Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Salah paham


__ADS_3

Keesokan harinya, jam 21.31.


Saat ini, hujan tengah mengguyur kota Jogja. Naila masih berada di dalam distro sedang mengecek pembukuan. Semua karyawan sudah pulang sejak jam 21.00. Suara semakin mencekam saat suara guntur bergemuruh. Naila ingin sekali menghubungi Salman, namun dia merasa sungkan. Dia tidak ingin merepotkan Salman. Untuk menutupi ketakutannya, dia berbalas chat dengan Farah. Dia tidak mungkin menelpon, karena ada petir.


20 menit berlalu, namun hujan malah semakin deras. Saat dirinya ingin mengunci pintu distro, ada seseorang yang datang dengan memakai jas hujan. Naila ketakutan melihat hal itu. Namun saat orang tersebutvmembuka hidup jas hujannya, Naila merasa lega. Ternyata Salman yang datang menggunakan motor.


"Salman, aku sudah ketakutan! Aku pikir siapa yang datang!"


"Kamu kira aku zombie?"


"Bu-bukan begitu! Aku sudah sangat takut!"


"Haccim...haccim...!" Salman mulai bersin.


"Ayo masuk, Man! Kamu pasti Kedinginan! Buka dulu jas hujannya! Lantainya bisa basah!"


"Kamu kenapa belum pulang, Nin?"


"Aku sedang mengecek pembukuan, karena banyak barang yang laku hari inu. Aku takut tidak sesuai, gitu! Kamu kok bisa datang ke sini, ada apa?"


"Ada seseorang yang nemanggilku! Haccim....!"


"Siapa?"


"Ya, kamu-lah!"


"Mana ada?"


"Iya, kamu panggil aku pakai kontak batin!" Goda Salman.


Yang sebenarnya adalah Salman mengecek CCTV distro dari HP-nya. Dia melihat Naila seorang diri. Lalu dia meninggalkan rumah tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya yang sudah tidur di dalam kamar. Untuk menyamarkan kepergian, Salman memakai motor milik Edo yang berada di garasi unit rumah sebelahnya.


Salman tidak sadar, ucapannya membuat hati Naila berbunga-bunga. Namun Naila masih bisa mengontrol hatinya.


Naila melihat Salman kedinginan, dia bersin tak henti-henti.


"Nih! Pakai jaketku, Man!" Naila memberikan jaketnya kepada Salman."


"Tidak! Aku bisa mengambil stok distro."


"Stok jaket habis! Hari ini laku keras! Sudah, kamu pakai saja!"


Akhirnya Salman memakai jaket Naila. Dia menghirup bau parfum Naila yang melekat pada jaketnya. Suasana dingin membuat Salman terlena.


"Ya Allah, tolong kuatkan imanku!" Do'a Salman dalam hati.


Hujan sudah mulai reda. Salman mengajak Naila pulang. Saat mereka melangkah hampir smpai ke pintu distro, Naila terpeleset dan hilang keseimbangan. Reflek dia berpegangan ke tangan Salman. Namun, Salman yang tidak siap, ikut terjatuh bersama Naila. Dan saat ini mereka sama-sama terbaring di lantai dengan posisi miring berhadapan. Ada percikan air di lantai sisa jas hujan yang dipakai Salman, dan membuat mereka jatuh.


"Aduh!"


"Sakit ya, Nin?"


"Iya, kamu juga pasti sakit! Maaf aku sudah membuatmu jatuh juga, Hehe..."


"Aku maafkan!" Ujar Salman, memasang mood cool. Padahal sebenarnya dia senang.


Posisi mereka belum berubah. Entah dari mana datangnya bisikan itu.Tangan Salman mengelus pipi Naila. Dia hanya manusia biasa, yang kadang lemah imannya.

__ADS_1


jeddar....


Suara guntur dan kilat petir bersamaan. Lampu mati dengan seketika. Dan hujan-pun deras lagi.


"Salman!" Sontak Naila meraba keberadaan Salman. Naila takut kegelapan. Dulu dia pernah terkunci sampai malam di dalam gudang, saat meratapi kepergian Ibunya.


"Aku masih si sini, Nin!" Salman meraih tangan Naila.


Tangan keduanya dingin sekali.


"Ayo, bangun!"


"Au!"


"Kenapa, Nin?"


"Lututku sakit, Man!"


"Duduklah dulu! Jangan ditekuk! Luruskan saja kakinya! Ini pasti ada kaitan dengan waktu kamu jatuh dari pohon dulu!"


"Kamu masih ingat?"


"Tidak ada yang terlewatkan dari ingatanku."


seerrr...


Seperti ada kehangatan yang mengalir dalam tubuh Naila. Ia tidak menyangka Salman masih mengingat hal itu.


"Au! Jangan dipegang!" Pekik Naila saat Salman menyentuh lututnya.


Tiba-tiba lampu menyala.


Suara itu mengagetkan Salman, hingga tangannya tergelincir dan tubuhnya terjelembab ke tubuh Naila.


"Salman!" Raisya mrndekati putranya, dan menariknya untuk bangun. Kemudian dia memapah Naila untuk bangun


"A-ayah! Bunda! Ini tidak seperti yang kalian lihat!"


"Bunda sudah mewanti-wanti kamu untuk menjauhi perbuatan yang dilarang Allah! Apa jadinya kalau kami tidak datang?"


Haris menjewer telinga putranya.


"Au, au, sakit!"


"Sakit katamu, iya? Mau kamu apakan anak orang? Salman, Ayah tidak pernah meninggalkanmu kurang ajar kepada perempuan mana-pun! Untung saja kami yang melihat, bagaimana kalau orang lain yang memergoki?"


"Ma-maaf Om, Tante! Salman tidak berbuat apa-apa!"


"Naila, kamu jangan membela dia! Kamu tidak tahu akal busuk laki-laki kalau sudah berdekatan dengan wanita!"


"Bunda, akalku tidak busuk! Bunda meragukanku?"


"Jangan banyak bicara kamu, bocah!" Tegas Haris.


"Naila, ayo ikut kami ke rumah! Tinggalkan saja Salman sendiri!"


"Bunda!"

__ADS_1


"Kami akan membawa Naila ke perumahan! Kamu pulanglah kalau sudah reda! Naila tidak aman kalau masih bersamamu saat ini!"


Salman tidak bisa membantah


 orang tuanya. Raisya dan Haris membawa Naila ke perumahan.Risya memapah Naila, karena lututnya masih sakit. Naila sudah memaksa untuk pulang ke kost-nya. Namun Keduanya tidak bisa dibantah.


Salman mulai frustasi menunggu hujan reda.


"Apa-apaan sih, mereka! Keterlaluan sekali! Anaknya ini laki-laki yang baik hati, mereka meragukan didikannya sendiri!" Salman bermonolog.


Mereka sudah sampai di perumahan. Baru kali ini Naila menginjakkan kaki di rumah Salman. Salman memang tidak pernah membawa Naila ke rumahnya, karena mereka bukan mahram. Dan pesan Bundanya itu selalu dia rekam dalam otak dan hatinya.


"Naila, sementara kamu tidur saja di kamar Salman. Maaf kamarnya hanya dua. Salman tidak mau mengambil rumah yang lebih besar. Di kamar ini sudah ada kamar mandinya. Kamu jangan takut, aku tidak akan memarahimu! Justru aku akan memarahi Salman."


"Tidak, Tante! Jangan marahi Salman! Dua tidak salah! Tadi hanya kecelakaan saja."


"Besok kita bicarakan lagi, sekarang kamu istirahat saja! Ini piama Tante, sepertinya cukup untuk kamu pakai.Apa kamu sudah shalat Isya'?"


"Alhamdulillah sudah, Tante! Tadi di distro."


"Kalau butuh sesuatu panggil saja Tante. Kakimu sudah mendingan?"


"Iya, Tante."


"Ayahnya Salman memang pintar mengatasi masalah kaki. Jadi ingat dulu saat pertemuan kami di Bali." Raisya tersenyum membayangkan masalalunya dengan Haris.


"Ah, ya sudah! Kamu istirahat saja! Biarkan Salman tidur di luar atau tidur bersama kami nanti."


Naila saat ini sedang berada di kamar Salman. Kamar yang cukup sederhana berukuran 4x6 meter. Dengan nuansa monokrom.


"Kenapa aku bisa terjebak di sini?" Batin Naila.


Jam 23.02 Salman baru sampai di rumah. Bundanya masih menunggunya di ruang tamu. Salman masih bersin-bersin.


"Ini, bunda bikinin wedang jahe! Minumlah!"


"Nindi mana, Bund?"


"Tidur di kamarmu!"


"Terus, aku?"


"Kamu tidur dengan kami."


"Aku bukan anak kecil lagi, Bun!"


"Ya sudah tidur di sini."


"Bunda..."


"Cukup! Jangan banyak bicara! Bunda mau tidur! Besok kamu harus disidang! Berani-beraninyaya pegang-pegang anak gadis orang!"


"Bunda, Nindi bukan gadis, dia sudah pernah menikah. Tapi aku tidak berani macam-macam dengan gadis mana-pun apalagi sama dia." Batin Salman. Dia tidak ingin menyanggah ucapan Bundanya lagi. Karena sudah malam, dan dia sudah sangat kedinginan. Salman masuk ke kamar dan tidur di tengah kedua orang tuanya seperti seorang balita.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


See you again....


__ADS_2