Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Bucket Bunga


__ADS_3

Naila sangat senang bisa bertatap muka dengan Salwa meskibhanya dari layar laptop


Salwa tidak menyangka kembarannya itu bisa berjodoh dengan gadis maaa kecilnya. Lebih tepatnya yang Salwa tahu adalah cinta monyetnya.


"Naila, kamu makin cantik! Banyak berubah."


"Kamu juga, Mbak!" Naila mengikuti suaminya ,memanggil sebutan Mbak kepada Salwa.


"Duh aku jadi salting dipanggil Mbak! Eh Naila, buatin aku keponakan yang banyak ya! Yang lucu-lucu!"


Naila menjadi salah tingkah. Salman mendelik, memberi kode kepada Salwa.


"Naila, tahu nggak? Salman itu sebenarnya...."


"Mbak...Mbak.... sudah dulu ya? Batreynya lowbat."


Salman memutus pembicaraan Salwa, ia takut Salwa membongkar rahasianya.


"Ish, nggak asyik! Chas dulu dong, dek!" Salwa memanyunkan bibirnya.


"Udah, lanjut kapan-kapan lagi! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


"Kamu kok bohong sih, Mas? Batreynya masih banyak ini."


"Itu, Mbak Salwa kalau ngobrol suka lupa waktu, kasian kamu! Ayo kita nonton film saja! Aku punya film bagus."


Naila mengiyakan ajakan suaminya. Sebelumnya Naila ganti baju piama dulu. Ia memakai setelan piala celana dan kemeja lengan pendek motif bunga. Rambutnya masih iya cepol sembarangan. Dalam masih dengan sarung dan kaos oblongnya. Turunan Haris memang lebih suka pakai sarung.


Mereka nonton film dari laptop Salman. Ternyata Film yang Salman maksud adalah drama Thailand bergenre romantis. Mereka berdua duduk bersandar di kepala ranjang. Laptop berada di ddpan mereka dengan penyanggah meja lipat.


Sesekali Salman melirik Naila. Entah handbody lotion apa yang dipakai Naila, amat memancing penciuman Salman.


Tentu di dalam film tersebut ada adegan ciu*an yang cukup intim dan membuat Naila memalingkan muka karena merasa malu sendiri. Salman heran melihat tingkah Naila.


"Kenapa seolah-olah dia tidak pernah melakukannya? Padahal dia pernah menikah! Tentu kalau sekedar seperti itu dia pernah, bahkan lebih dari itu." Batin Salman.


"Nin, kamu kenapa?"


"Nggak pa-pa! Mas, kamu ngapain nonton film begituan?"


"Pingin aja, lagian nggak parah kok! Nontonnya juga sama istri sendiri. Kalau pingin, kan bisa...." Salman menghentikan ucapannya, dia baru ingat hubungannya dan istrinya itu tak selurus jalan tol.


"Maksudku, kita sudah cukup umur untuk nonton film ini." Salman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku sudah ngantuk, tidur yuk!"


"Kamu ngajak tidur, kayak bisa aku ajak iya-iya, Nin!" Batin Salman.


Keesokan harinya, Salman dan Naila pamit kepada keluarga Salman. Sebelum ke rumah Kakek dan Nenek Naila, Salman mampir di toko bunga miliknya. Naila tidak tahu kalau toko tersebut milik suaminya.


"Ayo Nin, Turun dulu! Aku mau ambil bunga!"


Naila masih melongo di tempat. Salman menggndeng tangan sang istri. Jantung Naila kembali berdetak kencang.


"Mbak Zhie!"


"Hai dek, ke sini kok nggak bilang-bilang?"


"Kejutan...!"


"Eh ada Naila juga, masih ingat kan, sama aku?"

__ADS_1


"Maaf, Mbak! Keluarga Mas Salman terlalu banyak, jadi aku tidak hafal."


"Haha...iya, kamu benar! Aku sepupu tertuanya Salman! Selamat datang di Galery AS Flower."


"Mbak, bunganya seger-seger! Saya suka!"


"Oh ya? Kamu boleh ambil sesuka hati! Kan ownernya suamimu sendiri!"


"Maksudnya?"


"Ini galery milik Salman!"


"Benarkah?"


"Dek, kamu itu gimana sih? Istri sendiri nggak dikasih tahu asetmu!"


"Belum, Mbak! Bukan nggak mau ngasih tahu! Sayang, ayo ambillah bunga yang kamu suka, kamu bisa merangkainya sendiri." Salman merangkul pundak istrinya.


Naila mengambil bunga uang segar. Kemudian ia rangkai sendiri menjadi bucket.


"Wah, cantik sekali! Ternyata kamu bakat jadi perangkai bunga!"


"Kalau segini harganya berapa, Mas?"


"Kenapa kamu tanya harga?"


"Aku tidak mau kamu rugi."


"Kalau begitu, bayar saja dengan yang lain."


"Dengan apa?"


"Hatimu."


Naila terpaku mendengar ucapan Salman. Hatinya dag-dig-dug tidak karuan.


"Mungkin ini saat yang tepat! Kamu pasti bisa, Salman!" Batin Salman.


Salman mengambil bucket bunga yang sudah Naila rangkai. Ia berlutut di depan Naila.


"Naila Anindita! Aku tidak bisa berjanji untuk selalu membuatmu bahagia, tapi aku akan membuktikan kalau kamulah satu-satunya wanita yang aku cintai setelah Bunda dan saudari perempuanku. Aku mencintaimu dari dulu, saat ini, dan sampai akhir sisa hidupku. Maukah kamu menjadi Ibu dari anak-anaku?"


Salman dengan romantis menyerahkan bucket bunga itu, menunggu Naila menerimanya.


"Terima... terima... terima..." Suara Zie dan karyawan yang lain menyoraki mereka.


Sungguh Naila sangat terharu. Iya tidak bisa berkata-kata. Bucket itu dia ambil dari tangan salman dengan dibarengi anggukan kepalanya.


Karena merasa sangat bahagia, Salman memeluk Naila.


"Terima kasih, Sayang!"


Mata Naila berkaca-kaca, ia tidak menyangka perasaannya akan terbalas secepat ini. Dan ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Terima kasih ya Allah, engkau mengabulkan do'aku." Batin Naila.


"Sudah woiii...! Jangan bikin iri! Di sini banyak yang jomlo! Kalian itu, udah nikah juga! Masih saja main tembak-tembakan!" Ujar Zie.


"Bilang aja kamu yang iri, Mbak!"


"Ish, udah punya anak dua, ngapain iri! Nanti aku minta diromantisin juga di rumah!" Ujar Zie tidak mau kalah.


"Haha..."

__ADS_1


Akhirnya Salman dan Naila pamit kepada Zie. Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Nenek Naila.


Di sepanjang perjalanan, hati mereka berbunga-bunga.


Tiba di rumah Nenek dan Kakek. Tentu tujuan utama Naila adalah Baby Kenzo. Ia rindu sekali kepada keponakannya itu.


"Kenzo...!!!"


Naila melihat Kenzo digendong oleh Neneknya.


"Kemana Mamanya, Nek? Sini Ken, sama aunty!"


Naila mengambil alih Kenzo dari gendongan Neneknya.Mereka duduk bersama di ruang tamu.


"Ada, di kamarnya!"


Tidak lama kemudian, Freya dan Alfano keluar dengan rambut yang masih lembab.


"Daritadi, Dek?"


"Iya daritadi! Kalian ngapain baru keluar?"


"Naila, kamu kayak anak kecil aja! Sama-sama pengantin baru, jangan ditanyain ngapain! Nenek menimpali.


Naila menjadi kikuk.Dia paham maksud sang Nenek.


"Sini Ken sama Mama dulu! Waktunya mimi ASI!"


Alfano mendekati Salman dan berbisik pelan di telinganya.


"Sepertinya Naila belum jebol? Belum kamu apa-apain ya, Man?"


"Apaan sih, Bang?Terserah aku dong! Ingat si Kenzo masih bayi tuh! Jangan dibikinin adik dulu!" Bisik Salman kembali.


"Kalian bisik-bisik apa?" Tanya Freya.


"Nggak ada! Aku hanya kasih tips ke saudaraku ini!" Ujar Alfano sambil menepuk pundak Salman.


Menjelang sore, Salman dan Naila pamit pulang ke rumah Ayah Faisal. Faisal bisa melihat ada yang berbeda dari anak dan menantunya. Salman masuk ke dalam rumah dengan menggandeng tangan Naila.


"Kalian sudah pulang?"


"Iya, Yah." Jawab mereka bersamaan.


"Bunga dari siapa itu, Nai?" Faisal melirik bunga yang dipegang tangan kiri Naila.


"Tentu dari saya, Ayah!" Salman yang menjawabnya.


"Ya sudah! Kalian istirahat saja dulu! Pasti capek habis keliling!"


"Iya, kami masuk dulu, Yah!" Pamit Naila.


Faisal tersenyum melihat keduanya. Sepertinya mereka sudah tidak canggung lagi.


"Semoga Salman menjadi jodohmu yang terakhir, Naila." Ucap Faisal, lirih.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih selalu mendukung karyaku kakak readers...


Semoga kita semua diberikan kesehatan....

__ADS_1


See You Again...


__ADS_2