
Dengan terpaksa Faisal meminta tolong suster untuk menyuapi Putri. Dia tidak ingin disangka mengambil kesempatan dalam kesempitan, karena niatnya murni untuk menolong. Setelah selesai menyuapi Putri, Suster keluar dari kamar itu.
"Mas Faisal, kalau kamu mau pergi kerja, tinggalkan saja! Saya tidak apa-apa sendirian."
"Maaf kalau saya lancang, kemana suamimu? Kenapa dari semalam kamu tidak menyinggung sama sekali?"
Putri tertunduk, tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
"Maaf-maaf, kalau kamu keberatan, tidak usah dijawab! Saya tidak bermaksud untuk...."
"Dia sudah meninggal saat putraku masih di dalam kandungan."
"Inna lillahi wainna ilaihi raji'un! Maaf saya tidak tahu."
"Tidak apa, Mas! Saya hanya sedikit ingat. Mungkin kalau dia masih ada, dia akan menemaniku di sini."
"Kalau boleh tahu, suamimu meninggal karena apa?"
"Kecelakaan tunggal, dia mengantuk saat mengendarai motor, kemudian menabrak tiang listrik. Maklum, dia bekerja di proyek, jadi pulang larut malam bahkan sampai pagi. Untung saja masih bisa bekerja untuk membiayai hidup kami. Eh, kok malah jadi curhat!"
"Tidak apa, semoga dia tenang di sana. Kalau begitu, saya pamit dulu. Saya mau ke pabrik, ada barang yang akan datang. Buahnya sudah saya kupas, kamu makan saja nanti kalau merasa lapar lagi."
"Terima kasih banyak, Mas. Saya tidak tahu mau bilang apa lagi sama kamu. Semoga Allah membalas kebaikanmu, Mas."
"Amiin, aku berangkat dulu! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Tiga hari berlalu.
Karena kesibukannya dalam memasarkan perumahan miliknya, Salman tidak sempat untuk menemui Naila. Banyak hal yang harus dia lakukan, sampai malam-pun dia tetap berpacu dengan HP dan laptopnya.
Naila sedang melayani pelanggan di Cafe. Namun dia melakukan kesalahan karena menumpahkan minuman.
"Bisa kerja nggak, Mbak?" Ujar seorang perempuan yang minumannya ditumpahkan Naila.
"Maaf- maaf kakak, saya tidak sengaja!" Sesal Naila.
"Sudah sayang, nggak pa-pa lagian nggak kena bajumu kok!" Teman lelakinya menimpali.
"Saya akan ganti minumannya, Kak." Ujar Naila.
"Seharusnya memang begitu!" Kata perempuan itu, ketus.
Naila kembali ke pantry dan membuat minumannya lagi. Setelah itu dia bersantai, karena belum ada pengunjung lagi.
"Nai, kamu kenapa sih? Beberapa hari ini kamu sepertinya nggak fokus! Kerjanya berantakan! Why?" Tanya Fina penasaran.
"Entahlah! Aku hanya banyak pikiran, mungkin."
"Apa kamu memikirkan laki-laki yang waktu lalu ke sini?"
"Ah, nggak! Siapa juga yang mikirin dia!"
"Cie... kelihatan bohongnya! Nai, awas nyesel lho!"
__ADS_1
"Ada pelanggan tuh! Aku ke sana dulu!"
Naila melanjutkan kembali pekerjaannya.
Jam 23.00 cafe tutup, Naila biasanya pulang diantar Faris. Namu kali ini dia menolak untuk diantar, karena kemarin dia baru dilabrak tunangannya Faris. Safira cemburu dan menvurigai Naila. Tidak ingin urusannya menjadi panjang, Naila merahasiakan masalah itu dari siapapun. Bahkan kepada Farah sekalipun. Masih teringat kata-kata Safira yang sangat pedas di telinga dan hatinya. Belum usai dia berdamai dengan masa lalunya yang menyakitkan. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Sebenarnya Ayahnya bukan tidak mampu membiayai kuliahnya, nun Naila belum bisa jujur perihal pencabutan beasiswanya. Jadi dia tidak mau meminta uang lebih dari biasanya.
"Ayo, Nai!" Ajak Faris.
"Kak, saya ikut Fina saja!"
"Bukannya Fina tidak searah sama kamu? Dan lagian malam-malam begini tidak baik naik motor."
"Kebetulan Fina mau nginep di kost-anku, Kak! Dan aku sudah biasa naik motor malam-malam kok, Kak." Kata Naila, bohong.
"Ya sudah, hati-hati! Kalau ada apa-apa denganmu, pasti Farah ngomelin aku."
"Iya Kak, terima kasih."
Faris meninggalkan Cafe terlebih dahulu. Kunci cafe biasanya dibawa Toni, kepala karyawan cafe.
"Ayo, Nai! Naik!" Ajak Fina.
"Fin, tadi aku cuma bercanda! Aku bisa naik taksi."
"Kamu gila ya? Ini udah malam, Nai! Ayo aku antar."
"Justru aku masih waras, Fin! Kita beda arah! Lagian aku tahu kamu nggak mungkin mau nginap di kost-aku! Kamu kan....
"Nindi!" Terdengar suara seseorang yang Naila rindukan.
"Tapi, Fin!"
"Sudahlah, kamu selesaikan dulu masalah kalian! Aku tahu kamu nggak fokus pasti gara-gara mikirin dia. Aku yakin dia orang baik, aku pergi dulu!"
Naila menjadi salah tingkah. Dia belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"Kamu mau pulang, Nin?"
"Hem." Jawab Naila, singkat.
"Ayo naiklah!"
"Ti-tidak usah! Aku akan naik taksi!"
"Jangan menghindar lagi, Nin! Aku sudah capek main kucing-kucingan! Ayo naiklah ke mobil!"
"Tapi..."
"Apa harus aku gendong?"
"Ti-tidak perlu!" Naila melangkah terbirit-birit menuju mobil Salman.
Salman menyeringai. Perkataannya tentu tidak serius. Dia hanya tidak ingin terlihat memaksa Naila.Meski sebenarnya caranya itu cenderung mengancam.
Salman masuk ke dalam mobilnya. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Salman menoleh ke arah Naila. Naila hanya diam seribu bahasa. Angin sepoi-sepoi yang masuk dari luar membuat Naila mulai menguap. Salman memang sengaja tidak menghidupkan AC, dia lebih suka membuka jendela mobilnya.
__ADS_1
"Nai, bukannya di kost-mu tidak boleh keluar lebih dari jam 9?"
"Aku minta pengecualian, Bude mengerti!"
"Kenapa kamu kerja? Maaf maksudku kenapa harus kerja malam?"
"Sengaja, biar sorenya bisa istirahat! Kan, aku kuliahnya pagi atau siang." Jawab Naila, melemah.
"Tapi nggak semalam ini juga, Nin! Kamu ke-su-li-tan...?"
Rupanya Naila sudah tertidur. Salman hanya bisa menghela nafas berat.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu, Nin? Kamu sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Apa aku harus menculikmu?" Batin Salman di dalam hati. Sekilas dia memandang wajah Naila yang nampak kelelahan. Sengaja salman mengambil HP Naila dari tangannya. Dia melakukan panggilan ke nomornya sendiri dari HP Naila. Setelah itu dia kembalikan lagi HP Naila ke atas pangkuannya.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di kost Naila.
"Nin, Nindi! Bangun sudah sampai."
"Hmm..."
"Ayo bangun, Nin? Atau mau aku bawa kabur?"
"Hah! Sudah sampai? Aku tertidur?"
"Iya, bahkan kamu mengigau."
"Masa sih?"
"Iya, nggak percaya?
"Ngigau gimana?"
"Ngigau namaku! Haha.. bercanda! Sudah sana masuk, apa perlu aku bukain pintunya?" goda Salman.
"Tidak usah aku bisa sendiri, terima kasih!"
"Kembali kasih." jawab Salman dengan senyum manisnya.
"Meski jutek, masih terlihat cantik Nai!"
Setelah Naila masuk ke dalam, Salman melajukan mobilnya kembali menuju perumahan.
Jam 12 malam Salman sampai di perumahan.
Naila senyum-senyum sendiri di atas tempat tidurnya. Dia sangat bahagia bisa bertemu dengan Salman malm ini. Namun senyumnya memudar saat dia ingat statusnya dan status Salman.
"Ini tidak boleh berlanjut. Aju tidak mau dilabrak lagi seperti Mbak Safira melabrakku. Ya Allah.... tolong jauhkan aku dengan Salman jika dia bukan jodohku." Batin Naila dalam hati, sebelum akhirnya dia memejamkan mata dan bermimpi.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa kasih support untu aku ya Kakak readers
Terima kasih sudah mampir di karya keduaku
__ADS_1
See you again....