
Tiga hari berlalu, kehidupan mereka berjalan aman dan tentram. Saat ini Naila dan Salman menginap di rumah orang tua Salman.Meski sedang berlibur, Salman tetap mengerjakan pekerjaan dari jarak jauh. Ia tetap mengontrol keadaan usahanya di Jogja.
Naila begitu dimanja Oleh mertuanya. Raisya bahkan membuatkan susu untuk menantunya.
"Bunda, aku bisa bikin sendiri."
"Selagi kamu di sini, biarkan Bunda memanjakanmu. Kalau kamu pingin sesuatu, bilang sama Bunda, ya?
"Iya, Bunda."
Bagaimana cucu-cucuku apakah mereka aktif?"
"Sangat aktif, Bun! Mereka sering menendang."
"Apa sudah USG lagi, Nai?"
"Belum, Bun! Nanti kalau sudah kembali ke Jogja kita akan USG lagi."
"Jadi belum ketahuan jenis kelaminnya ya?"
"Iya, Bun! Sepertinya mereka mau ngasih surprise! Waktu USG tidak mau menampakkan, hehe..."
"Nggak pa-pa, yang penting sehat."
Naila meminum susu yang sudah dibuat oleh mertuanya.
"Makasih, susunya, Bun!"
"Iya sama-sama."
Naila dan Raisya jalan sore di sekitar perumahan.
-
Di rumah Faisal
Putri sedang menyiram tanaman di depan rumah. Kemudian ada seseorang datang.
"Assalamu'alaikum."
"Wa-alaikum salam."
Putri terpaku melihat orang yang datang.
"Maaf, apa Mas Faisal dan anak-anak ada di rumah?"
"Mas Faisal ada, sedang mandi! Kalau Freya dan Naila tidak ada."
__ADS_1
"Maaf, kamu siapa?"
Ajeng memperhatikan Putri dari atas sampai bawah. Dan ia dapat melihat perut Putri yang sudah terlihat buncit, karena Putri mengenakan jilbab rumahan yang simpel.
"Saya istrinya Mas Faisal."
"Aku memang mendengar Mas Faisal sudah menikah lagi, tapi aku tidak percaya!" Ujar Ajeng, sinis.
Putri tersenyum sinis. Rupanya wanita di depannya ini perlu diberi sedikit wejangan.
"Kenapa anda tidak percaya? Buktinya kami memang sudah menikah."
"Karena Mas Faisal orang yang setia, dia tidak mudah untuk jatuh cinta. Aku yakin Maa Faisal pasti masih menungguku!"
"Wow...Itu memang benar! Suamiku memang orang yang setia! Tapi dia bukan orang yang bodoh! Untuk apa menunggu penghianat? Pede sekali anda!"
Putri masih bisa mengontro emosinya. Ia ingin tahu apa yang akan dikatakan Ajeng selanjutnya.
"Dek, ada siapa?" Faisal muncul dari dalam rumah.
"Ini ada tamu kehormatan!" Ucap Putri, sinis.
"Kok nggak disuruh ma-suk!" Ucap Faisal terputus karena melihat tamu yang simaksud.
"Ayo Mbak masuk! Yang punya rumah sudah ngizinin masuk lho!"
Faisal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ada perlu apa kamu ke sini?"
"Niatku ingin mertemu anak-anak, mungkin mereka sudah berubah pikiran! Tapi ternyata mereka tidak ada."
"Mereka bukan anak-anak lagi! Mereka sudah menjadi Ibu dan akan menjadi Ibu. Kalau sudah waktunya, mungkin mereka sendiri yang akan mencarimu, bersabarlah!"
Ajeng melirik ke arah Putri yang sengaja memegang perutnya seakan memamerkan kehamilannya.
"Maa, kamu tidak mau mengenalkanku kepada Ibunya Freya dan Naila?"
"Oh iya, maaf! Jeng, kenalkan ini istriku namanya Putri."
Putri mengulurkan tangan, Ajeng menerima jabatan tangan Putri seperkian detik.
"Aku tadinya tidak percaya kalau kamu sudah menikah lagi, Mas!"
"Tapi kenyataannya begitu."
Ada raut kekecewaan di wajah Ajeng. Namun ia berusaha untuk menutupinya.
__ADS_1
"Hem...iya, aku mengerti! Maaf bukan niatku mengganggu kehidupan kalian. Maaf Mbak Putri, saya hanya ingin minta tolong kepada Mas Faisal, apa Mbak Putri mengizinkan?"
"Silahkan saja, selama masih di dalam batas kewajaran, kenapa tidak? Sesama manusi kita harus saling membantu."
"Maaf, Mas! Kalau boleh aku ingin meminjam uang untuk bayar kontrakan dan uang sekolah Dhani! Karena sudah jatuh tempo."
Faisal melirik sang istri, Putri cuek saja.
"Maaf, Jeng! Apa almarhum suamimu tidak menyisakan harta untuk anakmu?"
"Setelah suamiku meninggal dunia, anak dari istri pertamanya datang dan merebut semua harta yang ia wariskan untuk Dhani. Bahkan rumah saja kami tidak punya. Makanya aku mengajak Dhani untuk kembali ke tanah Jawa."
Setelah penjelasan panjang lebar, jiwa sosial Putri tergugah. Ia pernah merasakan menjadi single parent. Putri dan Faisal masuk untuk bermusyawarah. Akhirnya Faisal menyetujui saran dari Putri.
"Ini saya adanya tujuh juta. Maaf tabunganku sudah aku deposit untuk persiapan biaya calon anakku kelak." Ujar Faisal.
"Benar dugaanku sepertinya istrinya Mas Faisal ini sedang hamil. Beruntung sekali hidup mereka. Mungkin ini teguran dari Allah untukku.Dan aku harus menerima kenyataan. Apa aku masih sanggup untuk menyakiti hati mereka?" Batin Ajeng.
"Bagaimana, Jeng?"
Ajeng tersentak dari lamunannya.
"Eh iya...tidak apa, Mas! Aku janji akan melunasinya dalam waktu dua bulan."
"Tidak usah, Mbak! Kami ikhlas! Itu untuk Mbak saja. Anggap saja kami memberi anak yatim, karena dulu anakku Rio pernah ada dalam posisi Dhani."
"Hah...aku jadi tidak enak! Ini serius?"
"Serius, Mbak! Semoga bermanfaat. Maaf kalau sikapku tadi kurang baik, maklum hormon Ibu hamil suka berubah, Mbak! Seeing sensitif bawaannya!"
"Maafkan aku juga, mungkin tadi aku juga kurang sopan, makanya kamu begitu. Ya sudah saya pamit dulu! Tolong sampaikan salam kepada Freya dan Naila. Sekali lagi terima kasih."
"Iya Mbak, sama-sama."
Setelah kepergian Ajeng, Faisal memberikan kecupan dan pelukan hangat kepada istrinya.
"Dek, kamu adalah bidadari yak bersayap."
"Ish, lebay! Kamu senang ya, bisa ketemu mantan kamu, Mas?"
"Lha kok gitu? Aku senang karen istriku ini, Masyaallah paket komplit!"
"
Faisal semakin kagum kepada istrinya. Istrinya itu memang kadang suka bar-bar, ia tidak mudah ditindas, namun hatinya sangat baik.
Bersambung....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
See you again....