Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Saling mengagumi


__ADS_3

Malam ini adalah acara resepsi pernikahan kedua kakak beradik Freya dan Naila. Sejak sore hari setelah akad nikah Freya usai, mereka sudah berada di hotel.


Ada sekitar 1000 undangan yang hadir malam ini. Acara berlagsug dengan cukup meriah. Rendy dan Rindi menemani sang putra di atas pelaminan, begitupula Raisya dan Haris. Faisal meminta orang tuanya yang mendampingi kedua putrinya. Setelah tamu undangan mulai pergi satu persatu. Para orang tua turun dari atas pelaminan.


"Selamat ya, Rai! Udah punya mantu, bentar lagi punya cucu nih!" Ujar Putri yang datang terlambat.


"Makasih, Put! Ayo makan-makan dulu! Kamu sendirian? Rio nggak ikut?"


"Mana mau dia ikut emaknya ke kondangan!"


"Sini aku kenalin sama besanku!" Raisya menarik tangan Putri.


"Mas Faisal!" Panggil Raisya.


"Iya, Rai!"


"Perkembangan ini temanku, namanya Putri."


Putri dan Faisal saling tatap, sejenak kemudian mereka tersenyum.


"Mas Faisal? Jadi putrimu yang menjadi menantunya Raisya?"


"Iya, Put!"


"Kalian sudah saling kenal?"


"Iya sudah, Rai! Ceritanya panjang! Selamat ta Mas, semoga pernikahan mereka langgeng. Katanya yang menikah dua?"


"Iya, Put! Dua-duanya putri Mas Faisal . Yang satunya berjodoh dengan Salman. Yang satunya berjodoh dengan Alfan, anaknya Mbak Rindi." Raisya menimpali.


"Masyaallah, keren sekali! Jodoh mereka dekat berarti."


"Ayo, Put! Makan dulu!"


Raisya membawa Putri ke tempat hidangan. Raisya mengambilkan beberapa lauk untuk Putri. Kemudian mereka duduk di kursi.


"Rai, kok aku nggak asing ya sama Mas Faisal itu? Seperti ada di memoriku!" Raisya tersenyum mendengar ungkapan sahabatnya itu.


Diam-diam Putri memperhatikan Faisal.


"Jangan membahasnya saat ada suamiku! Dia bisa cemburu!" Jawab Raisya.


"Tunggu... tunggu! Aku baru ingat sekarang! Dia itu mantanmu, iya kan?"


"Ssstt... jangan keras-keras! Malu didengar orang!"


"Ah.. ternyata dunia selebar daun kelor!"


Acara resepsi telah usai. Baik Naila maupun Freya, mereka tidak mau menginap di hotel. Freya akan pulang ke rumah Kakek dan Neneknya. Sedangkan Naila, akan pulang ke rumah Ayahnya.


Sedari tadi Naila menahan sakit perut. Sesekali ia meringis saat orang lain tidak melihatnya.

__ADS_1


Jam 11 malam, Naila sudah berada di rumah. Tentu di rumah Faisal sepi. Karena acara dilakukan di rumah orang tuanya. Naila masuk ke kamarnya tanpa mengajak Salman. Dia sudah tidak bisa menahan sakit perutnya.


"Lho, nak Salman! Kenapa masih di sini, kemana Naila?"


"Tadi dia langsung lari katanya mau ke kamar, Yah."


"Oh.. mungkin dia lupa! Itu kamar Naila, di pojokan sana! Masuklah! Kamu pasti sudah capek dan mengantuk."


"Iya, Yah! Kalau begitu, saya masuk dulu!"


Salman pergi ke kamar Naila membawa barang bawaannya, sesuai petunjuk mertuanya. Kebetulan sekali, kamarnya tidak dikunci. Iya sebenarnya ragu untuk masuk, tapi karena ia kebelet pipis, jadi dia tetap masuk ke dalam kamar.


Dia hanya melihat jilbab hitam Naila yang tergeletak di atas kasur. Terdengar suara dari dalam kamar mandi Naila. Salman menunggu Naila keluar dari sana.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Naila muncul dari sana. Ia belum menyadari ada,seseorang di dalam kamar.


"Boleh, aku numpang kamar mandinya?" Ujar Salman.


Sontak Naila terkejut dan menjadi salah tingkah. Karena pertama kalinya ia tidak menutup kepalanya di depan Salman.


"Kamu bikin kaget saja!"


"Ya, maaf! Habis kamu tega banget sih! Ninggalin suami sendiri! Dosa lho!"


"Iya maaf! Tadi aku tidak tahan, rasanya sakit sekali!"


"Nin... Nindi!"


"Iya! Ada apa?"


"Tolong ambilkan kaos dan sarungku di tas itu!"


Naila mengikuti perintah suaminya.


"Ini!"


Setelah beberapa saat kemudian, Salman keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan wajah yang fresh.


"Kamu nggak mandi, Nin?"


"Nggak ah! Dingin!"


"Nggak mau shalat?"


"Em... tadi aku sakit perut! Ternyata lagi dapet!"


"Dapet apa?"


"Dapet tamu bulanan!" Jawab Naila menahan malu.

__ADS_1


"Oh..." Salman hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengerti istilah itu, karena sering mendengar dari Bunda dan saudara perempuannya .


Setelah shalat, Salman naik ke atas tempat tidur. Di sana sudah ada Naila yang sedang membalas chat dari Farah. Farah langsung kembali ke Jogja bersama kekasihnya dan juga Sopirnya.


"Nin..."


"Hem..."


"Kenapa kamu pakai lagi jilbabmu? Kamu tidak nyaman?"


"Bu-bukan begitu, aku hanya belum terbiasa!"


"Mulai sekarang, tolong dibiasakan! Kita sudah suami istri! Jangankan melihatmu tanpa jilbab, melihatmu tanpa baju-pun sudah halal bagiku!" Ujar Salman dengan gaya tengilnya. Mirip sekali dengan sang Ayah.


Naila hanya tercengang mendengarkan ucapan sang suami.


"Kamu jangan khawatir, Nin! Aku tidak akan macam-macam atau meminta hakku! Sebelum kamu siap! Aku sadar, pernikahan kita tidak didasari cinta. Kita akan tetap seperti teman."


"Terima kasih." Ujar Naila singkat, kemudian ia melepas jilbabnya. Rambutnya yang dicemol sembarangan itu membuat leher putihnya terpampang dengan nyata. Salman hanya busa menelan salivanya sendiri.


"Tidurlah! Kamu pasti capek dan ngantuk! Kalau kamu tidak nyaman aku tidur di sini, aku akan tidur di lantai saja!"


"Ti-tidak usah! Aku tidak apa-apa! Selamat tidur!"


Akhirnya mereka tidur dengan bertindak arah.


POV Naila


Aku tidak menyangka akan menikah dengan Salman. Laki-laki yang selama ini selalu kusebut dalam do'aku. Sejak bertunangan dengannya, aku menjadi malu jika berhadapan dengannya. Apalagi saat ini dia sudah resmi menjadi suamiku. Sebisa mungkin aku mengontrol diri dan sikapku. Aku berusaha biasa-biasa saja di depannya. Namun kenyataannya dia membuatku deg-deg-an. Seperti saat ini kami sedang tidur di kamar yang sama bahkan tempat tidur yang sama. Seandainya dia memiliki perasaan yang sama denganku, tentu aku akan sangat bahagia.


POV Salman


Akhirnya aku dan Nindi resmi menjadi suami istri. Baru malam ini aku melihatnya tanpa penutup kepala. Terakhir aku melihatnya begitu, ketika kami SD dulu. Dulu dia memang cantikk dan imut. Sekarang lebih cantik, dewasa, dan gemesin pengen banget nyium. Tapi tidak bisa gegabah seperti itu. Karena aku harus memastikan perasaannya kepadaku. Aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman jika bersamaku. Sepertinya dia masih grogi jika berhadapan denganku. Aku harus bisa menahan diri. Lagipula saat ini dia sedang datang bulan. Sabar... sabar.


-


Mereka berdua terlelap dalam mimpi yang indah. Hingga tidak tidak terasa, keduanya saling berpelukan. Guling yang menjadi pembatas jatuh ke lantai. Naila terbangun karena alarm HP-nya berbunyi. Ia mengerjakan matanya perlahan. Baru ia sadar kalau yang dia peluk adalah Salman.


Naila melihat wajah sang suami yang sangat damai dalam tidurnya. Dia tersenyum memperhatikan orang yang dia cintai berada sangat dekat di depannya. Saat Naila melihat pergerakan dari Salman dia langsung pura-pura pejamkan mata.


Salman terbangun karena bunyi alarm Naila yang belum dimatikan. Ia tercengang saat melihat wajah Naila berada hanya berjarak 5 centi depannya. Salman tersenyum memperhatikan wajah sang istri yang begitu cantik meski sedang tidur.


Bersambung......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tunggu keuwuan Salman dan Naila ya kak


Terima kasih selalu mensupport karyaku


See you again...

__ADS_1


__ADS_2