Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Rumah Farah


__ADS_3

"Sakit rasanya...Ya Tuhan tidak seharusnya aku menampar Kak Adit! Kenapa kamu menjadi semarang ini, Nai?"Batin Naila.


Adit pergi dari rumah untuk menenangkan diri. Naila memasukkan baju-bajunya ke dalam tasnya.


"Ma, Pa, aku pamit. Terima kasih karena Mama dan Papa sudah menerimaku dengan baik selama ini. Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri dan menantu yang baik. Aku tidak tahu kebenaran yang terjadi. Aku menikah dengan Mas Adit, murni karena ingin menyelamatkan kedua keluarga dari gosip yang tidak baik. Tolong sampaikan salamku kepada Kak Adit, segera urus perceraian kami."


"Maafkan kami juga, Nai!" Ujar Mama Dina, kemudian memeluk Naila. "Kalau boleh jujur, kami sangat suka sama kamu. Kamu wanita yang baik, sangat baik malah. Tapi keadaan harus begini, biar sopir yang mengantarmu pulang ya?" Ujar Mama Dina. Papa Arif hanya diam saja, Ia sangat kesal kepada Adit.


"Ti-tidak usah, Ma! Saya bisa sendiri."


"Tapi kami tidak enak, Nai! Bagaimana tanggapan Pak Faisal dan keluargamu nanti."


"Aku yang akan bilang kepada Ayah. Pelan-pelan mereka harus tahu yang sebenarnya. Aku pamit dulu, Assalamu'alaikum." Naila mencium punggung tangan Mama Dina dan Papa Arif.


Setelah keluar dari rumah itu, Naila segera mencegat taksi yang lewat. Dia naik taksi menuju stasiun kereta api. Ternyata dia sudah memesan tiket secara online untuk pemberangkatan kereta jam 6 sore. Naila tidak pulang ke rumah, tapi langsung ke Jogja. Ia menonaktifkan HP-nya saat kereta sudah berangkat.


Saat ini Naila sedang berada di dalam gerbong kelas bisnis. Naila duduk seorang diri di barisan kursinya. Sekilas bayangan Salman nampak di matanya. Dia ingat saat pertemuan mereka di kereta Beberapa minggu yang lalu.


"Stop, Naila! Harapan sudah usai! Statusmu sudah berubah! Meski kehormatanmu masih utuh, statusmu akan berpengaruh besar di dalam hidupmu." Batin Naila.


Malam ini hujan turun sangat deras. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Naila tertidur dalam keadaan lelah jiwa dan harganya.


Sampai akhirnya kereta sudah sampai di stasiun Jogja. Naila terbangun dan mengambil tasnya. Sudah jam 12 malam, Naila naik taksi menuju rumah Farah. Gerbang kost-anya sudah pasti ditutup.


Saat ini dia sudah sampai di depan gerbang rumah Farah.


"Pak Gogon, Pak!" Naila memanggil nama satpam yang berjaga di rumah Naila. Oak Gogon yang terlelap sontak kaget.


"E hantu, e bidadari!"


"Pak Gogon, ini saya!"


Pak Gogon mengusap kedua matanya, untuk memperjelas penglihatannya.


"Lho, Non Naila?"


Pak Gogon kenal dengan Naila, karena ia sering main ke rumah Farah.


"Iya, Pak. Maaf bertamu malam-malam, Farahnya ada?"


"Ada Non! Non Farah pasti di kamarnya. Ayo saya antar."


"Iya, Pak."


Pak Gogon membuka pintu rumah kemudian mengantar Naila ke kamar Farah. Keadaan rumah sangat sepi, karena penghuninya sudah tidur.


Tok


Tok


Tok


"Non Farah, Non....!!!"


"Siapa?" Sahut Farah dari dalam kamarnya


"Saya, Non! Pak Gogon!"


Ceklek


Farah membuka pintu kamarnya.


"Naila!!"

__ADS_1


"Iya, Far!"


"Ya sudah! Saya tinggal ke depan lagi ya, Non?"


"Terima kasih, Pak Gogon."


"Sama-sama, Non cantik."


"Naila... kamu kemana saja? Nomormu kok nggak aktif?" Farah memeluk sahabatnya.


"Aku ganti nomor, boleh masuk nggak nih?"


"Boleh dong! Ayo masuk-masuk!Kamu kabur dari rumah apa gimana aih? Kok malam banget?"


"Kamu belum tidur, Far?"


"Belum, tadi masih telponan sama Ayang! Lagian besok nggak ada kuliah."


"Maaf ya aku mengganggumu malam-malam begini, hampir pagi juga!"


"Nggak pa-pa, kamu ganti baju dulu gih! Terus bobo, dan besok kamu harus cerita!"


"Hem... iya-iya! Aku mau ke kamar mandi dulu."


Setelah balik dari kamar mandi, Naila melihat Farah sudah tidur. Ia juga segera merebahkan diri, mencoba memejamkan mata untuk tidur.


Namun Naila belum juga bisa tidur. Akhirnya dia memutuskan untuk berwudhu' dan shalat malam.


Dalam sujudnya, ia tumpahkan segala keluh kesahnya kepada Sang Pencipta alam semesta. Ia menangis tersedu-sedu di atas sajadahnya.


"Ya Allah ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku. Sayangi mereka seperti mereka menyayangiku. Lindungilah mereka dimanapun berada. Semoga Kak Freya diberikan kelembutan hati, dan menemukan jalan terbaik. Maafkan hamba-Mu yang lemah ini, aku sudah tidak kuat bertahan dalam pernikahan yang jauh dari kata sakinah. Aku tidak mampu memikul beban yang lebih berat dari ini, Ya Allah. Semoga semua urusanku dengan Kak Adit segera selesai. Hapuskan perasaanku untuk salman jika dia bukan jodohku. Aku tidak pantas berharap lebih kepada-Mu ya Allah. Aku pasrahkan hidup dan matiku kepada-Mu. Tuntun aku agar selalu di jalan-Mu, amiin...."


Setelah bermunajat, Naila membaca Al-Qur'an sampai akhirnya dia merasa ngantuk dan tidur di atas sajadahnya.


"Hem..."


"Sudah jam 5, kamu sudah shalat Shubuh apa belum?"


"Belum, Far!" Naila tersentak, ia melepas mukenahnya dan pergi ke kamar mandi.


Setelah shalat Shubuh, mereka tidur lagi karena sangat mengantuk. Sebenarnya itu bukan kebiasaan Naila, namun Naila merasa sangat pusing karena banyak pikiran dan kurang tidur.


Tok


Tok


Tok


"Non Farah....! Non.....!!!!"


Tok


Tok


Tok


Karena terganggu dengan suara ketukan, Naila terbangun. Ternyata sudah jam 8 pagi. Dia membangunkan Farah.


"Fara, Farah! Bangun! Itu ada yang manggil kamu!"


"Biarkan saja! Masih ngantuk!" Jawab Farah, malas.


"Sudah jam 8 ini, Far!"

__ADS_1


"Kamu saja yang bukain, Nai!"


Naila membuka pintu kamar Farah.


"Non...! Eh Non Naila! Nginep di sini, Non?


"Iya, Bi."


"Non Farahnya mana?"


"Masih tidur, Bi."


"Bilangin ke Non Farah, Mama sama Papanya pergi ke rumah Omanya. Nanti kalau ada sesuatu akan dikabari katanya. Dan kata Ibu tadi, Non Farah jangan lupa sarapan!"


"Iya, Bi! Nanti saya sampaikan, terima kasih ya, Bi?"


"Iya, Non, sama-sama."


Setelah drama memanfaatkan Farah yang cukup sulit, akhirnya saat ini Farah dan Naila sarapan pagi tepat jam 9.


"Nai, makan yang banyak! Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri."


"Iya, terima kasih, Far."


Setelah sarapan pagi, Farah menagih janji kepada Naila untuk bercerita.Saat ini mereka sedang duduk di halaman belakang rumah Farah. Ada perkebunan sayur organik di sana. Papa Farah senang sekali bercocok tanam. Farah dan Naila berkeliling kebun sambil bercerita.


Naila menceritakan kisahnya dari awal sampai akhir. Sesekali ia mengusap matanya yang berair, saat dia teringat Sang Ayah.


"Naila, kenapa kamu tidak cerita,sama aku? Kamu malah ganti nomor dan menjauh?"


"Aku kira, aku tidak akan kembali lagi ke Jogja, Far! Aku kira, kehidupanku akan membaik seiring berjalannya waktu. Tapi Tuhan punya rencana lain."


Grrep...


Farah mendekap erat sahabatnya.


"Kamu kuat banget sih, Nai! Kalau aku dalam pisisimu, aku tidak mungkin sekuat ini. Lalu bagaimana rencanamu ke depan?"


"Nanti aku akan menghubungi Ayah! Kasihan, Ayah pasti bingung tidak dapat kabar dariku."


"Aku akan mendukungmu, untuk sementara kamu tinggal saja,di rumahku, ya?"


"Apa boleh? Aku sungkan dengan orang tua dan Kakakmu."


"Tentu boleh banget, Naila!"


"Terima kasih, Far."


"Capek ah, dari tadi terima kasih terus!"


"Hehe..."


"Nah, gitu dong! Jangan nangis lagi!"


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih atas dukungannya ya Kak 😘


See you again....

__ADS_1


__ADS_2