
Tiga hari berlalu. Naila sedang tidak enak makan, karena memikirkan Salman. Setelah pertemuan mereka malam itu, tidak ada kabar dari Salman. Satu-dua hari tidak ada kabar, Naila masih menyangka Salman sibuk. Namun di hari ketiga ini, Naila menjadi galau.
Saat ini Naila di kamar kost-an. Libur kuliah bukan dihabiskannya jalan-jalan atau hang out bersama teman-temannya. Dia memilih diam di kamar dan menyibukkan diri membersihkan kamarnya. Naila sedang mengepel, dan tak ketinggalan earphone melekat di telinganya. Ia menyetel musik sholawat.
Tok...
Tok...
Tok...
Ada suara ketukan pintu, ia berharap yang mengetuk pintu adalah penjaga kost-an yang akan memberitahu bahwa ada tamu laki-laki (Salman) yang mencarinya.
Namun ketika pintu dibuka, tamu langsung nyelonong masuk.
"Farah.."
"Iya, aku! Emang kamu kira aku siapa? Malaikat?"
"Ah, tidak... awas hati-hati! Aku habis ngepel.
Farah langsung duduk bersila si atas tempat tidur Naila.
"Kamu sudah sarapan, Nai?"
"Belum... lagi malas."
"Sok-sok-an bilang malas, kena asam lambung baru tahu rasa!"
"Kok malah dido'ain yang jelek sih!"
"Makanya makan! Nih aku beli nasi liwet tadi, ayo makan!"
Naila menggelengkan kepala.
Farah tidak kehilangan akal, dia membuka bungkus nasi lalu makan dengan lahao, berharap Naila tergiur melihatnya. Namun Naila sama, sekali tidak tergoda.
"Nai, kamu masih mikirin Salman?"
Naila mengangguk.
"Laki-laki sekarang itu jangan terlalu diharapin, Nai! Apalagi kalian cuma berteman, kamu nggak tahu kan? Mungkin saja dia sudah punya pacar. Terus pacarnya melarang dia buat temuin kamu."
"Ada benarnya juga kata Farah. Cowok setampan dan sepintar Salman, tidak mungkin jomblo." Gumam Naila dalam hati.
"Kalau kamu nggak makan, rugi sendiri. Ayo cepat makan! Kalau kamu sakit, kasihan Ayahmu."
Mengingat Sang Ayah, Naila tersadar.
"Ah iya! Kamu benar! Sini nasinya!"
Naila memakan nasinya, meski tidak banyak.
"Makanya, Nai! Kalau cinta, ngomong! Jangan dipendam!"
"Huft... aku takut hanya bertepuk sebelah tangan, Far! Dan lagian aku belum boleh pacaran sama Ayah."
"Iya-iya....percaya! Anak Ayah!"
Mereka melanjutkan obrolan sambil nonton film Korea. Naila sedikit terhibur, dengan adanya Farah yang menemaninya hari ini.
Keesokan harinya, di Kampus.
Saat duduk di gazebo kampus dengan Farah dan Dikta. Naila melihat Caca yang berjalan menuju kantin. Buru-buru Naila mengejar Caca.
__ADS_1
"Caca..! Maaf kamu Caca, kan?"
Caca dan temannya menghentikan langkahnya.
"Hem..iya aku Caca, kenapa?" Jawab Caca, ketus.
"Kamu saudaranya Salman, Kan? Waktu lalu aku melihatmu bersamanya."
"Iya, Bang Salman saudaraku, ada apa?"
"Maaf kalau boleh tahu, kemana Salman?"
"Bang Salman sudah pulang, dia akan bertunangan." Kata Caca, bohong.
deg...
Jantung Naila seakan copot mendengar kabar dari Caca. Tadinya dia ingin minta nomor Salman, namun dia urungkan.
"Oh.. begitu, ya?"
"Iya, Bang Salma sangat mencintai calon tunangannya. Jadi jangan harap kamu bisa mendekatinya. Sudah cukup pertanyaannya?"
"I-iya, terima kasih."
Caca tidak menanggapi Naila. Ia pergi begitu saja dengan temannya.
Naia berjalan dengan gontai. Saat ini hatinya hancur berkeping-keping. Selama ini dia tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada siapa-pun selain Salman. Dalam setiap do'anya dia menyelipkan nama Salman. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Tidak, Nai! Jangan menangis! Kamu harus kuat! Ini hanya soal waktu. Ditinggal Ibu selama bertahun-tahun kamu kuat, apalagi hanya soal cintamu yang tidak pernah dia tahu. Ya Alkah apa ini akhir dari kisah cintaku kepadanya?" Naila menguatkan hatinya sendiri.
"Nai...!" Farah memanggilnya.
"Kamu ngapain ngejar junior kita itu?"
"Ah tidak ada apa-apa, cuma tanya soal buku." Jawab Naila, bohong.
Dua hari sudah Salman pulang ke Kotanya. Saat menunggu Riky di ruang ICU dalam keadaan lemah tak berdaya, dia berusaha menghibur Bundanya. Salman tahu, orang tuanya kini sangat takut kehilangan. Sudah dua hari Riky koma.
Salman keluar dati ruang ICU, diganti oleh Ayahnya. Sang Bunda kini duduk di kursi tunggu dekat ruang ICU.
"Bunda belum makan seharian ini, makan yuk!"
"Mana bisa Bunda enak makan, kalau Riky belum sadar juga?"
"Kalau Bunda sakit, nanti Riky kalau bangun cari Bunda gimana?"
"Kamu do'ain Bunda sakit?"
"Bukan gitu maksudku, Bund! Bunda itu punya penyakit tipus, kalau Bunda nggak makan bisa saja tipusnya kambuh. Kasihan juga Ayuni, dia masih butuh perhatian Bunda."
"Kamu sudah kasih tahu Mbakmu, Man?"
"Aku sudah telpon Mbak Salwa tadi malam. Aku bilang sama dia, fokus saja sama kuliahnya. Apalagi dia baru masuk."
"Ayo Bunda makan! Apa perlu Salman yang suapin."
"Kamu itu, Man! Nggak deh, Bunda busa makan sendiri." Bunda tersenyum sesaat.
Melihat senyum Bundanya, ia jadi teringat kepada Naila.
"Ya Tuhan, aku sampai lupa tidak mengabari Nindi. Ah sial! Aku kan tidak minta nomornya! Padahal aku sudah bilang akan main ke kost-annya, dia pasti nungguin aku." Gumam Salman dalam hati.
"Salman, kamu kenapa? Makan kok ngelamun?"
__ADS_1
"Nggak pa-pa, Bund! Aku hanya ingat seseorang."
"Siapa?"
"Orang yang selalu kusebut dalam do'aku, Bund."
"Kamu punya pacar?"
"Nggak kok, Bund."
"Awas ya, jangan pacaran! Jangan ngerusak anak orang! Kalau mau, langsung nikah saja! Jangan nambahin dosa orang tua!"
"Iya Bundaku sayang! Kan Bunda sendiri yang bilang, kalau mencintai seseorang itu, rayu Tuhannya. Jadi aku sedang berusaha meminta kepada Sang Pencipta."
"Syukurlah, Bunda berharap anak-anakku kelak mendapatkan jodoh yang terbaik. Dan tudak ada yang mengalami sepeeri Bubda, cukup menikah hanya sekali seumur hidup."
"Belum apa-apa sudah dapat ceramah agama, nggak jadi cerita deh!" Gumam Salman dalam hati.
Salman tidak kehilangan akal, dia menelpon Caca. Meminta untuk menyampaikan pesan kepada Naila.
"Hallo, Abang!"
"Salam dulu, Ca! Kamu itu kebiasaan!"
"Iya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Abang kangen sama aku ya?"
"Iya, kangen karena kamu cerewet! Abang mau minta tolong, boleh?"
"Tentu boleh, apa sih yang nggak buat Abang?"
"Tolong kamu cari yang namanya Naila Anindita smester 4 jurusan Manajemen. Tolong sampaikan salam maaf dariku dan minta nomor telponnya. Abang ada perlu, penting!"
"Emang dia siapa, Bang?" Tanya Caca penasaran.
"Dia teman Abang."
"Teman apa teman?"
"Sudah, nggak usah banyak tanya, Ca! Lakukan saja yang Abang suruh, nanti Abang kasih imbalan."
"Ya, ya... "
"Ya sudah, terima kasih! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Flash Back Off
Di sepanjang perjalanan pulang ke kost-an Naila tidak fokus. Sampai-sampai ia hampir saja ditabrak sepeda motor.
"Woi! Mbak! Jalannya minggir dong! Ini jalan raya, bukan jalan Nenek Moyang Lho!"
Naila tersentak, dia tidak menanggapi pengendara motor itu. Karena motor itu sudah melaju cepat.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yang belu baca novel Ketegara Hati Raisya, mmpir yuk! Itu novel ceritanya orang tua Salman dan orang tua Naila, dijamin seperti kehidupan nyata.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir ke sini. Jangn lupa untuk support karyaku kakak🙏🏻🙏🏻🙏🏻
See you again...