Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Sengsara membawa berkah


__ADS_3

Farah menceritakan semuanya kepada Salman. Tanpa mengurangi ataupun menambah. Salman masih santai mendengarkan. Namun saat akhir cerita Salman mulai panik


"Sayang kamu nggak pa-pa, kan? Nggak ada yang luka, kan?"


"Nggak pa-pa, By! Justru Farah yang kena cakar kemarin."


"Syukurlah kalau begitu!"


"Ish, aku nggak ada yang nanyain!" Ujar Farah ketus.


"Tapi aku berterima kasih sama kamu, Far! Karena kamu sudah jadi penyelamat untuk istriku tercinta! Tenang saja, nanti aku kasih hadiah buat kamu!"


"Yang benar, Bang? Ah, jadi kayak Caca Marica hei-hei nih aku!"


"Pasti itu!"


"Ya sudah aku mau pulang dulu ya?"


"Kamu mau bikin alasan apa sama Mama kamu, Far?"


"Itu bisa diatur, Nai! Farah gitu lho!"


Akhirnya Farah pulang meninggalkan rumah Naila dan Salman.


Naila memasak mie instan untuk dirinya dan Salman. Salman bukan pemilih dalam hal makanan. Dia belajar sederhana dari kedua orang tuanya. Selesai makan siang, mereka berdua ngobrol di kamar.


"Sayang, aku sudah menelpon Om Alan."


"Kamu bilang apa, By?"


"Caca rupanya sudah meracuni pikiran orang tuanya. Aku tidak habis pikir dengan anak itu! Aku sudah menjelaskan yang sebenarnya. Jadi terserah Om Alan mau percaya atau tidak. Tapi aku rasa Om Alan akan lebih percaya kepadaku."


"Aku sebenarnya tidak ingin memperpanjang masalah ini, By! Tapi semua harus diluruskan!"


"Dia hanya iri kepadamu! Jujur memang dia pernah menyatakan cinta kepadaku! Aku tidak menggubrisnya! Kita masih saudara, dan aku sudah menganggapnya adikku sendiri."


"Jadi ceritanya dia cemburu, By! Tapi ucapannya sangat menyakitkan!"


"Lupakan saja! Kamu siap-siap ya! Packing beberapa baju kita. Besok kita berangkat!"


"Hah... mau ke mana, By?"


"Besok kamu juga tahu!"


"Kasih tahu sekarang dong, By!"


"Nggak mau!"


"Ayo dong, By! Plis...." Naila memohon dengan muka sok imut dan bibir manyun.


"Sayang, jangan gini! Jadi pingin gigit!"


Sebelum diterkam suaminya, Naila buru-buru pergi ke kamar mandi. Melihat kelakuan istrinya, Salman hanya bisa tersenyum dan geleng kepala.


Keesokan harinya

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Salman meminta Edo untuk mengantarkan mereka berdua ke airport. Naila sudah menyiapkan dua koper untuk mereka, sesuai perintah suaminya. Naila masih penasaran dengan tujuan mereka. Salman belum memberitahunya.


Saat ini mereka sudah di atas pesawat. Saat melihat monitor pemberangkatan tadi. Sepertinya mereka akan pergi ke luar negeri.Naila sudah bisa mengira-ngira.


"Tenang, Sayang! Kamu istirahat saja, nanti kalau sudah sampai aku bangunin."


"Hem, baiklah! Hubby, apa orang tua kita tahu kalau kita pergi?"


"Sudah! Aku sudah pamit sama Ayah dan Bunda! Ayah Ical juga aku pamitan tadi malam."


Naila bisa bernafas lega, dan akhirnya dia mulai memejamkan mata.


Beberapa jam berlalu. Salman membangunkan Naila dengan lembut.


"Sayang, pesawat akan transit!"


"Aku tidur sedari tadi, By? Rasanya ngantuk banget, gara-gara semalem packing baju."


"Tidak apa-apa, lagian di pesawat mau ngapain kalau nggak tidur, hehe."


Mereka-pun turun dari pesawat. Dan beristirahat di rest are Airport. Sebelum akhirnya mereka naik pesawat lagi dan melanjutkan perjalanan


Total perjalanan mereka 19 jam. Naila cukup bosan berada di dalam pesawat.


Akhirnya pesawat take off. Salman dan Naila turun dari pesawat. Dan benar saja dugaan Naila saat ini dia sudah menginjakkan kaki di Paris. Dulu dia memang pernah berangan-angan untuk bisa melihat menarik Eiffel secara langsung. Kini hal tersebut akan menjadi nyata. Terlebih lagi dengan orang yang sangat ia cintai.


Taksi yang mereka tumpangi langsung menuju ke salah satu hotel Bintang 5. Naila tidak mau bertanya lagi kepada suaminya. Karena dia tidak ingin merusak rencana yang sudah suaminya susun.


Salman menggandeng tangan Naila menuju kamar hotel yang sudah ia booking diantar oleh seorang waiters. Koper mereka dibawa masuk oleh waiters. Salman pun memberikan tip kepada waiters.


"Terima kasih."


Kamar dengan nuansa putih, kamar yang cukup luas dan mewah. Saat masuk Naila sudah disuguhkan dengan pemandangan indah di tempat tidurnya. Taburan kelopak mawar merah berbentuk I love you, dan dua angsa yang sedang bercumbu dirangkai dari handuk warna putih. Matanya berkaca-kaca. Ia sangat bahagia.


"Kamu suka, Sayang?"


"Suka sekali, By! Terima kasih!"


Naila memeluk suaminya. Salman dengan senang hati menerima pelukan itu dan mengecup kening Naila.


"Ini bukan apa-apa! Berterima kasihlah kepada Caca! Karena dia sudah bikin kamu discors , jadi kita bisa bulan madu, Haha...."


"Hubby!"


"Benar kan, Sayang? Kalau kamu masih masuk kuliah, kita nggak bisa terbang ke sini. Jadi ini ceritanya sengsara membawa berkah. Ayo kita foto-foto dulu, nanti aku share di media sosialmu. Biar yang panas makin panas! Enak aja, istriku dikatain yang bukan-bukan!"


Naila tidak mau membantah perkataan suaminya. Ia menuruti keinginan Salman untuk mengambil beberapa pose mereka di kasur itu.


Saat ini di Paris sudah jam 12 malam. Karena sudah larut malam. Mereka-pun langsung tidur setelah melaksanakan shalat Isya' mereka langsung beristirahat tidur.


Keesokan harinya, Salman dan Naila sudah nampak segar. Mereka sudah beristirahat dengan cukup dan mandi lagi. Karena setelah shalat Shubuh mereka tidur lagi.


"Sayang, kita sarapan di kamar saja ya?"


"Terserah kamu, By!"

__ADS_1


"Oke, aku pesan dulu."


Salman menghubungi bagian resepsionist dan memesan beberapa menu untuk sarapan mereka.


30 menit kemudian, pesanan mereka datang.


"Sayang, ayo makan dulu! Aku sengaja pesan makanan yang simpel dan tidak terlalu kebaratan, karena takut tidak cocok dengan selera kamu."


"Benar sekali, Hubby! Maklum, seleranya orang kampung, haha...."


"Iya, kita memang tidak bakat tinggal di luar negeri, Sayang."


Mereka-pun sarapan bersama di dalam kamar.


Tiba-tiba saja Handphone Naila berdering. Ternyata ada panggilan dari Farah.


"Hallo, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


"Ya, Far! Ada apa?"


"Busyet! Kalian ada di luar negeri ya?"


"Hehe...iya, Far!'


"Wah parah! Nggak bilang-bilang! Enak banget kamu, Nai!"


"Kok kamu tahu, Far?"


"Lihat saja story suamimu! Aku kaget tadi pas baru bangun tidur. Kalian curang, jalan-jalan nggak ngajak aku!"


"Aku juga nggak tahu, tiba-tiba sja suruh packing baju. Aku kira mau diajak ke Bali atau ke Lombok gitu! Ternyata sampai di Paris, hehe...."


"Salamin aja ke Bang Salman! Jangan lupa oleh-olehnya buat aku!"


"Iya tenang saja, Far! Emang kamu mau oleh-oleh apa?"


"Oleh-oleh keponakan yang lucu-lucu, haha...."


"Ish, mulai deh!"


"Ya sudah, kalian lanjutkan bulan madunya! Oleh-oleh apa saja aku terima kok, Nai! See you... assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Setelah telpon dari Farah mati. Naila segera ngecek story WA suaminya. Benar saja, Salman share beberapa foto mereka saat di Airport dan di kamar.


Bersambung......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf dua hari libur, karena ada keluarga yang meninggal kakak.


Terima kasih sudah selalu hadir dan mensupport karyaku🤗

__ADS_1


See you again...


__ADS_2