
Naila sampai di kost setelah shalat Maghrib. Malam ini dia libur kerja, karena memang ada jatah satu hari dalam seminggu untuk libur. Naila memilih hari jum'at malam sabtu, agar dia lebih banyak waktu bisa beristirahat. Karena hari jum'at sabtu dan minggu kuliahnya libur.
"Naila...! Kamu baru pulang?" Sapa pemilik kost.
"Eh, Bude! Iya, tadi masih hang out sama Farah, kebetulan lagi libur shalatnya." Jawab Naila, ramah.
"Nai, tadi ada yang cari kamu! Lama banget dia nunggu, tapi kamu nggak datang-datang. Mau aku telpon tapi nggak dibolehin."
"Siapa Bude?"
"Namanya Salman, dia nitip sesuatu buat kamu. Sebentar, Bude ambil dulu."
Tidak lama kemudian Bude keluar dengan membawa paper bag di tangannya.
"Ini, Nai! Kelihatannya dia baik sekali, apa pacarmu, nduk?" Tanya Bude, hati-hati.
"Ah bukan, Bude! Hanya teman! Terima kasih ya, Bude! Aku mau ke kamar dulu!"
"Iya, sama-sama."
Akhirnya naila naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Dia segera membersihkan diri, dan menghubungi Ayahnya. Hal itu selalu ia lakukan, sebelum Ayahnya menghubungi dulu. Karena dia takut ketahuan kalau sedang bekerja.
Saat akan masak mie instan, Naila ingat paper bag pemberian Salman. Dia-pun membukanya. Ternyata isinya spageti, pizza hut, dan burger.
"Salman, maafkan aku. Kamu nggak boleh baik sama aku. Aku takut nggak bisa move on" Ucap Naila, lirih. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia menyantap spageti faviritnya. Rupanya Salman masih ingat makanan Naila saat masih SD.
Setelah makan spageti dan sepotong pizza, dia keluar kamar. Dan mengetuk kamar sebelahnya.
Tok
Tok
Tok
"Andin, buka dong!"
ceklek
"Eh, Naila! Ayo masuk!"
"Nggak deh udah malam! Ini ada pizza, lumayan buat ganjel perut. Tapi udah aku makan satu potong, hehe..."
"Wah, kebetulan nih! Terima kasih ya, Nai!"
"Oke, sama-sama! Ya sudah aku balik dulu ya?"
"Oke, Naila."
Naila kembali ke kamarnya. Dia meratapi hidupnya. Di saat sedang tidak bisa shalat, kadang hatinya menjadi gundah. Hanya Farah satu-satunya orang yang dia jadikan tempat bercerita.
Di Surabaya
Faisal saat ini baru pulang dari pabriknya. Dia mengendarai mobilnya seorang diri. Namanya saat akan belok kiri di perempatan jalan, dia melihat seorang wanita jatuh dari sepeda motor. Ayah Faisal menghentikan mobilnya, dan turun menghampiri wanita tersebut.
"Mbak, apa anda tidak apa-apa?"
"To-tolong, tangan saya tidak bisa digerakkan."
"Maaf, Mbak! Saya harus menyentuh anda." Ayah Faisal membantu wanita tersebut untuk berdiri.
"Anda terjatuh, atau bagaimana?"
"Tadi diserempet mobil, tapi mobilnya malah lari."
"Kalau begitu, Mbak ikut saya saja!Kita harus segera ke rumah sakit, sepertinya kakinya juga luka! Biar motornya nanti saya suruh orang untuk bawa."
"Apa tidak merepotkan anda?"
__ADS_1
"Tidak! Ini sudah larut malam, apa anda sudah menghubungi keluarga? Suaminya mungkin?"
"Iya nanti saya akan menelpon orang rumah."
Ayah Faisal memapah wanita tersebut. Dia membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Maaf dengan Ibu siapa?" Tanya perawat.
"Putri."
"Usia anda?"
"45 tahun."
"Apa anda membawa KTP, Bu?"
"Tidak, dompet saya ketinggalan di jok motor."
"Maaf, Suster! Kalau pakai KTP saya boleh? Tanya Ayah Faisal.
"Tentu, Pak! Mari ikut saya ke resepsionis."
Setelah dari resepsionis, Ayah Faisal kembali lagi ke siang observasi.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Begini, Pa! Istri anda mengalami pergeseran tulang tangan, kami akan segera menanganinya. Kalau untuk luka di kakinya tidak parah. Sudah kami bersihkan."
"Maaf saya bukan istrinya, Dok! Jawab wanita tersebut.
"Oh, maaf! Saya kira kalian ini pasangan suami istri."
"Lakukan apapun yang terbaik bagi dokter."
"Baik, Pak."
"Maaf saya sudah merepotkan anda." Ujar Putri kepada Faisal.
"Tidak, ini sudah tugas saya sebagai sesama manusia harus tolong menolong."
"Apa anda mau pulang? Kasihan, mungkin keluarga anda sedang menunggu di rumah."
"Tidak, saya hanya tinggal dengan asisten saya. Putri saya sedang merantau."
"Oh... lalu?"
"Kalau anda tidak keberatan, biarkan saya menunggu di sini sampai keluarga anda datang."
"Maaf, saya juga tidak memiliki keluarga. Hanya ada putra saya yang masih kelas 1 SMA, dan besok dia kenaikan kelas. Saya tidak mungkin menyuruhnya ke sini. Adik saya ada di Jakarta ikut istrinya."
"Hem.. jadi bagaimana ini?"
"Bisa minta tolong panggilkan perawat saja, biar saya ditemani perawat. Maaf bukan maksud saya mengusir anda, tapi saya tidak mau orang salah sangka."
"Tentu, saya akan panggil perawat. Dan besok saya akan kembali ke sini untuk menjengul anda. Maaf daritadi kita seperti robot, kaku sekali. Perkenalkan nama saya Faisal."
"Faisal? Sepertinya aku tidak asing dengan nama ini?" Batin Putri dalam hati.
"Saya Putri! Pak Faisal terima kasih, anda sudah membantu saya. Maaf sudah merepotkan anda."
"Ya sudah, saya permisi dulu. Semoga cepat sembuh!"
Faisal meninggalkan Putri di ruang inap. Sesuai permintaan Putri, Faisal meminta salah satu perawat untuk menemani Putri.
"Maaf Bu, saya diminta suami anda untuk menjaga anda malam ini."
"Terima kasih, Sus! Tapi dia bukan suami saya lho!"
__ADS_1
"Oh iya, maaf Bu! Soalnya Bapak yng tadi care banget sama Ibu, jadi saya kira suaminya."
Malam ini Putri bisa tidur mski hanya dua jam saja. Karena pikirannya tidak tenang, ia teringat kepa putranya di rumah.
Pagi ini jam 8 pagi, Faisal pergi ke rumah sakit membawa sarapan dan buah untuk Putri.
Sampai di depan kamar inap Putri, Faisal berpapasan dengan Dokter.
"Dok, bagaimana dengan keadaannya?"
"Alhamdulillah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak! Mungkin lusa sudah boleh pulang. Tapi harus dijaga dengan baik di rumah. Dan mungkin nanti harus sering kontrol ke rumah sakit."
"Alhamdulillah, terima kasih dok!"
"Iya Pak, sama-sama."
Faisal masuk ke kamar Putri.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Bagaimana keadaan anda?"
"Maaf, Mas! Eh Pak! Jangan terlalu kaku, kita kan sudah berteman, jadi panggil nama saja."
"Baik, Putri. Kamu juga boleh memanggilku kakak atau Mas. Karena kamu bukan bawahanku, jangan panggil Pak!"
"Nah gitu dong, Mas. Lebih enak dengannya."
Putri yang dari waktu muda memang orang yang supel dan ceplas-ceplos.
"Saya membawakan sarapan untuk kamu."
"Tidak usah repot, Mas! Ini sudah dapat jatah dari rumah sakit."
"Tapi pasti nggak enak, buktinya kamu belum memakannya."
"Hehe...iya sih!
"Ya sudah, ini makanannya dimakan dulu."
Dengan telaten Faisal membuka makanan dari rantang ia bawa. Bi Ijah yang memasak sayur sop dan perkedel.
"Maaf tidak pakai sambel, karena kata Ijah kalau orang sakit nggak boleh makan sambel."
"Ijah?"
"Ijah itu asisten rumah tanggaku."
"Maaf, istri kamu kemana, Mas?"
"Kami sudah lama berpisah."
"Maaf, Mas. Saya tidak tahu."
"Sudah jangan dibahas lagi, ayo dimakan dulu. Bisa makan sendiri?
Putri tercengan karena dia baru sadar kalau tangan kirinya diperban sedangkan tangan kanannya diinfus.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih sudah mampir di karyaku, Kakak.
See you again.....
__ADS_1