Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Janda tapi gadis


__ADS_3

Salman tidak perduli dengan perkataan Naila. Ia mendadak tuli saat ini. Joni sudah berada di ambang pintu. Rasanya Joni kesulitan untuk masuk. Salman menekan perlahan, dan mengulang berkali-kali. Sampai akhirnya Joni berhasil menerobos lorong itu. Naila memekik, seperti ada sesuatu yang sobek. Sekuat tenaga ia menahan sakit. Namun air matanya luruh juga.


"Sayang, kamu sakit?"


Naila hanya mengangguk tanpa suara.


"Maaf, aku terlalu bersemangat! Setelah ini aku janji akan pelan!"


Salman melanjutkan permainannya. Keduanya mulai menikmati ritme yang suling untuk digambarkan. Hingga akhirnya puncak kenik*atan mereka raih bersama. Salman membaca do'a sebelum akhirnya ia ambruk di samping Naila.


Beberapa menit kemudian, Salman beranjak ke kamar mandi hendak membersihkan si Joni. Ia melihat ada darah yang nempel di ujung si Joni. Buru-buru ia bersihkan dan segera keluar dari kamar mandi.


"Shhh...." Naila meringis kesakitan.


"Sayang, kamu masih haid?"


"Tidak, aku sudah suci, By! Kalau tidak, mana mungkin aku shalat?"


"Tapi ada darah yang menempel di..."


Naila gigit jari, ia malu hendak menjelaskan sesuatu kepada suaminya.


Buru-buru Salman membuka HP dan mencari keterangan di Mbah Google.


"Sayang, maaf jika aku menyinggung pwrasaanmu! Tapi aku ingin memastikan, jawab dengan jujur! Apa kamu belum berhubungan suami istri dengan Adit?"


Naila hanya menggelengkan kepala.


"Masyaallah... Alhamdulillah...! Pantas saja kamu sangat takut berhadapan dengan si Joni!" Seketika Salman menci*m seluruh wajah Naila. Kemudian ia mengelus perut Naila yang rata.


"Semoga anak kita segera tumbuh di rahimmu, Sayang."


"Amiin...."


Dengan menahan Perih di bawah perutnya, ia melangkah ke kamar mandi untuk buang air kecil. Kemudian mereka-pun akhirnya tidur dengan lelap.


Hampir adzan subuh, Naila terbangun. Saat akan beranjak dari tempat tidur Naila merasakan perih di bagian bawahnya. Salman yang mendengar rintihan Naila pun terbangun.


"Sayang, kenapa?"


"Nggak pa-pa! Hanya perih."


"Maaf sudah membuatmu sakit!"


"Nggak pa-pa katanya wajar bagi pengantin baru." Ujar Naila disertai senyuman.


"Biar lebih wajar, seharusnya diulang lagi! Biar terbiasa dan perihnya hilang?"


"Memang begitu, By?" Tanya Naila dengan polosnya.


"Iyaa, ayo dicoba dulu!"

__ADS_1


Salman tidak menyia-nyiakan kesempatan. Si Joni yang sudah tegang sedari tadi ingin masuk ke lorong kembali. Dengan rayuannya, Salman bisa menaklukkan Naila kembali. Kali ini dimulai dengan ciuman mautnya yang ia mulai dari wajah turun ke tengkuk turun ke dada. Dan tidak lupa ia ciptakan stempel kepemilikan di area dada Naila. Naila mulai terlena, hasratnya sudah di ubun- ubun. Dan terjadilah pergelutan sengit antara keduanya. Cukup lama Si Joni menyelam, hingga akhirnya mencapai kenik*atan.


Usai mereka merenggut nikmatnya belah duren susulan, adzan Shubuh pun berkumandang. Lima menit kemudian Salman masuk ke kamar mandi terlebih dahulu, lalu disusul Naila. Kemudian mereka Shalat Shubuh berjamaah'ah. Salman mengajak Naila untuk mengaji bersama sebentar. Meski Naila belum terlalu paham dengan tajwid, namun Salman yang sudah cukup paham dengan tajwid, bisa membimbing Naila mengaji.


"Shodaqallahul 'adzim."


Setelah mengaji, mereka joging bersama mengelilingi komplek perumahan AS Residense. Sampai di komplek perumahan KPR.


"Hai, Dek Salman! Katanya udah nikah, tapi nggak undang-undang kami?" Ujar salah satu Ibu-Ibu komplek yang usianya sepantar dengan Bundanya.


"Iya, Bu! Karena kami menikahnya di Surabaya. Cukup do'anya saja l, Bu! Oh iya perkenalan ini istri saya Bu, namanya Naila."


"Naila." Ujar Naila tersenyum, mencium punggung tangan Ibu tersebut.


"Panggil saja Bu Endang, Dek Naila. Sudah cantik, sopan, top pokoknya!" Puji Bu Endang.


Muncul satu orang lagi dari dalam rumahnya.


"Bos Salman, nggak nyangka masih muda udah nikah saja! Tadinya Ibu jodohin sama anak Ibu, Lho! Tapi ternyata duluan orang! Nggak jadi punya menantu mapan, haha...."


Naila dan Salman tersenyum mendengar gelagat Ibu tersebut.


"Bu Ida, perkenalkan istri saya namanya Naila!"


Naila mencium punggung tangan Ibu Ida.


"Saya, Bu Ida! Dek Naila kalau butuh sesuatu atau kekurangan bumbu, bisa kok minta ke saya."


Mereka melanjutkan lari pagi keliling komplek perumahan Elit.


"Hubby mereka lucu ya? Kenapa mereka bisa kenal dengan kamu? Padahal kan, perumahan ini belum lama diresmikan katanya?"


Salman tersenyum mendengar ucapan sang istri. Ia memang belum menceritakan segala hal tentang pekerjaan dan aset miliknya.


"Hubby, kenapa cuma dikasih senyuman? Pertanyaannya tidak dijawab!"


"Kamu maunya dikasih apa, Sayang? Seperti tadi malam, atau tadi pagi?" Ujar Salman menyeringai dengan gaya tengilnya.


"Hubby...!" Saat Naila ingin memukul Salman, Salman lari menghindar. Terjadilah kejar-kejaran antara mereka.


Akhirnya keduanya sampai di rumah.


"Sayang buatkan susu rasa coklat ya!"


"Siap!"


Lima menit kemudian Naila kembali dari dapur membawa dua gelas susu untuknya dan Salman.


"Ini susunya, By!"


"Makasih, sayang!"

__ADS_1


Setelah dirasa hangat, Salman meminumnya.


"Hmm... kenapa rasanya beda ya?"


"Kenapa, nggak enak? Kurang kental?"


"Tidak, tidak! Mungkin aku sudah keracunan susu yang lain!"


"Maksudnya?"


"Susu Cap Nona!" Salman menyeringai menatap benda yang ia maksud.


Naila yang baru faham maksud suaminya, tersedak minumannya sendiri.


"Uhuk uhuk...Hubby! Kenapa ucapanmu jadi absurd?"


"Karena aku tergila-gila padamu."


"Ish! Nggak nyambung!"


"Sayang, kamu mau bulan madu ke mana? Tapi tunggu kamu libur kuliah."


"Hemm..Terserah kamu saja! Tidak usah jauh-jauh! Jalan kita masih panjang, mending uangnya buat ditabung saja!"


"Uang tabungan sudah cukup kok! Kamu tidak perlu pikirkan itu! Biaya kuliahmu juga sudah aku sisihkan."


"Aku penasaran, sebenarnya sekaya apa suamiku ini? Selain menjadi seorang motivator, pemilik distro dan toko bunga, apa lagi yang kamu belum ceritakan kepadaku?"


"Oke, dengarkan aku baik-baik! Perumahan ini milikku."


"Iya aku tahu, kalau rumah ini milikmu!"


"Bukan rumah, tapi semua unit perumahan AS Residense ini adalah propertiku yang 80% sudah teejual dan 70% sudah berpenghuni."


"Serius?"


"Iya serius, Sayang! Semua itu adalah warisan dari Ayah. Tapi kalu toko bunga dan distro aku sendiri yang merintis dari awal. Dan proyek yang baru ini, proyek perumahan yang akan dibangun oleh salah satu temannya Ayah. Dia memintaku untuk mengelolanya sementara. Karena orangnya sedang berada di Luar Negeri. Dan satu lagi yang perlu kamu ketahui, nama AS yang aku buat untuk nama toko bunga dan perumahan ini adalah singkatan dari nama kita. A itu Anindita, dan S itu Salman."


"Aku nggak percaya, By!" Naila menggelengkan kepala, tidak yakin.


"Ya sudah kalau tidak percaya! Yang penting aku percaya kalau kamu janda tapi masih gadis!"


"Hubby....! "


"Benar, kan? Alangkah beruntungnya aku!" Ujar Salman menyombongkan diri. Naila tidak ingin berdebat lagi dengan suaminya. Ia memilih untuk pergi ke dapur masak untuk sarapan pagi mereka.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yaelah Salman pake nanya sakit apa nggak🤣

__ADS_1


See you again 😍


__ADS_2