
Tigaa bulan berlalu. Perut Naila semakin membesar. ia mulai kesulitan untuk bangun dan berjalan. Namun ia tetap tidak mau cuti kuliah. Salman tidak bisa melarang istrinya, ia tidak ingin istrinya stres dan terkekang. Hari ini adalah hari terakhir Naila ujian tengah semester
"Tapi kamu janji ya, kalau sudah merasa tidak kuat, aku bisa izinkan kamu untuk ikut perkuliahan daring."
"Iya, By! Aku masih kuat kok! Kamu tenang saja! Lagian besok sudah libur tengah semester. Aku bisa lebih banyak waktu di rumah."
Di kampus
Naila dan Farah baru keluar dari kelas. Tidak disangka ia bertemu dengan seseorang yang tidak ingin dia temui.
"Tunggu! Bukankah kamu istrinya Salman?"
Suara Dila menghentikan langkah Naila dan Farah.
"Iya betul!" Jawab Naila singkat.
"Oh ternyata kita satu kampus ya? Kamu nggak malu lagi bunting pergi kuliah?"
"Ngapain malu? Bunting sama suami sendiri! Kampus juga tidak melarang orang hamil kuliah!"
"Pihak Kampus belum tahu aja, kalau kamu hamil duluan baru nikah, secara wanita sepertimu ini hanya menyembunyikan kebobrokan di balik penutup kepala, Haha....."
"Diam! Jangan ngarang cerita! Rupanya mulutmu itu perlu disumbal! Kalau yang saya lihat justru kamu-lah calon bibit pelakor! Ujar Farah."
Kedua pihak mulai meradang. Namun kedatangan Salman menghentikan perdebatan mereka.
"Sayang, aku menunggumu di parkiran tapi ternyata kamu masih di sini?"
Ketiganya menoleh ke sumber suara.
"Salman..." Ucap Dila tercekat.
"Hubby..." Naila menghampiri suaminya, mencium punggung tangannya dan mencium kedua pipinya. Hal tersebut membuat Salman terkejut. Tidak biasanya istrinya itu bersikap manis di depan orang.
"Dila, kamu kuliah di sini juga?"
"Iya, Man! Tadi kebetulan ketemu dengan istrimu. Ternyata dunia selebar daun kelor ya?"
"Sudah, cepetan pulang Bang! Istrimu daritadi ngidam si Joni katanya! Aku nggak tahu si Joni itu siapa, katanya cuma kamu yang tahu! Haha..." Ujar Farah.
"Ya sudah, kami pulang dulu! Farah terima kasih sudah menjaga bidadariku."
"Salman, boleh aku main ke rumahmu?" Tanya Dila.
"Maaf, kapan-kapan saja ya, Dil! Sepertinya istriku lagi ingin dimanja."
Salman dan Naila meninggalkan Farah dan Dila yang masih berdiri di tempat.
"Jangan coba-coba ganggu mereka! Buktikan kalau kamu wanita mahal, bukan murahan!" Ujar Farah kepada Dila.
__ADS_1
"Tidak usah ikut campur urusanku! Urus saja urusanmu sendiri!"
"Dibilangin kok ngeyel! Percuma cantik, tapi nggak punya otak!"
Setelah menggertak Dila, Farah pun meninggalkannya dan menuju tempat parkir. Ia bergegas untuk pulang.
Di dalam mobil, Naila nampak cemberut. Salman berusaha menggoda istrinya.
"Sayang, apa benar kamu ngidam si Joni?"
Naila tak bergeming, ia masih cemberut.
"Jangan cemberut gitu dong! Ini si Joni jadi pingin nih kalau liat bibir manyun kayak gitu!" Goda Salman.
"Itu bukan Joni yang pingin tapi orangnya!"
"Nah itu paham! Yuk ah gass pulang! Pingin nengokin si kembar, mumpung cuacanya adem."
Siang itu cuaca memang mendung, dan sepertinya akan turun hujan.
Benar saja, sampai di rumah, hujan pun mulai turun. Naila dan Salman masuk ke dalam rumah. Mereka membersihkan diri dan shalat Dhuhur. Di luar hujan turun semakin deras.
"Hubby mau makan sekarang?"
"Aku mau makan kamu saja, Sayang. Biar anget!"
Tanpa aba-aba Salman langsung memeluk istrinya dari belakang. Tangannya mulai bergerilya di gunung kembar Naila. Ia mencium tengkuk Naila sehingga merangsang hasrat Naila.
"Hem..."
Salman menggendong Naila ala bridal style.
"Hubby turunin, nanti jatuh! Aku berat!"
"Nggak berat, meski anakku kembar lima sekalipun aku masih kuat menggendongmu!"
Salman membaringkan Naila di tempat tidur. Ia mulai membaca so'a dan membuka pakaian Naila. Baju ibu hamil dengan aksen kancing depan yang mudah sekali dileoaskan. Saat semua kancingnya terlepas, kedua gunung kembar Naila terpampang indah. Sejak hamil besar, ia jarang memakai BH di rumah. Karena rasanya sangat sesak dan risih baginya.
Salman memulai aksinya. Si Joni yang sudah menegak dengan sempurna sudah berada di ambang pintu. Dan dengan hitungan detik si Joni mampu menembus pintu kenik*atannya.
Salman bermain dengan halus, ia tidak ingin menyakiti ketiga anaknya. Dan akhirnya keduanya sampai pada pelepasan yang sempurna. Salman ambruk di samping Naila.
"Sayang, terima kasih!" Salman memeluk Naila. Mereka pun tertidur dan lupa untuk makan siang.
Di rumah Faisal
Keadaan Putri semakin hari semakin buruk. Mau muntah yang ia alami berdampak pada tubuhnya yang semakin kurus. Faisal sudah berusaha untuk mencari apapun yang Putri minta. Namun karena bawaan bayinya dan faktor usia yang tidak muda lagi, Putri menjadi lemah dan mudah capek.
Putri berusaha untuk menutupi perutnya yang sudah membuncit dengn hijab syar'i yang ia pakai. Ia masih malu untuk mengumumkan kehamilannya.
__ADS_1
"Dek, kamu mau apa? Aku belikan, asal kamu makan."
"Nggak mau apa-apa, Mas!"
"Masa kamu nggak makan apa-apa? Kasian bayi yang ada di dalam kandunganmu."
"Mas aku mohon, bujuk Rio biar mau tinggal sama kita! Aku nggak bisa jauh dari Rio saat ini."
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau! Mungkin ini juga salah satu keinginan jabang bayi. Tapi kali ini kamu makan sedikit saja ya? Tiga sendok deh! Aku suapi!"
Melihat suaminya memelas, Putri berusaha untuk menerima suapan suaminya.
"Nak, jangan nakal! Kasian mamamu! Ayo makan yang banyak biar kamu bisa main bola di dalam sana!" Ujar Faisal mengelus perut istrinya. Putri terperangah, mualnya hilang seketika.
"Assalamu'alaikum."
Terdengar seseorang mengucap salam dari depan pintu.
"Wa'alaikum salam! Biar aku yang buka pintu!" Ujar Faisal.
Faisal melangkah ke pintu depan.
"Hai besan, apa kabar?" Ujar Haris menyapa besannya dengan akrab.
Raisya yang berada di samping suaminya hanya memberikan senyum kepada Faisal.
"Eh, ayo masuk Pak Haris, Raisya! Tumben ini ke sini, ada apa?"
"Maaf kami lupa mau ngasih tahu kalau kita mau ke sini! Begini Pak Faisal, kedatangan kami untuk membicarakan tujuh bulanan Naila. Katanya sebentar lagi Naila libur, aku dan istriku ingin mengadakan acara tujuh bulanan di rumah kami. Apa kamu tidak keberatan, Pak?"
"Oh masalah itu? Kalau kami terserah anak-anak saja. Sebentar saya panggilkan Putri dulu.
Tidak lama kemudian Putri keluar.
"Put, lama nggak ketemu kok kamu kurusan? Tapi penampilan lebih syar'i, Masyaallah...." Raisya memeluk temannya dan cipika-cipiki seperti biasanya.
"Tunggu, tunggu sepertinya ada yang beda, saat aku peluk kamu tadi ada yang mengganjal." Ujar Raisa penasaran.
"Apaan sih, datang-datang kayak detektif kamu, Rai!"
"Tidak-tidak, aku tidak salah! Auramu seperti orang hamil!" Reflek Raisya menyentuh perut Putri.
"Rai..."
"Kamu hamil ya? Iya kan? Jangan bohong kamu, Put!"
Raisya mendesak Putri yang masih berusaha menutup perutnya dengan hijab.
Bersambung.....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
See you again kakak....