Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Masa lalu


__ADS_3

Akhirnya, Faisal sampai di rumah sakit, dijemput oleh Edo. Ia langsung mencari kamar putrinya.


Beruntung Haris sedang duduk di kursi depan kamar Naila. Faisal tidak kesulitan untuk mencari kamar Naila.


"Pak Faisal!"


"Pak Haris!"


Kedua lelaki itu berjabat tangan dan saling mendekap.


"Selamat menjadi Kakek, Pak Haris!"


"Selamat juga untukmu, Pak Faisal! Mari masuk!"


Keduanya masuk ke dalam kamar Naila.


Mata Naila berbinar saat melihat kedatangan Ayahnya. Ia merentangkan tangannya, ingin memeluk sang Ayah.


"Ayah!"


"Oh putri kecilku sudah menjadi Ibu."


"Ayah, aku sudah dewasa!"


"Ah iya, Ayah lupa! Putriku sudah sangat dewasa."


Faisal mengecup kening putrinya.


"Maafkan Mamaku! Dia tidak bisa ikut!"


"Aku mengerti, Yah! Kak Freya sudah dikasih tahu, Yah?"


"Sudah! Kakakmu juga nggak bisa ke sini!"


"Kenapa, Yah?"


"Kenzo sedang sakit!"


"Hem..kasihan sekali! Nanti aku akan menghubunginya!"


Faisal diajak Salman untuk melihat bayinya di ruang bayi.


"Kamu sudah memberi mereka nama, Nak?"


"Sudah Ayah! Namanya Alya, Arya, Ayla, nama belakangnya Salmana!"


"Alhamdulillah, Ayah lega melihat mereka sudah lahir."


Raisya tidak pernah absen menginap di rumah sakit menemani Raisya dan Salman. Haris dan Faisal pulang ke rumah Salman sekedar untuk beristirahat. Sewaktu-waktu mereka ke rumah sakit membawakan sesuatu yang diperlukan.


Tiga hari berlalu, akhirnya hari ini Naila bisa pulang ke rumah.


Kakek dan Nenek 3A mendapat bagian menggendong mereka.


Sampai di rumah, beberapa tetangga ada yang ingin menjenguk Naila dan bayinya.


"Silahkan duduk, Ibu-ibu! Mari dimakan, maaf seadanya!"


"Terima kasih, Jeng! Tidak usah repot-repot! Kami ini penasaran dengan bayinya lho! Secara Mamanya cantik, Papanya ganteng, pasti anaknya cakep-cakep!"


Raisya hanya bisa tersenyum melihat kehebohan Ibu-ibu kompleks.


"Ini Bayinya Bu!" Raisya mendorong box ketiga bayi tersebut dari dalam kamar Salman. Ketiganya tidur dalam satu box yang cukup besar.


"Masyaallah lucunya, idungnya mancung!"


"Iya, mirip dek Salman ya? Yang ini mirip dek Naila dikit."

__ADS_1


"Maaf ya, dek Naila! Kami hanya membawa seadanya."


"Tidak apa-apa, Bu! Ditengokin saja sudah Alhamdulillah, terima kasih."


Setelah tamu berangsur pergi, barulah mereka bisa beristirahat. Para Kakek dan Nenek bergantian menjaga cucu-cucunya.


Salman berusaha menghibur dan mensuport Naila agar istrinya iru tidak terkena baby bluss. Ia khawatir, karena usia Naila yang masih muda dan harus merawat tiga bayi meskipun sudah ada yang membantu.


"Sayang, capek? Mau aku pijitin?"


"By, kepalaku pusing!"


Salman nemijit kepala Naila dengan lembut.


"Sayang, aku akan mencari baby sitter untuk bayi kita."


"Boleh, tapi harus diseleksi dulu! Dan ingat, usianya harus 30 ke atas!"


"Oke! Dua orang cukup? Atau mau tiga sekalian?"


"Ish, banyak sekali!"


"Nggak pa-pa, biar satu orang pegang satu bayi. Kamu juga masih harus kuliah!"


"Kok rasanya aku udh males ya, By! Pingin berhenti saja!"


"Eh, jangan dong! Kan, sayang! Dua semester lagi lulus! Kmu tetap kuliah dari rumah saja! Nanti kalau KKN kamu bisa minta keringanan untuk ditempatkan di wilayah yang dekat. Pokoknya kamu tenang saja, aku yang akan mengurusnya."


"Baiklah, terserah kamu saja, By!"


Terdengar suara tangisan bayi yang bersahutan dari ruang tamu. Rupanya Alya dn Arya tengah menangis.


"Kenapa, Bun?"


"Sepertinya Alya pup! Kalau Arya, itu tadi duo kakeknya ngobrol keras banget, mungkin terkejut!"


"Maaf, maaf, boy! Kakek tidak sengaja!"


Naila mengambil Alya dari gendongan Raisya. Kemudian ia mengganti pempers bayinya.


Faisal hanya menginap satu minggu di Jogja. Ia harus pulang untuk mengurus usahanya. Ia juga kepikiran istrinya. Meskipun ada yang menemani Putri di rumah, ia khawatir istrinya yang bar-bar itu ngidam yang macam-macam lalu keluar sendirian.


Begitu pula dengan Haris. Ia harus kembali karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Raisya, aku titip Naila! Tweima kasih sudah menjaganya selama ini!"


"Iya, Mas! Kamu tidak usah khawatir! Em... bagaimana dengan Ajeng, apa Naila mau bertemu dengan Ibunya?"


"Naila sendiri yang meminta, nanti biar Putri yang menghubungi Ajeng."


"Bunda, kamu jaga kesehatan, ya?" Ular Haris kepada istrinya.


"Iya,Yah! Titip salam sama anak-anak ya?" Nanti kalau cucu kiya usianya sudah 40 hari, aku akan pulang."


"Duh, bukan Salman saja yang puasa kalau begini, saya juga kecipratan kudu puasa."


"Ayah, kalau ngomong suka bener!Hehe..." Ujar Salman.


"Kami berangkat dulu!"


Naila mencium punggung tangan Ayah dan mertuanya. Raisya pun mencium punggung tangan suaminya.


Salman dan Edo mengantar Haris dan Faisal ke bandara.


Setelah kepergian mereka, Naila menggenggam tangan Raisya.


"Bunda, maaf ya?"

__ADS_1


"Maaf, untuk apa?"


"Sudah ngerepotin, Bunda! Misahin Bunda dari Ayah juga!"


"Sstt... kamu itu ngomong apa? Aku sangat senang bisa merawatmu dan cucuku. Kami ini sudah tua, Naila! Kamu jangan kemakan omongan Ayah! Sia sama suamimu itu 11-12!"


"Tapi Bunda cinta, kan?"


"Kalau itu jangan ditanya! Haha...."


"Em... Bunda, boleh aku tanya sesuatu?"


"Iya boleh, tanya saja! Kita nyantai dulu ya sebelum triple A bangun."


"Tapi Bunda jangan tersinggung, ya?"


"Iya, tanya saja! Apa?"


"Apa benar dulu Bunda pernah menikah dengan Om Firman sebelum dengan Ayah Haris?"


Raisya sedikit terkejut mendengar pertanyaan Naila. Namun ia berusaha untuk menjaga sikap.


"Maaf, Bun! Kalau Bunda keberatan, tidak usah dijawab! Aku hanya penasaran!"


"Tidak, Bunda tidak masalah! Itu hanya masa lalu, namun tidak ada masa depan tanpa masa lalu!"


"Bunda sangat baik! Keluargaku, terutama Tante Septi dan Om Firman pernah berbuat kesalahan kepada Bunda. Tapi Bunda bisa menerimaku dengan baik."


"Naila, kalau aku masih hidup dengan Firman, belum tentu aku punya anak setampan dan senantiasa Salman, iya kan? Allah itu thu yang terbaik untuk makhluknya!"


"Dan kalau misal Bunda jadi dengan Ayahku, mungkin aku tidak akan berjodoh dengan Salman, iya kan?"


"Bisa jadi, hehe.... hidup ini kadang lucu ya, Nai? Aku merasa dunia ini selebar dau kelor. Aku bertemu lagi dengan orang yang sama namun kisah yang berbeda."


"Aku sayang Bunda!" Naila memeluk Raisya.


"Bunda juga sayang sama kamu!"


"Oh iya, Bun! Aku sudah berjanji sama Mbak Salwa mau vidio call dengannya. Dia ingin sekali melihat triple A!"


"Kalau begitu segera dihubungi saja, Nai! Bunda juga mau nimbrung."


Akhirnya Naila pun membuka labtop dan mulai menghubungkan dengan Salwa.


Beberapa detik kemudian nampak di layar, Salwa dengan denga cadarnya yang masih menempel di wajahnya. Rupanya ia baru sampai di rumah.


"Nai, mana kepinakanku?"


"Ah iya, sebentar, Mbak!"


Naila mengarahkan kamera laptop kepada tiga bayinya.


"Masyaallah, lucu sekali! Jadi pingin nyubit!"


"Enak saja nyubit, Bunda kira jadi pingin punya bayi juga gitu! Lulus kuliah langsung nikah aja ya, Wa! Biar Bunda nambah cucu lagi!"


"Bunda...."


Obrolan mereka masih berlanjut sampai 30 menit lamanya.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yang masih belum baca dan penasaran dengan ceritanya Bunda Raisya, yuk mampir di novelku judulnya "Ketegaran Hati Raisya."


See you again Kakak....

__ADS_1


__ADS_2