Setelah dicoba, Salman membantunya membawa ke kasir.


"Total 3.250.000, Pak!"


Setelah selesai membayar, mereka menuju ke teater bioskop. Kali ini mereka nonton film luar negeri. Selama di dalam studio, Salman menggenggam tangan Naila layaknya pengantin baru yang sedang kasmaran. Sesekali Salman mencium tang istrinya. Anggap saja dunia milik mereka berdua.


Setelah film usai, mereka keluar langsung turun ke bawah menuju parkir mobil. Namun di sana mereka tidak sengaja bertemu dengan sepasang kekasih yang mereka kenal.


"Hai Salman, Naila!" Dila menggandeng tangan calon suaminya dan mendekati mereka berdua. Ia cipika-cipiki dengan Naila.


"Kalian belanja si sini juga?"


"Iya, kami kencan! Sudah lama tidak menghabiskan waktu di luar berdua!" Jawab Salman.


"Oh iya! Kenalin ini calon suamiku!" Dila mengenalkan Adit kepada Salman.


Salman tersenyum sinis. Adit-pun tak bergeming di tempatnya. Ia justru melihat Naila. Memperhatikan dari atas sampai bawah, dan menghentikan pandangannya pada perut Naila yang membuncit. Melihat pandangan Adit yang tak biasa, Dila justru cemburu. Dan Naila menjadi gelisah, ia menundukkan pandangannya. Salman pun paham dengan mimik muka Adit.


"Sayang! Kok diem?" Tanya Dila kepada Adit.


"Mungkin calon suamimu sedang tidak enak badan atau sariawan, Dil! Maaf kami pamit duluan! Anak-anak sudah nunggu di rumah."


"Ah, iya!" Dila tersenyum kecut.


Salman menggandeng tangan Naila dan membukakan pintu mobil. Hal tersebut tidak luput dari pandangan Adit dan Dila.


Setelah mereka masuk ke mobil masing-masing, Salman memperhatikan Naila.


"Ternyata benar, Kak Adit yang akan menikah dengan Dila!" Batin Naila.


"Mi, Ummi! Kok bengong sih?"


"Eh, iya! Ada apa, By?"


"Kamu mikirin apa?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa."


"Ternyata calonnya Dila si Adit! Kamu tidak usah khawatir, Mi! Dia juga sudah mau menikah, mungkin dia sudah berubah. Semoga Adit sudah tidak punya niat buruk terhadap keluarga kita!"


"Iya semoga saja begitu, amiin."


Mereka melanjutkan perjalanan pulang dan menuju ke rumah orang tua Salman untuk menjemput anak-anak. Saat ini sudah jam 10 malam. Sampai di rumah orang tuanya, ternyata anak-anak belum tidur. Mereka masih bermain bersama Oma, Opa, dan Tantenya. Naila memberikan satu box donat kepada mertuanya.


"Hore... Abi dan Ummi datang!"


"Kok belum tidur, Nak?"


"Ndak ngantuk, Mi!" Jawab Arya.


"Mi, tadi de Ayla pake liptiknya Tante Uni!" Ujar Alya.


"Mi, lihat! Aku cantik, kan?" Ujar Ayla, dengan gaya centilnya.


Naila hanya bisa menggeleng kepala mendengar ocehan mereka.


"Nginep sini saja, Man!" Ujar Ayah Haris.


"Iya, Man! Bunda rasa rumah ini sepi sejak Raka dan Riky di Jogja!"


"Nanti kalau Mbak Salwa nikah pasti juga rame, Bun!" Jawab Salman, santai.


"Hem... anak itu belum mau pulang juga! Apa aku bawa pulang paksa saja ya?"


"Ayah, kenapa Ayah ngotot banget sih mau nikahin Mbak Salwa sama si Duda itu? Ayah nggak lagi punya hutang sama dia, kan?"


"Iya, Ayah memang punya hutang, tapi sama Kakeknya!"


"Astaga, Ayah! Tega sekali mau menukar anak dengan hutang!"


Haris memukul punggung Salman dengan buku yang dia pegang.


"Dasar mulut cabe-cabean! Kamu pikir Ayahmu ini tidak sanggup kalau cuma bayar hutang?"


"Lha, terus itu apa? Buktinya Ayah mau menikahkan Mbak Salwa sama si Duda itu cuma untuk menutupi hutang! Apa Ayah sudah bangkrut?"


"Suatu saat kamu pasti akan tahu! Dan kamu tentu sudah kenal Ayahmu ini seperti apa! Sudah sana kalau memang mau pulang! Lihat anak-anakmu sudah mengantuk!"


Tidak mau perdebatan semakin panjang. Naila pun mengajak suaminya untuk pulang.


Sampai di rumah, ketiga anak mereka tidur. Salman menggendong satu persatu anaknya dan dibaringkan di tempat tidur masing-masing. Ajeng belum tidur karena menunggu kedatangan mereka. Dhani pun masih mengerjakan PR menemani Ajeng di ruang keluarga.


"Kok belum tidur, Bu? Dhani juga!"


"Ibu nunggu kalian! Dhani nemenin sambil bikin PR! Lagian belum ngantuk juga!"


"Ini donat, Bu!"


"Iya makasih, Nai!"


"Sama-sama, Bu! Kami istirahat dulu ya?"


"Iya, sana tidur!"


Salman dan Naila pergi ke kamarnya. Setelah melakukan shalat isya', mereka beristirahat. Namun di pertengahan malam Naila terbangun.


"By, bangun!" Naila menggoyang lengan suaminya.

__ADS_1


"Hem..."


"Ayo bangun, By!"


"Kenapa, Mi?"


"Aku mimpi maka nasi goreng ikan asin, By!"


"Hem...terus?"


"Pingin, By!"


"Pingin apa? Bercinta?"


"Ish, pingin nasi goreng kayak di mimpiku, By! Layaknya enak banget deh!"


Salman bangun dan duduk mensejajarkan diri dengan istrinya.


"Nggak ada orang jual nasi goreng kalau tengah malem gini, My!"


"Kalau nggak ada yang jual, bikinin deh!"


"Waduh, siapa yang bikin?"


"Kamu, By! Ini kan, anakmu!"


"Ada-ada saja!"


"Mau ya, By? Nanti ikan asinnya minta punya Bi Kokom, biasanya dia nyimpen ikan asin."


Salman menggaruk kepalanya dengan kedua tangannya. Nampak ia seperti orang yang frustasi.


"Ya sudah, baiklah! Demi anakku!"


"Sayangnya cuma sama anaknya, By?" Naila memanyunkan bibirnya.


"Eh, tidak... tidak! Maaf diralat, demi kalianku! Emmuah..." Salman mengecup kening sang istri.


Masak pun dimulai. Naila dan Salman mencari tempat persembunyian tempat asin. Mereka tidak ingin membangunkan Bi Kokom hanya karena ikan asin.


"Nah, ketemu!" Ujar Salman, setelah meraba laci dapur bagian atas.


Naila duduk di meja makan menunggu suaminya memasak. 10 menit kemudian, nasi goreng ikan asin pun jadi.


"Selamat menikmati, Ratuku!" Ujar Salman, gayanya seperti seorang pelayan di restoran.


"Terima kasih, Rajaku!"


"Ish, nggak ada raja pake celemek kayak aku gini!"


Naila tersenyum melihat ekspresi suaminya.


Ia mulai menyantap nasi goreng tersebut. Salman pun ikut menyicipi masakannya.


"Jangan banyak-banyak, By! Ini punyaku!Lagian tadi kenapa kok nggak masak banyak?"


"Kan, sisa nasi puthnya tinggal dikit tadi! Ya sudah, makanlah! Aku cuma ngicipin, ternyata enak juga ya, Mi?"


Naila hnya memberikan jempolnya kepada Salman, tanda bahwa masakannya memang enak.


Bersambung...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


See you again...


__ADS_2