Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Undangan


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Naila masih menikmati masa kehamilannya. Ia tidak merasakan mual dan muntah. Namun ia sering pusing sehingga malas melakukan sesuatu. Sebagai seorang Ibu, tentu Ajeng sangat berperan dalam keadaan Naila saat ini. Salman pun selalu mengecek keadaan istrinya saat dia di kantor. Raisya juga sering berkunjung ke rumah anak dan menantunya untuk sekedar mengirim makanan atau bermain dengan cucu-cucunya.


Saat ini Salman sedang di kantor pusat.


Deni, asistennya di sana pagi ini memberikan laporan.


"Bos, untuk bulan ini ada 70 jama'ah yang akan berangkat. Tapi akan dibagi menjadi dua gelombang. Ustadz Azis akan mengdampingi gelombang pertama. Dan Ustadz Raihan untuk gelombang ke dua. Apa ada yang perlu dirubah, Bos?"


"Kamu kapan mau berangkat?"


"Nunggu calon dulu deh, Bos! Nanti berangkatnya sama istri gitu, kan seru!Hehe..."


"Ibadah bukan untuk seru-seruan, Den! Kamu bahkan sudah berusia 27 tahun!Berangkatlah! Siapa tahu pulang dari sana dapat jodoh!


"Akan saya pikirkan, Bos!"


"Kalau semua sudah clear, saya setuju! Tidak ada yang perlu di rubah. Semuanya sudah diakoordinasi dengan pihak sana, kan?"


"Sudah, Bos!"


Jam istirahat, Salman shalat Dhuhur dan makan siang bersama Deni di luar. Mereka memilih restoran masakan Padang yang dekat dengan kantor. Deni meminta motor milik satpam. Salman yang meminta untuk menghindari kemacetan.


Sampai di restoran, Deni memesan makanan untuk dirinya dan bosnya.


Tidak lama kemudian, makanan pun datang. Mereka menikmati makan siang dengan santai.


Saat makan, tidak sengaja Salman melihat seseorang yang ingin dia selidiki.


"Bos! Bos!" Deni melambaikan tangannya di depan wajah Salman.


Salman berdiri, mengabaikan lambaian tangan Deni. Ia berjalan cepat mengikuti orang tersebut. Namun ternyata ia kalah cepat. Orang tersebut sudah naik ke mobil dan meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.


"


Salman pun kembali ke tempat duduknya.


"Ada apa sih, Bos? Kok kayaknya lagi ngejar sesuatu?"


"Iya, sayang orangnya udah pergi! Mau ngejar pin percuma!"


"Cewek ya, Bos?"


"Bukan!"


Dihabisin dulu makanannya, Bos! Kata Mamaku mubadzir kalau buang makanan!"


"Hem..."


"Aku harus mencari tahu tentang dia! Jangan sampai kisah yang lalu terulang kembali! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Batin Salman.


-


Di rumah Naila


Ada seseorang datang bertamu. Sebenarnya Naila tidak mau menemui tamu tersebut, namun ia masih punya belas kasih.


"Daritadi, Dil?"


"Ah tidak juga, kok!"


"Tahun alamat kami dari siapa?"


"Dari Fandi, dia teman Salman juga!"


"Oh.."


Salman kerja ya?"


"Iya, ayo diminum dulu!"


"Iya, terima kasih."

__ADS_1


"Naila, aku ke sini mau ngasih undangan untuk kamu dan Salman, bulan depan aku akan menikah." Ucap Dila dengan senyum bangga.


"Oh, begitu? Selamat ya!"


 Naila menjabat tangan Dila.


"Iya, terima kasih! Alhamdulillah aku dipertemukan dengan seseorang yang tepat, mapan dan pewaris satu-satunya! Jadi mulai saat ini kamu tidak perlu takut aku akan merebut Salman!"


"Kenapa aku harus takut, Dil? Suamiku tidak akan menukar kebahagian keluarga dengan kebahagiaan sesaat! Jodoh itu cerminan diri, semoga kamu mendapatkan Kebahagiaan nantinya."


"Ah, iya! Ini undangannya!" Raut wajah Dila berubah menjadi kesal.


"Nanti akan saya sampaikan ke Mas Salman."


"Jangan lupa hadir, ya?"


"Insyaallah."


Akhirnya Dila berpamitan pulang. Setelah kepergian Sila, Naila membaca undangannya.


"Aditya Farhan"


deg


Hati Naila seakan ingin loncat. Bagaimana tidak? Nama itu pernah menjadi sejarah dalam hidupnya.


"Ah, tidak! Nama orang pasti banyak yang mirip! Tapi kalaupun itu orang yang sama, aku tidak perlu khawatir. Toh keduanya akan menjadi pasangan. Semoga mereka tidak pernah mengganggu hidup kami lagi!" Batin Naila.


"Naila..."


"Eh, Ibu! Iya, kenapa, Bu?"


"Itu si Arya bikin ulah lagi! Masa' sandalnya digunting!"


"Astaga... anak itu! Iya bu, akan aku urus!"


Naila pergi ke belakang menemui Arya.


"Mas, kok digunting sandalnya? Jadi rusak, kan?"


Naila geleng-geleng kepala melihat kelakuan Arya.


"Nanti dimarahin Abi, Mas!Sini guntingnya kasih, Ummi!"


Naila meminta gunting yang dipegang Arya. Namun Arya menolak.


"Ndak mau, Mi! Ummi beli cana! Ini punyaku!"


"Siniin, Mas! Ya udah kalau Mas nggak mau nurut sama Ummi, nanti adiknya ummi kasih ke Tante Luna!"


"Ndak mau, Mi! Itu Adiknya Mas!Ya udah ini tukel (tuker) cama dunting (gunting)! Tapi dede jangan dikacih Ante Una!"


"Iya, ini adeknya Mas Arya!" Naila menunjuk perutnya.


Naila membawa gunting tersebut dan menyimpannya di laci paling atas agar tidak bisa dijangkau anak-anaknya.


Tidak mudah menjadi Ibu muda dengan tiga anak yang super aktif. Namun Naila menikmatinya. Karena suatu saat nanti, ia pasti akan merindukan masa-masa seperti sekarang.


Terdengar suara Handpond Naila berdering. Ia segera mengangkatnya.


"Hallo, Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam, Mi!"


"Sudah makan, By?"


"Sudah, Mi! Kamu gimana?"


"Belum, ini mau makan! Barusan masih ngurus Arya!"


"Kenapa dengan lagi anak itu, Mi?"


"Biasa, ekaperimen lagi!"

__ADS_1


"Yang sabar ya, Mi!"


"Iya, By!


"Kamu mau dibeliin apa, Mi?"


"Kayaknya makan sate usus enak, By!"


"Oke, nanti aku belikan! Sudah dulu ya? Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Beberapa jam kemudian, Salman sudah sampai di rumah. Tidak seperti biasanya, suasana nampak sepi. Ia tidak mendengar suara ketiga anaknya.


Naila baru keluar dari kamar mandi, ia menghmpiri suaminya dan mencium punggung tangan suaminya.


"Mi, kok sepi? Kemana anak-anak?"


"Baru saja Bunda sama Ayah pergi dari sini! Anak-anak ikut dengan mereka!"


"Tumben Arya mau ikut juga?"


"Nggak tahu, By! Anak ajaibmu itu susah ditebak! Jangan sampai besarnya kayak Abinya!"


"Emang aku kenapa, Mi?"


"Narsis, tengil, sok ganteng!"


"Lha, kenyataannya begitu!"


Naila hanya bisa menggeleng kepala mendengar ucapan suaminya.


"By, emang Mbak Salwa mau dijodohin sama siapa sih?"


"Kenapa, Mi?"


"Nggak pa-pa, cuma penasaran aja! Soalnya tadi kebetulan Ayah menelpon Mbak Salwa, tapi sepertinya Ayah tidak menerima penolakan."


"Ya begitulah! Biarkan saja! Aku akan memantau dari jauh. Kamu tidak usah memikirkannya! Cukup fokus jaga kesehatan!"


"Oke, baiklah! Oh iya, tadi Dila ke sini, By."


"Hah, Dila? Ngapain dia ke sini, Mi?"


"Nganterin undangan peenikannya, dia mau nikah sama orang kaya raya katanya! Nih, undangannya!"


Naila memberikan undangan itu kepada Salman.


"Oh, akhirnya nikah juga dia!"


Salman menerima undangannya, namun tidak ia baca.


"Ya, begitulah! Mau hadir, Bi?"


"Apa kata nanti deh! Mi, pacaran yuk!


"Pacaran gimana? Anak udah mau empat masih ngajak pacaran!"


"Kencan gitu, Mi! Mumpung anak-anak di rumah Omanya!"


"Wah, boleh juga! Ayo, By! Tapi ke mana?"


"Gampang, nanti jalan dulu saja! Ayo siap-siap! Jangan lupa telpon Bunda dulu, bilang anak-anak jemputnya nanti maleman gitu."


"Iya, By."


Naila segera bersiap-siap ganti baju dan tidak lupaenelpon mertuanya.


Setelah keduanya siap, mereka pun berangkat.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


See you again....


__ADS_2