
Lima hari berlalu. Kehidupan Naila dan Salman berjalan seperti layaknya pengantin baru. Salman disibukkan dengan proyek barunya. Naila masih aktif kuliah. Salman selalu mengantarnya ke kampus menggunakan motor Edo. Pulang kuliah, Edo yang mendapat tugas untuk menjemput Naila menggunakan mobil Salman. Naila sudah meminta kepada Salman untuk membawa motor sendiri, tapi tidak diperbolehkan.
Sore hari, Salman sudah pulang ke rumah. Naila menyambut kedatangan suaminya.
"Capek, By?"
"Nggak jadi capek lihat kamu!"
"Gombal lagi! Akhir-akhir ini kamu suka ngegombal, By!"
"Aku bicara jujur, Sayang! Nggak ada namanya ngegombal dalam kamusku! Eh iya ini tadi aku belikan kamu martabak manis rasa keju! Aku masih ingat kamu tidak terlalu suka coklat!"
"Wah, mantap dong! Makasih, ya, By?"
"Iya sama-sama. Aku mau mandi dan shalat Ashar dulu!"
"Aku sudah siapkan air hangatnya, By!"
Salman langsung masuk ke kamar mandi.
Sementara menunggu suaminya melakukan hajatnya, Naila makan martabak manis di ruang tamu. Rumah Salman memang tidak besar hanya ada dua kamar, ruang tamu, dua kamar mandi dan dapur. Kamar tidur utama terdapat kamar mandi. Dan kamar mandi kedua ada di samping dapur.
"Enak, Sayang?"
"Enak banget! Cobain deh!" Naila menyuapi suaminya.
"Iya, enak!"
Mereka melanjutkan obrolan, berbagi tentang kegiatan hari ini.
Tidak terasa adzan Maghrib berkumandang. Salman siap-siap untuk shalat Maghrib.
"Hubby, tunggu aku ya? Kita shalat berjama'ah!"
"Sayang, kamu sudah bisa shalat?"
Naila menganggukkan kepala, dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Alhamdulillah, yes, yes!" Ujar Salman, sangat antusias. Namun tidak terdengar oleh Naila, karena sudah masuk kamar mandi.
Akhirnya mereka shalat berjama'ah untuk yang pertama kalinya selama menjadi suami istri. Naila mencium punggung tangan suaminya. Dan Salman mengecup kening istrinya. Keduanya dipenuhi rasa syukur.
"Ayo kita makan malam dulu, Hubby! Tadi aku sudah masak soto ayam."
"Wah, kamu selalu masak menu yang berbeda setiap hari, Sayang! Kalau begini terus, lama-lama perutku nggak sispeck lagi nih! Masakanmu tidak pernah gagal! Selalu enak! 11-12 dengan masakan Bunda."
"Kamu terlalu memuji, kebetulan saja takaran bumbunya pas! Kalau aku sedang badmood bisa saja keasinan, hehe..."
"Kalau begitu, aku harus selalu bikin kamu goodmood, hehe..."
Dan mereka makan malam bersama di rumah. Naila menyisihkan satu mangkok soto dan kepiting nasi untuk diberikan kepada Edo.
"Hubby, yang ini untuk Kak Edo! Tolong kamu telpon dia, suruh ke sini!"
__ADS_1
"Kenapa kamu harus perhatian juga sama dia?"
"Dia kan, anak buahmu! Kamu juga harus memikirkan kesehatannya! Kalau dia sakit, kamu juga yang repot lho!"
"Ah iya, kamu benar juga!"
Salman menghubungi Edo. Sebenarnya tempat tinggal Edo ada di sebelahnya. Untuk mengirit tenaga, Salman menelponnya.
Tidak lama kemudian Edo datang.
"Ada apa, Bos?"
"Kamu sudah makan?"
"Belum, Bos! Rencananya mau masak mie instan."
"Nih, ada soto buat kamu! Bawa saja ke rumahmu!"
"Widih, kayaknya enak nih, Bos! Makasih ya, Bos dan Mbak Bos!"
"Sama-sama, Kak." Jawab Naila. Salman hanya memberikan jempolnya.
Sudah larut malam, Naila dan Salman kini sudah berada di kamar. Cuaca di kamar mereka mendadak panas. Padahal AC sudah dinyalakan. Sejak ada Naila, Salman memasang AC. Alergi dinginnya sudah mulai berkurang sedikit demi sedikit.
"Sayang!" Salman menggenggam kedua tangan Naila.
"Iya, Hubby."
Pipi Naila bersemu merah. Ia menundukkan wajahnya, menahan malu. Ia sudah menyangka, suaminya akan meminta haknya.
"Gimana, Sayang? Boleh?"
Naila menganggukkan kepala.
"Silahkan! Saya ridho, By!"
"Alhamdulillah... mari kita shalat sunnah dulu!"
Mereka melaksanakan shalat sunnah berjamaah. Setelah itu Salman membuka mukenah Naila.
"Sayang, ada sesuatu dari Bunda! Pakailah! Bunda berpesan, saya harus kasih ini saat kamu sudah selesai masa haid."
Salman memberikan sebuah kotak yang berukuran sedang kepada Naila. Naila menerima dan membukanya.
Tentu Naila Shock saat tahu isi kotak tersebut. Baju haram warna maroon dengan model yang cukup menghentikan Naila.
"Hubby.... ini baju apa jaring ikan?"
"Pffff.... Astagfirullah'adzim! Bunda!"
Salman juga terkejut melihatnya. Raisya memang berpesan agar Salman tidak membukanya.
"Maaf, Sayang! Aku juga nggak tahu kalau isinya itu! Kenapa kamu kaget? Apa sebelumnya kamu tidak pernah punya atau memakainya?"
__ADS_1
"Ish, buat apa aku memakainya?"
"Mungkin saat malam pertamanya dengan mantan suamimu." Batin Salman. Namun dia tidak berani berkata terus terang karena takut melukai hati istrinya.
"Kalau begitu pakailah untukku! Bukankah menyenangkan hati suaminya pahala, Sayang?"
Dengan terpaksa Naila menuruti maunya Salman. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju. Di dalam kamar mandi ia berceemin.
"Hah...kalau seperti ini aku seperti wanita malam! Bunda... kenapa harus ngasih yang model begini?" Naila frustasi.
Tok
Tok
Tok
"Sayang, kok lama? Bisa makainya?"
"Iya.... tunggu sebentar!"
Dengan menahan rasa malu, Naila akhirnya membuka pintu kamar mandi.
Ceklek
Naila berdiri di depan pintu dengan menutup bagian atasnya dwngan kedua tangannya. Salman pemuda yang cukup menjaga pandangannya terhadap lawan jenis. Saat ini dengan menyebut nama Allah, ia mulai melihat yang halal baginya. Dimulai dari kaki Naila hingga naik ke atas. Pandangan Salman sudah mulai berhasrat. Dia sudah mulai merasa kepanasan. Tanpa aba-aba ia menggendong Naila ala bridal sule.
"Kyaaak..." Sontak Naila memekik.
"Maaf sudah membuatmu terkejut, Sayang! Tapi aku sudah tidak tahan lagi!"
Salman membaringkan Naila di atas tempat tidur.
Salman membaca do'a, dan mulai menjamah tubuh sang istri. Menyentuh saja, seperti ada aliran listrik yang menyetrum si Joni. Salman dekati wajah Naila. Ia mengecup bibirnya, kemudian me*umatnya lembut. Tangan Salman mrnelusup di balik baju jaring, naik ke area gunung kembar yang begitu lembut dalam genggamannya. Ia merema*nya pelan, hingga Naila mulai melenguh.
"Jangan ditahan, Sayang! Malam ini milik kita!" Suara Salman parau.
Setelah puas bermain di bagian atas, Salman mulai menyentuh bagian bawah. Lorong kenik*matan itu ternyata sudah basah. Si Joni yang nampak gagah, karena Salman sudah menanggalkan sarungnya. Panas dingin yang mereka rasakan. Salman mengarahkan tangan Naila kepada si Joni. Naila-pun menggenggamnya.
"Au! Pelan, Sayang! Nanti si Joni ngambek!"
"Ma-maaf, aku tidak tahu, By!"
Otak Salman masih belum terkoneksi dengan ucapan Naila. Salman mulai mengarahkan si Joni ke Lorong yang sudah basah.
"Hubby, tolong pelan! Aku takut! Katanya kalau pertama kali akan sakit sekali!" Ujar Naila, dengan polosnya.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tunggu kelanjutannya ya Kak
See you again...
__ADS_1