Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Malam yang Syahdu


__ADS_3

Jam 10 malam, mereka kembali ke hotel. Udara malam semakin dingin. Sepanjang perjalan Salman selalu menggenggam tangan Naila.


Tiba di hotel, Naila terkejut mendapatkan surprise di dalam kamarnya. Saat membuka pintu kamar hotel, Naila disuguhkan dengan lilin kecil yang berjejer di lantai dengan taburan kelopak bunga mawar di sepanjang lorong menuju tempat tidurnya. Sesekali Naila memungut kelopak bunga mawar tersebut. Menciumnya dan menghirup wanginya. Salman memeluknya dari belakang. Suasana malam ini membuat hasrat keduanya meronta. Entah siapa yang memulai membuka pakaiannya. Saat ini mereka sudah tidak menggunakan sehelai benangpun. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya.


Salman seperti orang yang kesetanan. Menghujam lagi dan lagi. Naila seperti cacing kepanasan. Tubuhnya merespon dengan baik. Ia menggelinjang dengan lenguhsn yang terdengar seksi di telinga suaminya.


"Sayang, aku sudah mau sampai!"


"Ach arrrgghh...." Keduanya mencapai puncak bersama untuk yang kedua kalinya. Tidak lupa Salman membaca do'a setelah pelepasannya.


"Hubby, dingin."


"Sini aku peluk! Yang ke tiga nanti saja menjelang shubuh."


"Ish...kirain dikorting!"


"Haha... nggak ada diskon untuk ini, Sayang!"


Salman mengecup kening istrinya, sebelum akhirnya mereka ke kamar mandi. Dan beberapa menit kemudian mereka tidur dan mimpi indah.


Bukan Salman namanya jika tidak memenuhi keinginannya. Tepat jam 3 pagi ia terbangun karena si Joni sudah tegak dengan sempurna. Dipandanginya wajah Naila yang nampak teduh dalam tidurnya. Ia mengelus pipi mulus Naila.


"Aku sangat beruntung bisa memilikimu." Batin Salman.


Salman sudah tak tahan. Ia mere*as gunung kembar milik istrinya. Sontak Naila terkejut dan bangun dari mimpinya.


"Hubby.... apa yang..."


Sebelum Naila melanjutkan ucapannya. Bibirnya sudah ditutup oleh bibir Salman. Salman me*umat dengan lembut bibir Naila. Naila yang belum siap, ia kelabakan.


"Nafas, Sayang!"


"Kamu tiba-tiba saja, sih!"


"Ssstt... si Joni sudah tak tahan."


Dan setelah melakukan sedikit pemanasan. Salman melakukannya kembali. Sampai akhirnya si Joni terkulai lemas. Setelah itu mereka mandi bersama.


Dua hari berlalu. Hari ini mereka akan pulang. Karena lusa sudah hari senin dan Naila sudah harus masuk kuliah lagi. Setelah menjelajahi kota Paris, dan mengunjungi beberapa tempat pariwisata di sana. Mereka tidak lupa membeli oleh-oleh untuk teman dan keluarga.


Hari minggu jam 11 siang, Salman dan Naila sudah sampai di Jogja. Seperti biasanya, Edo yang menjemput mereka si bandara.


"Bagaimana bulan madunya, Bos? Lancar?" Edo membuka percakapan di dalam mobil.


"Lancar jaya, Do! Suatu saat nanti kalau kamu menikah pergilah ke sana juga!"


"Yaelah, Bos! Mau ke Paris, buat modal nikah aja nggak ada, masih nabung!"


"Nabung uang nggak pa-pa! Asal jangan nabung benih dulu!"


"Hubby... ngomongnya suka ngawur!" Naila menimpali.


"Iya nih, si Bos! Lagian saya nggak punya gebetan apalagi pacar, Bos! Tenang saja, saya ini anak sholeh!"

__ADS_1


"Ya,ya... aku percaya!"


"Oleh-oleh buat saya ada kan, Bos?"


"Tenang saja, ada kok!"


"Alhamdulillah."


Akhirnya beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah.


Sampai di rumah, mereka langsung beristirahat. Jam 2 siang mereka bangun untuk shalat Dhuhur. Naila mengecek Handphone dan ternyata ia mendapat chat dari sang Ayah. Rupanya Ayahnya akan mengunjunginya besok. Tentu Naila sangat bahagia.


"Kok senang banget? Chat dari siapa?


"Ini dari Ayah, By! Besok katanya Ayah mau ke sini."


"Oya? Apa Ayah ada keperluan di Jogja?"


"Nggak tahu juga sih, By! Pokoknya Ayah bilang mau menemuiku.


"Sayang, aku lapar!"


"Oh iya, maaf lupa, By! Tadi lansung tidur, nggak masak. Pesan delivery aja ya? Nggak ada bahan untuk dimasak."


"Oke, tolong pesankan nasi padang pakai sayur yang banyak, Sayang!"


"Bukannya kamu nggak suka sayur, By? Bunda bilang dari kecil kamu susah makan sayur, beda sama Mbak Salwa."


"Nggak tahu kenapa, lagi pingin aja!"


Naila-pun memesan makanan dari aplikasi hijau. 30 menit kemudian pesanan mereka sudah diantar. Dan mereka makan bersama.


Setelah selesai makan mereka membongkar oleh-oleh yang mereka beli dari Paris. Ada baju, kaos, parfum, aksesoris dan coklat. Mereka memisahkan untuk keluarga masing-masing, tidak lupa untuk Farah dan Edo.


"Hubby ini untuk keluarga Om Alan!"


"Terima kasih, Sayang! Meskipun Caca sudah tidak baik sama kamu, tapi kamu masih peduli sama keluarganya."


"Caca hanya kurang dewasa, By! Aku memakluminya."


"Tidak salah aku memilihmu sebagai pendamping hidupku! Selain cantik, istriku ini sangat baik dan sabar."


"Jangan selalu memujiku, nanti aku gede rasa!"


"Aneh! Istri- istri di luar sana ingin dipuji, Sayang! Salman mengacak rambut istrinya. Kebetulan Naila memang tidak memakai penutup kepala.


"Hubby... rambutku jadi kusut!"


"Sayang jangan dimanyunin bibirnya! Nanti si Joni ngajak tempur lho!"


"Haha... Joni kamu selalu difitnah!"


Keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


Keesokan harinya, Naila pergi ke kampus diantar Salman. Kali ini Salman mengantar menggunakan mobil. Karena ia akan langsung ke distro.


"Kalau sudahvmau pulang, nelpon ya?"


"Iya, By!"


Naila mencium punggung tangan suaminya. Salman mengecup kening istrinya. Kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Naila. Naila tersenyum mendapatkan perhatian kecil dari suaminya itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada seseorang yang sangat jengkel melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Caca. Caca menghentakkan kakinya berkali-kali seperti anak kecil yang tidak dibelikanbpermen oleh Ibunya. Naila hanya menggekeng kepala melihat itu.


"Sepertinya kamu tidak bisa membedakan mana cinta dan mana obsesi, Ca! Kasian sekali, semoga kamu segera sadar dan disembuhkan dari penyakit hati." Batin Naila.


"Nailaaa...." Suara Farah memekik.


"Farah, kamu itu! Kayak preman!"


"Haha.. preman cantik ya?"


"Preman bar-bar!"


"Duh yang baru pulang honey moon! Wajahnya semakin berseri-seri nih!"


"Alhamdulillah..."


"Aku lihat story Bang Salman lho! Keren banget sih! Jadi pingin ke sana juga! Tapi si Bejo kan kere..."


"Hus, mulut dijaga! Nggak ada yang tahu rejeki seseorang! Siapa tahu nanti kalian kalau sudah menikah rejekinya tumpah-tumpah."


"Amiinn....."


"Masuk yuk! Oleh-olehnya aku kasih nanti kalau sudah selesai mata kuliah ya?"


"Duh jadi penasaran nih! Dapat apa ya?"


Mereka sudah sampai di kelas dan duduk di kursi masing-masing. Naila belajar dengan serius meski kadang Farah suka mengganggunya.


Saat keluar dari kelas, mereka duduk di taman dekat parkiran. Naila memberikan parfum, coklat dan gantungan kunci menara Eiffel kepada Farah.


"Maaf ya, Far! Cuma dapet ini!"


"Widih ini parfum mahal, Nai! Coklatnya juga yang premium ini, mah! untuk sementara aku pandangin aja gantungan kunci ini. Siapa tahu beberapa tahun lagi aku bisa beneran sampai di menara Eiffel." Farah sangat antusias saat menerima oleh-oleh dari Naila.


"Amin...."


"Ngomong-ngomong, makasih ya, Bai! Sampaikan juga sama Bang Salman! Ehh.. iya, kalau oleh-oleh ponakan gimana nih? Udah ada belum?" Farah melirik perut Naila."


"Sedang diproses." Jawab Naila sekenanya.


Farah tidak menyangka, sejak menikah temannya itu bisa seabsurd itu.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan panas dingin bacanya ya kak 😃😃

__ADS_1


See you again


__ADS_2