Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Tamu tak diundang


__ADS_3

Tibalah Hari tujuh bulanan Naila. Siang ini keluarga dari Naila dan Salman berkumpul dan kompak memakai baju dengan warna senada meski beda model dan motif. Mereka memakai baju warna hijau dah hijab warna hijau sage. Naila memakai kebaya warna hijau lengkap dengan kain jariknya. Serta hiasan bunga melati yang menutupi bahu dan dadanya, juga hiasan melati di kepalanya.


Acara pengajian dan do'a berjalan dengan lancar, meski sempat turun hujan. Sebagian dari tamu undangan pamit pulang dan memberikan selamat kepada Faisal atas kehamilan istrinya. Begitupula kepada Putri.


"Cal, aku nggak nyangka kamu bakalan punya bayi lagi!" Tegur Rendy, sahabat sekaligus besan Faisal.


"Ish, tidak usah mengejekku!"


"Yaelah, Cal! Udah tua masih aja sensi! Aku nggak ngejek! Aku mau kasih selamat! Ternyata ular pitonmu masih berbisa ya? Haha..."


"Dasar, sahabat laknat! Kalau Rindi tidak pakai alat kontrasepsi, aku yakin adiknya Alif pasti sudah berkembang!"


Kedua sahabat itu selalu berdebat saat bertemu.


Selanjutnya mereka melakukan prosesi siraman untuk Naila. Saat siraman berlangsung, tiba-tiba Naila teringat seseorang yang lama tidak ia jumpai. Orang yang telah mengantarkannya lahir ke dunia, yaitu Ibu kandungnya. Matanya terasa perih, bukan karena banyaknya air yang disiram kepadanya, tapi ia ingin menangis.


Semua undangan berangsur pulang. Saat ini tinggal keluarga dekat saja yang masih berada di tempat. Mereka melakukan sesi pemotretan bersama Naila. Setelah semuanya selesai, Naila berganti baju di kamarnya ditemani Salman.


Tiba-tiba ada keributan di depan rumah. Suara Ibu Faisal terdengar memekik dan bergetar.


"Untuk apa kamu ke sini? Hah! Kamu sudah tidak ada hak untuk datang ke sini! Kamu seperti tamu tak diundang!"


"Ibu, aku hanya ingin bertemu anak-anak."


"Anak-anak kamu bilang? Kamu baru sadar kalau kamu punya anak?"


"Ibu, jaga emosi Ibu! Nanti darah tinggi Ibu bisa kumat! Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Ujar Faisal menengahi.


"Ajeng, kamu datang di saat yang tidak tepat! Kamu sama sekali tidak berubah, Jeng! Tapi sayang, waktu sudah merubah segalanya." Batin Faisal.


Faisal tidak menyangka mantan istrinya itu akan datang setelah sekian tahun menghilang tanpa kabar. Putri baru dar kalau wanita tersebut adalah mantan istri Faisal. Ia tidak mau ikut campur dengan masa lalu suaminya itu.


Freya keluar dari kamar menggendong Kenzo. Ia penasaran dengan yang terjadi di luar. Freya yang saat itu sudah duduk di kelas 3 SMP saat Ibunya meninggalkannya, meradang saat melihat wanita yang melahirkannya itu baru muncul setelah menghilang hampir 10 tahun. Ia masih ingat betul wajah Ibunya.


"Fre-Freya..." Suara Ajeng tercekat saat melihat Putri pertamanya itu. Tentu ia sangat merindukan Freya.

__ADS_1


Freya bergerak mundur saat Ibunya semakin mendekat.


"Stop! Jangan mendekatiku! Aku sudah tidak kenal dengan anda!"


"Freya... Ibu sangat merindukanmu! A-apa ini anakmu?"


"Rindu? Wow... segampang itu anda bilang rindu! Kemana saja anda selama ini?"


"Kamu dengar itu? Kamu sama sekali tidak diharapkan di sini!" Ibu Faisal menimpali.


"Ada apa? Kenapa ribut-ribut?" Ujar Naila, baru keluar dari kamarnya. Salman mengikutinya.


Ajeng menoleh ke sumber suara. Naila terperangah melihat sosok di depannya. Dalam hatinya, ia memang sangat merindukan sang Ibu. Namun entah kenapa, ia justru merasakan sesak di dadanya.


Saat ini di ruang tamu ada Ajeng, Faisal, Freya, Alfano, Ibu dan Ayah Faisal, Naila, dan Salman. Yang lain tidak ingin ikut campur masalah mereka. Raisya dan keluarganya memilih untuk duduk di teras belakang, begitu pula dengan Putri.


"Naila... ini Ibu! Ibu rindu kalian." Dengan percaya diri Ajeng merentangkan tangannya, berharap Naila akan berlari dan memeluknya.


Naila tak bergeming, matanya mulai berembun.


"Aku sangat merindukan Ibu, bahkan dari beberapa tahun yang lalu. Aku sangat ingin dipeluk Ibu saat aku pulang sekolah. Aku ingin dimanja Ibu saat aku sakit dan bersedih. Aku ingin Ibu dan Ayah menemaniku saat aku libur sekolah, dan saat aku lulus sekolah. Tapi kenyataannya, hanya ada Ayah yang selalu memberiku kasih sayang dan perhatiannya. Ayah yang menggantikan semua tugas Ibu! Apa Ibu pernah berpikir tentang hal itu, Bu?" Suara Naila mulai bergetar.


Ajeng tidak bisa menjawab ucapan Naila. Dalam hal ini, ia memang bersalah. Namun ia masih berusaha untuk mendapatkan maaf dari putrinya.


"Mana mungkin dia memikirkan hal itu? Dia hanya sibuk dengan kehidupan barunya! Mencari kesenangannya sendiri!" Freya menimpali.


Ajeng mulai terduduk di lantai. Ia tidak menyangka, kedua putrinya akan berkata begitu. Ia lupa, bahwa kedua putrinya sudah sangat dewasa.


"Ma-maafkan Ibu, Naila, Freya! Ibu tahu, kesalahan Ibu sangat fatal! Ibu sudah meninggalkan kalian!" Ajeng memelas.


"Ibu, aku bisa bertahan walaupun tanpa kasih sayang Ibu. Aku sudah kebal tanpa Ibu! Tapi aku sakit, Bu! Sakit banget rasanya saat melihat Ayah menutupi segala kesedihannya hanya untuk membuat kami tetap bangkit dan hidup layaknya anak yang lengkap orang tuanya! Ayah bahkan mengorbankan perasaannya demi membesarkan kami! Ibu tidak akan pernah mengerti itu!" Ucap Naila dengan deraian air mata.


Baru kali ini Naila meluapkan isi hatinya. Bertahun-tahun ia pendam prasaan itu.


"Sayang, jangan nangis! Kasihan anak kita!" Bisik Salman di telinga istrinya. Ia mengusap lengan istrinya dan menuntunnya untuk duduk di sofa.

__ADS_1


"Naila, kamu jangan emosi, ya? Kasihan bayimu, itu akan berpengaruh kepada mereka!" Ibu Faisal mengusap kepala Naila.


"Mereka? Itu artinya Naila sedang hamil kembar?" Batin Ajeng.


"Aku memang sudah banyak melakukan kesalahan, dan banyak menyakiti hati kalian! Aku khilaf waktu itu! Aku tergoda dengan kehidupan duniawi! Aku seperti tidak punya kesadaran sehingga tega meninggalkan keluarga yang aku punya. Mas, maafkan aku!" Ajeng memohon kepada Faisal.


"Ajeng, aku sudah memaafkanmu sejak lama! Walau bagaimanapun kamu adalah Ibu yang melahirkan anak-anakku! Mereka hanya perlu waktu untuk memaafkanmu! Aku yakin mereka memiliki hati yang lembut, karena aku sudah menanamkan itu kepada mereka. Tapi aku mohon untuk saat ini, lebih baik kamu pergi dari sini! Kembalilah di waktu yang tepat!"


"Mas, suamiku sudah meninggal!"


"Innalillahi wainna ilaihi rojiun'un, aku turut berduka cita! Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah."


"Mama, kenapa lama sekali? Aku takut di luar sendirian!" Ujar seorang anak laki-laki kepada Ajeng.


Semua orang di ruangan itu beralih melihat ke arah sumber suara.


"Dhani! Iya, maafkan Mama! Ayo kita pergi!" Ajeng beranjak dan menoleh ke arah Freya, Naila, kemudian Faisal.


"Aku pamit dulu, assalamu'alaikum." Ucap Ajeng.


"Wa'alaikum salam."


Ajeng pergi dengan hati yang berkecamuk. Ia benar-benar tidak diharapkan lagi oleh anak-anaknya. Bahkan ia tidak sempat untuk menggendong cucunya.


Bersambung......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kasih author semangat dong, Kak!


Jangan lupa support aku terus 😍🤗


Terima kasih sudah mampir di karyaku 😘


See you again....

__ADS_1


__ADS_2