Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Memancing


__ADS_3

Dua bulan berlalu.


Hari-hari yang dilalui oleh Naila semakin berat. Ia sudah melakukan perkuliahan dari rumah sejak satu bulan yang lalu. Tentu saja Salman yang sudah mengajukan kepada pihak kampus.


Naila sedang menunggu masa kelahiran. Dari perkiraan dokter, ia akan melahirkan sekitar dua hari lagi. Segala persiapan untuk kelahiran sudah dipersiapkan oleh keduanya. Bahkan saat ini, Raisya sedang berada di Jogja menemani menantu dan anaknya. Putri tidak bisa mendampingi Naila, dikarenakan kehamilan yang sudah mulai besar. Dan ia mudah pusing jika perjalanan jauh.


Malam harinya, Salman meminta jatah kepada Naila.


"Sayang, kata dokter jalan lahirnya harus dipancing biar lancar! Aku sudah satu minggu puasa gara-gara tugas kuliahmu! Malam ini izinkan aku memancing mereka!" Salman menunjuk perut Naila.


"Terserah kamu, By! Yang penting tidak membuatku lelah, aku pasrah!"


Dengan jurus kiranya, Salman mulai merangsang tubuh Naila. Naila pun terpancing, ia terlena dengan sentuhan sang suami. Malam ini mereka memadu kasih hingga lupa diri.


Usai penyatuannya Naila merasa sangat fisik, ia segera mandi wajib. Setelah selesai mandi, ia merasakan kram di perutnya.


"Aduh, adu-du-duh!"


Salman tersentak dan bangun dari perbaringan dan menghampiri istrinya yang sudah berada di depan kamar mandi.


"Ada apa, Sayang?"


"Perutku sakit, By!"


"Apa, apa kamu mau melahirkan?"


"Nggak tahu, By! Tapi rasanya sakit banget!"


"Bentar aku panggil Bunda!"


"Eh, eh jangan dulu! Aku belum pakai baju! Tolong ambilkan baju di lemari, By! Yang simpel saja!"


"Iya, iya, Sayang!"


Buru-buru Salman mengambil baju untuk Naila. Naila pun memakai baju yang diambilkan suaminya.


"Apa masih sakit?"


"Sudah mending kayanya, By! Jangan panggil Bunda dulu! Kasihan, pasti Bunda masih tidur! Ini masih jam 1 pagi!"


"Ya sudah kamu berbaring saja dulu! Aku akan mandi!"


"Iya, By!"


20 menit kemudian, Salman keluar dari kamar mandi. Ia melihat Naila memejamkan mata. Akhirnya Salman shalat tahajjud sendiri. Saat Salman memanjatkan do'a dengan khusuk, tiba-tiba Naila merintih lagi.


"Shh... By! Sakit....!"


Salman segera menyudahi ritualnya.

__ADS_1


"Aku kayak keluar pipis gitu, By!"


"Kamu ngompol, Sayang?"


"Nggak, bukan ngompol! Aduh, sakit! By, lebih baik panggilan Bunda!"


"Ah iya, sebentar!"


Salman segera berjalan cepat menuju kamar sang Bunda.


Tok


Tok


Tok


Salman mengetuk pintu berkali-kali, setelah beberapa detik kemudian pintu terbuka.


"Ada apa, Man?"


"Bunda, tolong lihat istriku! Dia sakit perut!"


"Oh iya, iya!"


Raisya berjalan cepat sampai lupa memakai jilbabnya.


Sampai di kamar Salman, ia langsung mengecek keadaan menantunya.


"Beberapa waktu lalu, Bunda! Sakit sekali peeutku!


"Bun, tadi aku habis mancing mereka!"


"Pantesan, kita ke rumah sakit saja ya? Ayo siap-siap!"


Salman membawa sendiri mobilnya. Ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat Edo. Perjalan dari rumah ke rumah sakit sekitar 15 menit. Jalanan lancar karena masih pagi buta.


Mereka lngsung ke IGD. Setelah itu lngsung dirujuk ke dokter Obgyn. Ternyata Naila sudah pembukaan dua.


"Maaf, sangat beresiko jika Ibu Naila melahirkan normal. Karena posisi salah satu bayinya sungsang."


"Lalu bagaimana, Dok?"


"Dengan sangat terpaksa, harus dicaisar. Kalau anda menyetujuinya, operasi akan dilangsungkan setelah shubuh nanti."


"Saya akan bicarakan dulu, Dok!"


"Baiklah, segera ke euangn saya nanti."


Tanpa berpikir panjang, Salman menghubungi Mertuanya. Meski haknya sebagai suami paling utama, namun ia tidak sangat menghargai Faisal sebagai Ayah dari istrinya.

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik, Nak! Ayah pasrkan semua kepadamu! Insyaallah semuanya akan baik-baik saja! Tolong kabari perkembangan selanjutnya!"


"Iya, Ayah! Ayah tolong do'akan ya! Em... kalau bisa tolong kabari Ibu Ajeng! Dari beberapa hari yang lalu Naila selalu mengigau Ibunya. Mungkin sebenarnya ia rindu.Setidaknya Ibu Ajeng bisa mendo'akan Naila, Yah!"


"Baik, Nak! Biar Mama Putri nanti yang ngasih tahu!"


Setelah menghubungi Faisal, Salman langsung menemui dokter dan menandatangani surat persetujuan.


Adzan Shubuh berkumandang. Salman dan Raisya segera melakukan shalat di Musholla Rumah Sakit. Mereka berdo'a untuk kelancaran operasi Naila.


"Man, kamu janga khawatir! Pastikan semuanya kepada Allah!"


"Iya, Bun!"


Sebelum masuk ruang operasi, Salman mengecup kening istrinya dan memberi semangat.


"Semangat, Sayang! Kamu pasti kuat! Aku menunggumu dan anak-anak kita!"


Naila mengangguk dan tersenyum lemah. Tidak henti-hentinya ia membaca sholawat.


Salman dan Raisya menunggu di depan ruang operasi. Raisya sudah menghubungi suaminya. Haris segera memesan tiket untuk terbang nanti pagi ke Jogja.


Salman mondar-mandir, dan berdzikir di dalam hati. Raisya pun tak henti-hentinya berdzikir untuk keselamatan menantu dan cucunya.


Hampir dua jam berlalu, akhirnya pintu terbuka.


"Tuan Salman, ini bayi pertama anda silahkan diadzani!"


Sontak tubuh Salman bergetar melihat bayi merah yang baru lahir itu. Raisya berdiri dan menghampirivperawat yang membawa cucunya. Salman mengambil alih dari gendongan perawat.


"Alhamdulillah, Perempuan ini, Man!" Ujar Raisya.


Mata Salman berkaca-kaca saat pertama kali memandang putri pertamanya. Ia pun melafadzkan adzan di telinga putrinya.


"Saya bawa dulu ya, Tuan! Mau dibersihkan."


Tidak lupa,Salman mengambil gambar putrinya itu untuk yang pertama kali.


"Takut bayiku tertukar, Sus!"


Perawat hanya tersenyum menanggapi ucapan Salman.


"Bunda, anakku sudah lahir! Aku sudah menjadi seorang Ayah!"


Dengan girangnya Salman memeluk tubuh sang Bunda.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa support karyaku ya kak😍😘


See You Again....


__ADS_2