Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Ulat Bulu


__ADS_3

Malam harinya Naila dan Salman pergi ke bidan terdekat yang praktek sampai malam untuk periksa kandungan. Naila tidak mau pergi ke rumah sakit sebelum usia kandungannya 6 bulan.


Menurut Bidan, usia kandungannya sudah memasuki usia 5 minggu. Namun Bidan belum bisa memastikan jumlah janin. Yang jelas janinnya sehat.


Keesokan harinya


Naila ikut Salman ke kantor travel cabang yang terletak di Sidoarjo. Alya dan Ayla, akan mereka titipkan di rumah Bunda Raisya. Sedangkan Arya bersama Ibu Ajeng di rumah.


Saat ini mereka sedang perjalanan ke rumah orng tua Salman. Hanya dalam waktu 10 menit mereka sudah sampai.


"Bunda titip mereka ya?" Ujar Naila.


"Dengan senang hati! Kamu jangn capek-capek ya?" Jawab Raisya, mengusap kepala Alya dan Ayla.


"Jangan nakal ya!Yang nurut sama Oma dan Opa!"


"Ciap, Mi!" Sahut keduanya kompak.


Salman sedang ngobrol dengan sang Ayah.


"Tumben istrimu mau ikut ngantor, Man?"


"Nggak tahu, Yah! Nggak biasanya ngotot minta ikut! Daripada mood Ibu hamil ancur dan aku kehabisan jatuh, ya mending aku turuti saja!"


"Ehm... lagi ngegosipin apa nih?" Tanya Raisya.


Sontak Kayak dan anak itu menoleh ke sumber suara. Terlihat para perempuan keluar.


"Ini, Salman lagi ngerayu aku, Bun!" Ujar Haris.


Salman yang mengerti maksud sang Ayah hanya mengiyakan saja.


"Ayo, By! Kita berangkat!"


"Oh iya, ayo! Alya, Ayla, Ummi sama Abi berangkat dulu ya? Kalian jangan nyusahin Oma! Jangan minta yang aneh-aneh! Minta yang bermanfaat saja!"


"Abiii... anak kecil diajari nggak bener!"


"Yang bermanfaat maksudnya diajarin baca do'a-do'a gitu, Mi! Ummi su'udzon terus sih! Ayo berangkat!"


Salman dan Naila berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Perjalanan ke kantor membutuhkan waktu kurang lebih satu jam karena kemacetan yang terjadi.


Akhirnya mereka sampai di kantor. Seperti biasanya, Salman membukakan pintu mobil untuk istrinya. Salman masuk dengan menggandeng tangan Naila. Keduanya nampak romantis meski bukan pengantin baru.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi Pak!" Ujar Satpam penjaga pintu yang sedang membukakan pintu untuk Salman dan Naila.


"Wa'alaikum salam, terima kasih, Pak!" Ujar Salman dengan ramah. Naila-pun tersenyum ramah.


"Iya, sama-sama, Pak Bos."


Sampai di dalam, asisten Salman menyampaikan laporan.


"Bos, ada yang nungguin tuh!"


"Siapa? Klien?"


"Katanya temannya Bos! Ya mungkin mau pakai jasa,travel kita! Ngotot mau ketemu Bos!"


"Oke terima kasih!"


"By, aku ke toilet dulu!" Pamit Naila, dan diangguki oleh Salman.


Salman masuk ke ruangannya. Di dalam sudah ada seorang wanita berambut panjang dengan pakaian yang terbuka.

__ADS_1


"Maaf, anda menunggu saya?"


Saat perempuan tersebut menoleh, Salman sedikit terkejut.


"Dila..."


"Hai, Salman! Apa kabar?"


"Ada perlu apa, Dil?"


"Kok pertanyaanku nggak dijawab?


"Baik, aku sangat baik dan sehat walafiat."


Salman duduk ke kursinya. Dalam hati iya was-was, namun iya masih bisa mengontrol diri.


"Apa kamu mau pergi umroh?"


"Haha... maunya sih gitu, tapi kalau daftar jadi istri kedua saja boleh nggak?"


Salman menggeleng kepala.


"Dila, aku serius! Kalau kamu hanya ingin bercanda, maaf ini waktuku bekerja!"


"Kamu makin galak, Man! Tapi kok aku malah makin suka ya? Tambah tua kamu tambah macho! Sayangnya kamu tidak tertarik denganku! Padahal apa kurangnya aku?"


Dila membusungkan dada, seakan menggoda Salman.


"Dil, aku masih menghormati sebagai teman, sekali lagi tolong katakan keperluanmu ke sini?"


"Oke oke! Salman, aku minta tolong! Tolong beri aku pekerjaan!"


Tok


Tok


"Masuklah!"


"By....." Naila menghentikan ucapannya saat melihat Dila.


"Hai Naila, apa kabar?"


Dila berdiri dan menghampiri Naila. Menjabat tangan Naila dan cipika-cipiki seperti orang yang sangat kenal dekat.


"Hem, Baik!" Naila memperhatikan Dila dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Lama tidak ketemu, ya? Terakhir ketemu di Jogja tiga tahun yang lalu.


"Iya, kamu sudah tidak di Jogja lagi?"


"Tidak, sejak lulus saya pulang ke Surabaya."


"Sudah menikah?"


"Belum nih, masih menunggu seseorang, haha..." Dila melirik ke arah Salman.


"Oh... perlu apa dengan suamiku?"


"Mau melamar kerja, kerja apa saja gitu!"


"Dila, untuk saat ini sedang tidak ada lowongan, maaf aku tidak bisa membantumu! Lagian kamu itu kok lucu! Papamu kan, pengusaha!" Ujar Salman


"Maaf Dil, Saya dan Mas Salman akan pergi lagi setelah ini!"


"Baiklah! Maaf sudah mengganggu, tapi kalau ada lowongan jangan lupa hubungi aku ya, Man? Ini nomorku!" Dila memberikan kartu namanya di atas meja Salman.

__ADS_1


"Hem..." Jawab Salman.


"Permisi, sampai jumpa lagi, Naila!" Ujar Dila, tersenyum sinis.


Setelah kepergian Dila, Naila mengambil kartu nama yang ada di atas meja Salman.


"Masih butuh ini, By?"


"Nggak, buang saja!"


"Yakin? Nggak butuh asisten atau karyawan yang seksi kayak dia?"


"Sayang, apaan sih? Nggak banget! Kamu jangan emosi dulu ya? Aku nggak mau seperti kejadian waktu itu kamu murang-muring nggak jelas! Ayo sini duduk dulu! Sini kartunya aku yang buang!"


Salman mengambil kartu itu dari tangan Naila, kemudian ia robek dan dibuang ke tempat sampah. Nampak Naila menyembunyikan senyum kemenangan.


"Untung saja aku ikut, kalau nggak? Pasti Ulat bulu itu sudah bikin gatal-gatal suamiku. Naluriku sangat tepat kali ini! Lagian ngapain orang itu muncul lagi, bikin darting saja! Huft, sabar Naila, kamu lagi hamil, jangan sampai anakmu nurun ulat bulu! Amit-amit babang bayi." Batin Naila. Kemudian ia mengelus perutnya.


Waktunya makan siang, Salman memesan makanan dari Gofood. Siang ini mereka makan gado-gado sesuai permintaan Ibu hamil.


Setelah selesai makan siang, Naila tidur di kamar yang berada dalam ruangan Salman. Rupanya ada tamu yang datang ingin menemui Salman. Salman menyuruh asistennya untuk mempersiapkan tamu itu masuk. Tamu tersebut merupakan mantan klien yang pernah memakai jasa travel Salman.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, silahkan masuk Bu!"


"Iya, Nak Salman."


Ibu tersebut datang bersama seorang perempuan yang masih muda. Usianya diperkirakan tidak jauh dengan Salman.


"Apa kabar, Bu?"


"Baik, Nak Salman. Perkenalkan ini anak Ibu namanya Selvi!"


"Oh iya, salam kenal, Mbak!" Salman menangkupkan kedua tangannya saat perempuan tersebut mau menjabat tangan Salman.


"Ada perlu apa ini, Bu? Apa mau daftar untuk berangkat umroh lagi?"


"Pinginnya begitu, tapi masih nabung dulu! Pingin berangkat satu keluarga, biar rame!"


"Oh iya, Alhamdulillah! Semoga segera terlaksana, Bu!"


"Nak Salman ini yang punya travel, vi! Usianya masih muda, orangnya sholeh, mapan, tampan lagi!" Ujar Ibu tersebut memuji Salman di depan anaknya.


Selvi tersenyum menanggapi ucapan Ibunya. Salman kurang nyaman dengan hal tersebut. Sepertinya ia merasakan sesuatu yang janggal.


"Nak Salman, anak saya ini sudah S2 lho! Sekarang sedang bekerja di Bank sawasta. Anaknya sholeha dan rajin menabung."


"Jadi maksud Ibu, anak Ibu ini yang mau berangkat umroh dulu, begitu Bu?"


"Bukan, bukan begitu maksud saya!Em... Nak Salman tidak ada niat untuk menikah dalam waktu dekat ini?"


"Ah Ibu ini bercanda! Saya sudah punya istri, Bu!"


Ceklek


Terdengar pintu kamar di ruangan tersebut terbuka. Dan keluarlah Naila dengan wajah yang sudah segar. Sepertinya ia sudah mencuci mukanya.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa kasih dukungannya ya kak


See you again.....

__ADS_1


__ADS_2