
Malam ini ada bunga-bunga yang bermekaran di hati Naila dan Salman. Namun mereka masih menahan semuanya. Keduanya sama-sama tidak ingin merusak pertemuan mereka. Biarlah perasaan mereka dipendam dulu demi mengulang pertemanan mereka.
"Di sini kost-mu, Nin?"
"Iya, kamu nggak boleh masuk! Dilarang laki-laki bertamu malam-malam."
"Iya, aku ngerti! Aku akan main kapan-kapan, itu-pun kalau boleh."
"He'em, tentu boleh! Ya sudah! Aku masuk dulu, Man! Kamu hati-hati di jalan, dan terima kasih sudah mengantarku."
"Iya, sama-sama. Aku pergi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Sebelum melangkah jauh, Salman menoleh ke belakang, ternyata Naila masih berdiri di tempatnya. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepada Salman. Salman membalas dengan hal yang sama.
"Senyummu mengalihkan duniaku, Nin." Gumam Salman dalam hati.
Salman meninggalkan kost-an Naila. Di sepanjang jalan ia tersenyum bahagia.
"Bunda...! Do'aku terkabul."Salman berteriak di jalan, tidak peduli orang sekitar."
Di Kost-an Naila.
Naila membawa masuk semua kantong belanjaannya ke dalam kamar. Kemudian dia membersihkan diri dan shalat Isya'.
"Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa Orang tuaku. Lindungi dan sayangi kami dalam setiap langkah kami. Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan aku dengan Salman. Meski perasaan ini masih terpendam, tapi aku bahagia bisa bertemu dengannya lagi." Do'a Naila Setelah Shalat Isya'.
Naila mengecek Ponsolnya, rupanya ada 10 panggilan tak terjawab dari sang Ayah.
"Aduh gawat! Bisa-bisa Ayah darah tinggi nih."
Naila menghubungi Ayahnya kembali.
"Assalamu'alaikum, Ayah." Ucap Naila sedikit gugup.
"Wa'alaikum salam, dari mana saja kamu? Kenapa telpon Ayah tidak diangkat daritadi?"
"Ponselnya aku silent, Yah! Tadi dari Mall belanja perlengkapan dan lainnya. Terus pulangnya kemaleman gara-gara taksinya mogok, jadi Naila mampir di Masjid untuk shalat Maghrib."
"Sama siapa ke Mall?"
"Sendirian, Ayah. Untung tadi ketemu teman yang antar Naila karena tidak ada taksi lewat."
"Kalau mendengar penjelasanmu yang lancar, Ayah percaya kamu tidak bohong! Karna Ayah tahu kamu tidak pandai mengarang cerita."
"Itu Ayah udah ngerti! Mana berani aku bohong, Yah?"
"Bagus, Ayah tidak pernah mengajari itu! Ya sudah, sekarang tidurlah! Bukankah besok kamu sudah ada kuliah?"
"Iya, Ayah! Selamat malam, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Saat akan tidur, Naik baru ingat kalau tadi dia lupa tidak bertukar nomor HP dengan Salman. Mungkin karena mereka terlalu bahagia, sehingga melupakan hal itu. Akhirnya Naila tidur dan mimpi indah.
Keesokan harinya, Naila sudah siap untuk berangkat ke kampus dan masuk kelas baru. Seperti biasanya dia berjalan kaki ke kampus. Kali ini dia sendirian, karena kedua temannya masuk siang.
Farah yang biasa datang terlambat kali ini, datang lebih awal.
"Kok tumben nggak telat?"
__ADS_1
"Lagi dapat hidayah, Nai!"
"Haha.. ada-ada saja."
"Aku lihat wajahmu berseri-seri seperti bunga yang bermekaran di taman, apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan kepadaku?"
"Emm...tapi kamu jangan ember, ya?"
"Aman, ayo cerita!"
"Kamu masih ingat ceritaku tentang temanku Salman, kan?"
"Teman apa cinta monyet?"
"Terserah kamu saja, Far! Mau dengerin nggak nih?"
"Oke, oke!"
Naila menceritakan kejadian yang menimpanya. Mulai dari pertemuannya dengan Salman di Stasiun, sampai Salman mengantarnya semalam.
"Adu-aduh pantas saja wajahmu banyak madunya, rupanya ada lebah yang mendekat."
"Ngomong yang jelas, Far! Suka geje deh!"
"Hehe.. iya-iya! Terus udah nembak, atau ditembak nih?"
"Mati dong! Nggak ada gitu-gituan, bertemu saja aku sudah bahagia."
"Bohong! Dari matamu aku melihat, ada sesuatu yang kamu sesalkan."
"Iya, aku lupa minta nomornya!" Ujar Naila menyesal.
"Aduh, Naila! Dasar pelupa!"
"Lanjut nanti ngobrolnya, dosennya udah datang!"
Karena dosen sudah datang, akhirnya mereka masuk ke dalam kelas. Naila kurang fokus mengikuti mata kuliah hari ini. Pikirannya ada di tempat lain.
"Kamu yang pakai jilbab hitam!"
Naila tersentak mendengar dirinya ditunjuk oleh sang dosen.
"Ah, iya! Saya, Pak?"
"Kamu itu, baru masuk sudah ngelamun!"
"Ma-maaf, Pak!"
Di tempat lain.
Salman sedang mengecek pembangunan di AS Residence. Dia mencatat beberapa point yang harus dibenahi.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering.
"Hallo....hallo... Salman!" Karena panik Bundanya lupa mengucap salam
"Bunda, ada apa Bund? Kenapa Bunda panik?"
"Adikmu Raka dan Riky kecelakaan! Kamu cepatlah pulang! Naik pesawat saja ya! Bunda tunggu, hiks..." Terdengar suara isakan tangis Bundanya.
"Sabar, Bund! Tenang ya! Oke-oke, aku segera pulang! Bunda harus tenang, do'akan saja mereka agar baik-baik saja. Ayah mana?" Salman tidak bertanya kronologinya, karena dia ingin segera pulang.
__ADS_1
"Ayahmu sedang mengurus administrasi, cepat pulang ya, Nak!"
"Iya, Bund! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah mendapat telpon dari Bundanya, Salman segera menuju rumah yang dia tempati. Kemudian membereskan Baju dan barang lainnya. Salman menelpon meminta tolong kepada salah satu staf Ayahnya untuk diantarkan ke Bandara.
"Pak nanti, tolong kembalikan motor ini ke tempat rentalnya, ya! Saya sudah membayarnya untuk waktu satu minggu. Jika Bapak atau yang lain mau pakai, tidak masalah."
"Baik, Mas Salman."
Salman segera menghubungi Om Alan dan memberitahu kabar sebenarnya. Dia juga menitipkan proyek perumahannya kepada Om Alan.
Saat ini Salman sudah sampai di Bandara, sebelumnya dia sudah memesan tiket melalui online. Satu jam lagi dia akan cek-in.
Penerbangan kurang lebih sampai satu jam. Kini Salman sudah keluar dari Bandara. Dia dijemput oleh supir pribadi Ayahnya.
"Langsung ke rumah sakit ya, Mang!"
"Baik, Den!"
Salman durung di depan rumah sakit dan segera masuk menuju ruang ICU. Di depan kamar ICU ia melihat Kakek dan Neneknya.
"Kek, Nek! Di mana Bunda dan Ayah?"
"Bundamu ada di dalam, hanya boleh satu orang yang nungguin di dalam. Ayahmu mungkin di depan ruang operasi. Orang yang bertabrakan dengan adikmu sedang dioperasi. Raka sudah berada di ruang inap, di sana ada Ayuni dan Mbah Utimu." Jawab sang Nenek.
Mbak Kung (kakek), Mbah Uti (Nenek), sebutan untuk orang tua dari Ayahnya Salman.
"Kalau begitu aku akan melihat Raka dulu, tolong bilang Bunda kalau nanti dia mencariku ya, Nek?"
"Iya, Man."
Salman berjalan mencari kamar Raka. Setelah ketemu, dia langsung masuk ke kamar tempat Raka dirawat.
"Abang..." Ayuni, gadis yng masih berusia 14 tahun itu langsung memeluk Abangnya. Salman membalas pelukannya, kemudian Salman mencium punggung tangan Mbah Utinya.
"Abang"Ucap Raka lemah.
"Jangan banyak bicara, istirahat saja dulu."
"Salman, Uti tinggal dulu ya? Mau shalat Dhuhur, nanti gantian! Sebentar lagi Mbah Kungmu ke sini."
"Iya Uti."
"Ayo, Ayuni! Shalat dulu bareng Uti."
"Iya, Uti." Jawab Ayuni.
Salman duduk di kursi dekat brankar. Ia menggenggam tangan adiknya dan memberinya semangat.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu Part lagi, konflik ringan akan dimulai.
Jangan lupa kasih support untuk aku ya, Kak.
Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
See yo again....