
Di rumah Faisal
Faisal dan Putri baru saja bangun setelah tadi tidur lagi sehabis shalat Shubuh.
"Mas, bangun! Ini sudah jam 7 pagi! Ayo sarapan!"
"Boleh sarapan yang lain, Dek?"
"Mas pingin sarapan apa?
"Sarapan apem yang legit."
"Hah... dimana ada yang jual kalau sepagi ini?"
"Ini yang ku maksud." Faisal menyentuh selang*angan Putri.
"Ish... Mas! Tadi kan, sudah?"
"Lihatlah! Kamu tega, Dek?" Faisal menunjuk adik kecilnya yang sudah membesar.
"Sekali saja ya, Mas? Badanku rasanya remuk redam!"
"Okeh!" Jawab Faisal singkat.
Tanpa Aba-aba Faisal langsung mencumbu istrinya. Mantan duda dan janda itu memulai penyatuannya lagi. Faisal melanggar dari janjinya. Ia bahkan bermain 3 ronde. Dan tidak terasa, jam 9 mereka baru keluar dari kamar.
Ternyata di ruang tengah sudah ada anak-anak dan menantu mereka sedang bercengkrama di ruang tengah.
"Ehm... baru bangun, Yah?" Salman menggoda mertuanya.
"Sudah daritadi! Cuma tadi habis Shubuh tidur lagi." Faisal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh... kirain nambah lagi, Yah!" Sahut Alfano.
"Kalian sudah dari tadi?" Putri menimpali.
"Dari 30 menit yang lalu, Ma!" Jawab Naila dan Freya serentak.
"Ya sudah ayo sarapan sama kami!" Ajak Putri.
"Telat, Ma! Kami sudah kenyang! Hehe..." Jawab Salman.
"Mama sama Ayah sarapan dulu saja! Pengantin baru itu butuh banyak nutrisi, kan? Kami tunggu kalian di sini!" Ujar Salman menahan tawanya.
"Baiklah!" Ujar Faisal.
Faisal dan Putri pergi ke dapur bersih untuk sarapan di meja makan.
Saat kedua orang tuanya sudah tidak terlihat, Freya melempar bantal sofa ke arah suaminya.
"Hus... Bang! Kamu tuh ngaco! Orang tua digodain terus! Kamu juga, Man!"
"Haha... habisnya mereka lucu, Kak!"
"Kenzo, kalau sudah besar jangan ikuti kelakuan Papamu! Ikuti kelakuan Om mu saja!" Ujar Salman seolah baby Kenzo mengerti.
"Kelakuan kalian sama saja!" Ujar Freya
"Hahaha..." Salman dan Alfano tertawa lepas.
Setelah selesai sarapan pagi, Putri dan Faisal menghampiri anak-anak dan menantunya. Freya dan Alfano pamit akan kembali ke Singapura besok, karena pekerjaan Alfano harus segera ditangani di sana.
"Apa kamu tidak ada rencana untuk bekerja di Indonesia saja, Fan?" Tanya Faisal.
"Sudah ada rencana, Yah! Tapi tunggu cukup modal untuk buka usaha di sini. Do'akan saja ya, Yah?"
__ADS_1
"Kami akan selalu mendo'akan kalian."
"Ayah, kami ada berita bahagia." Ujar Salman.
"Apa itu, Nak?"
"Ayah dan Mama akan nambah cucu."
"Benarkah?" Tanya Faisal meyakinkan.
"Serius?" Putri menimpali.
"Iya, Naila positif hamil! Jalan 4 minggu!"
"Alhamdulillah, selamat ya, Nai."
Putri memeluk Naila. Dalam pelukan Ibu sambungnya itu tiba-tiba Naila berkaca-kaca. Ia sudah lama tidak mendapatkan pelukan seorang Ibu.
"Lho, kok nangis?" Ujar Putri saatvmelepas pelukannya.
"Nggak pa-pa! Aku terharu saja! Terima kasih, Ma!" Ujar Naila.
"Selamat ya, Dek!" Ujar Freya yang juga memeluk Naila.
"Kamu gimana, Kak? Apa Kenzo sudah mau punya adik?"
"Ish, jangan dulu-lah! Aku masih menundanya! Tunggu Kenzo umur 5 tahun!"
"Apaan, Jangan dengerin Kakakmu, Nai! Tahun depan juga pasti Kenzo punya adik!"
"Enak aja! Iya kamu yang hamil, Bang!"
"Haha...."
Faisal dan Putri hanya bisa geleng kepala melihat tingkah mereka.
Salman dan Naila juga berpamitan untuk kembali ke Jogja, mereka akan naik kereta. Sebelumnya ke Stasiun, Salman mampir lagi ke rumahnya. Karena tadi pagi mereka belum bertemu dengan Ayah dan Bundanya. Mereka juga belum memberi tahu berita bahagia kepada keluarga Salman.
Sampai di rumah Salman, Ayah dan Bundanya sedang bercengkrama di depan rumah.
"Ayah, Bunda, kami ke sini cuma mau pamit! Ini langsung ke stasiun saja habis ini!"
"Kok nggak naik pesawat, kenapa?"
Salman melirik istrinya, kemudian nengelus perut istrinya yang masih rata.
"Bunda, tadi Kak Syifa ke sini! Periksa istriku. Alhamdulillah, ternyata istriku hamil. Kata Kak Syifa jangan naik pesawat dulu!"
"Alhamdulillah...." Raisya dan Haris mengucap syukur.
"Selamat, Sayang! Sehat-sehat ya! Jaga pola makan, dan istirahat yang cukup!"
"Terima kasih, Bunda!"
"Selamat ya, Boy! Nggak sia-sia Ayah kasih ilmu ke kamu! Tokcer, kan?" Haris mendekap dan menepuk punggung putranya.
"Ayah, malu-maluin saja!" Tegur Raisya.
"Ngapain malu, Bun? Ini ilmu penting kok!Naila, selamat ya! Sebentar lagi kalian jadi orang tua. Bunda kita akan punya cucu, semoga kembar!"
"Amiinn..."
"Ada apa kok rame?" Salwa baru keluar dari dalam rumah."
"Ini ada kabar gembira, sebentar lagi kamu akan jadi Bibi, Wa!"
__ADS_1
"Oya? Alhamdulillah, barakallah..." Salwa memeluk Naila.
"Kami akan kembali ke Jogja hari ini, Mbak!"
"Kok cepet banget sih? Aku kan, masing rindu!"
"Besok Nindi masuk kuliah! Kalau mau ayo ikut ke Jogja!"
"Lain hari ya! Aku di Indo satu bulan, kok!"
"Sip itu! Kami tunggu! Ya sudah kami berangkat dulu! Karena keretanya satu jam lagi berangkat!"
Mereka pun mencium punggung tangan orang tua dan Kakaknya. Naila dan Salman diantar oleh Mang Kasim ke stasiun.
Di sepanjang perjalanan, Naila memejamkan mata. Ia merasa sangat mengantuk. Mungkin bawaan bayinya.
Akhirnya mereka sudah sampai di stasiun Jogja. Edo sudah menunggu mereka dari 15 menit yang lalu di parkiran.
"Sini Bos, saya bawakan tasnya!"
"Terima kasih, Do!"
Di dalam mobil, Naila terlelap kembali. Salman heran dengan istrinya. Tidak biasanya ia seperti itu.
"Sayang, bangun! Kita sudah sampai!"
"Hem... masih ngantuk!"
"Apa perlu aku gendong?"
"Eh nggak, nggak usah! Aku akan bangun, By!"
Naila pun bangun dan turun dari mobil. Tiba-tiba perutnya mual lagi. Ia segera lari masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
"Huek... huek..."
Setelah lebih nyaman, Naila keluar dari kamar mandi.
"Sayang, barusan aku nelpon Kak Syifa. Katanya kalau mau ngurangin mualnya bisa dengan minum es krim. Apa kamu mau es krim?"
"Boleh, By! Tapi yang rasa vanila ta!"
"Oke, tunggu sebentar! Aku akan delivery order di minimarket terdekat."
Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Naila langsung membuka bubgkusan es krim. Ada dua box es krim rasa vanila. Yang satu, Naila simpan di frezer.
"Enak?"
"Enak, sekali! Kamu mau, By?"
"Nggak deh! Habisin saja, Sayang! Kasian anakku mungkin suka es krim!"
Salman tersenyum lalu mengusap perut Naila.
"Nak, cepat membesar dan keluar dari perut Mama ya! Papa akan belikan kamu es krim yang banyak! Kalau perlu sama mini marketnya!"
"Hubby... kamu apaan sih! Baco deh!"
"Hehe... pingin cepet gendong, Sayang! Mirip siapa nanti ya?"
"Mirip kita-lah!"
Naila melanjutkan makan es krim. Bahkan satu box es krim dia habiskan dalam waktu 5 menit. Salman sampai ngilu melihatnya, karena ia jarang sekali minum es.
Bersambung.....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
See you again....