
Butuh kekuatan dan ketegaran untuk jujur kepada Salman. Meski Naila hanya berpikir Salman menganggapnya seorang teman, tapi Naila punya perasaan lebih kepadanya.
"Kamu masih mau mendengar penjelasanku, Man?" Tanya Naila, ragu.
Dia melihat ekspresi wajah Salman yang shock mendengar pengakuannya.
"Iya, tentu! Ceritakan kepadaku semuanya."
"Aku menggantikan Kak Freya untuk menikah dengan Kak Adit. Keluarga Kak Adit sangat baik. Sebenarnya Kak Adit juga baik, hanya saja dia masih marah kepada Kak Freya. Jadi dia juga membenciku, wajar dia seperti itu."
"Tapi dia tidak menyakitimu, kan?"
"Ti-tidak!" Jawab Naila, bohong.
"Lalu kenapa kamu meninggalkan dia? Sebagai seorang istri seharusnya kamu bersamanya? Dan saat ini kamu jalan berdua denganku, apa jadinya kalau dia tahu? Ah, bodoh sekali aku ini! Jadi kamu menghindar dariku karena sudah menjadi istri orang, iya kan?"
"Kami sudah bercerai."
Jlep....
Ada sesuatu yang sulit diartikan di hati Salman. Dia ikut terpukul karena kejadian yang menimoa Naila. Tapi di hati kecilnya merasa lega, karena ternyata Naila sudah berpisah. Hatinya mulai dilema.
"Aku malu, Man! Hidupku sudah berantakan, aku hampir kehilangan mimpiku! Aku tidak pantas berteman denganmu!Hiks..."
Naila tak bisa membendung air matanya. Kekuatannya runtuh di depan orang yang dia cintai. Naila menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Nin, jangan nangis! Dilihatin orang! Ntar dikira aku nyakitin kamu!"
Terpaksa Salman memegang pergelangan tangan Naila yang terhalang baju sweter. Ia menarik Naila dan mengajaknya berlari ke arah pantai. Sontak Naila mengikuti kemana Salman membawanya. Memang tidak banyak pengunjung saat ini, karena bukan hari libur
"Teriaklah, Nin! Keluarkan semua yang ada di hatimu! Jangan menyimpannya sendiri! Aku bisa saja menghapus air matamu itu! Tapi belum saatnya!" Ujar Salman, tidak sadar akan ucapannya.
Saat ini mereka berdiri di tepi pantai. Naila menghapus sendiri air matanya. Salman melepaskan tangan Naila.
" Aaaaaaaaaa......"
Naila berteriak berkali-kali mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya. Sesak di dadanya selama ini, kini mulai berkurang.
"Bagaimana? Apa kamu sudah lebih baik?"
"Alhamdulillah, sudah berkurang."
"Senyumnya mana?"
Sontak Naila tersenyum kepada Salman.
"Masyaallah, indahnya!" Puji Salman, saat melihat senyum Naila dan lesung pipi kanannya.
"Apanya?"Tanya Naila, gagal fokus.
"Ah, itu pantainya." Ujar Salman, bohong.
"Kamu masih mau berteman denganku, kan? Tanya Naila.
"Menurutmu?"
"Entahlah! Aku tidak ingin berharap lebih! Bahkan kalau semua orang menjauhiku sekali-pun, aku sudah siap."
"Kamu itu ngomong apa sih, Nin! Nggak ada tang bakal jauhin kamu! Kita akan tetap berteman."
__ADS_1
"Bahkan kalau bisa lebih dari teman. Aku tidak peduli dengan statusmu!" Batin Salman.
"Salman, mendungnya datang lagi! Ayo kita pulang! Ini sudah siang!"
"Kamu tidak ingin berfoto di sini? Ayo berdiri di situ, aku akan mengambil gambarmu!"
Naila menuruti perkataan Salman. Dia berposhe natural. Salman yang memang berbakat dalam bidang fotografer, dia mengambil beberapa gambar dari kamera HP miliknya.
"Kamu tidak ingin berfoto juga, Man? Sini biar aku yang mengambil gambar!"
"Tidak usah! Kita selfi saja ya, boleh?" Tanya Salman, ragu.
"Iya, tentu."
Mereka-pun berfoto selfi dengan jarak yang cukup dekat dan pose menunjukkan dua jari.
Jiwa jahil Salman muncul. Dia menciptakan air laut kepada Naila. Naila yang terkejut Sontak memekik.
"Salman...! Awas kamu ya!"
Salman melahirkan diri, dan Naila mengejarnya. Mereka kejar-kejaran di tepi pantai. Jika orang melihat keduanya, mungkin mengira sepasang kekasih yang sedang tertawa lepas.
Gerimis mulai turun.
"Yah... hujan! Ayo, Nin! Kita pulang!"
"Ayo!"
Mereka masuk ke dalam mobil, sebelum hujan deras. Mereka-pun meninggalkan area pantai. Di dalam mobil, tidak seperti waktu berangkat, saat ini mereka masih lanjut ngobrol.
"Salman, boleh aku bertanya?"
"Tanya saja!"
"Aku juga nggak paham maksudnya apa!"
"Mungkin tidak, kalau dia menyukaimu? Dia tidak ingin ada wanita yang dekat denganmu!"
"Haha... kamu itu lucu! Kami masih saudara."
"Perasaan itu tidak kenal orang, Man! Apalagi kalian saudara jauh!"
"hmm... gitu ya? Kalau memang dia suka sama aku, ya biarkan saja! Aku hanya menganggapnya adik, usianya tidak jauh dengan kedua adik kembarku. Sudah! Jangan bahas dia lagi! Kita mampir di Warung masakan Padang, ya? Kita makan siang dulu."
"Iya, terserah Pak Bos!" Canda Naila.
Salman sangat senang melihat Naila yang sudah kembali ceria.
Mereka mampir di warung masakan Padang. Suasana hujan yang cukup deras, membuat Salman selalu bersin. Alerginya kambuh, seperti biasanya. Saat Naila memberinya tisyu, tidak sengaja tangan mereka tersentuh. Ada getaran yang berbeda di hati keduanya.
"Ehm, maaf nggak sengaja!"Ujar Salman.
Kalau dulu waktu masih kecil, berpegangan tangan, cubit-cubitan, atau duduk berdua menjadi hal yang biasa untuk mereka. Tapi saat ini, selain sudah dewasa dan bukan mahramnya, Salman yang sudah dididik ajaran agama dari kecil, dia tahu batasannya.
Setelah makan siang, Salman mampir sebentar di Masjid untuk shalat Dhuhur. Naila menunggunya di dalam mobil, karena sedang berhalangan. Setelah itu, Salman mengantarnya pulang ke kost-an.
"Salman, terima kasih untuk hari ini."
"Kenapa kamu bilang begitu? Seakan-akan kita tidak akan bertemu lagi besok, hem?"
__ADS_1
"Tidak, maksudku....."
"Ya, ya... aku paham kok! Kalau ada sesuatu atau butuh bantuanku, jangan sungkan hubungi aku!"
"Iya, terima kasih."
"Sama-sama! Aku pulang dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Sampai di kost-an ternyata sudah ada seorang laki-laki yang menunggu Naila duduk di depan rumah Bude.
"Ayah!"
"Putri kecil Ayah!" Faisal merentangkan kedua tangannya, ingin memeluk putrinya. Sudah tiga bulan mereka tidak bertemu.
"Ayah ke sini kok tidak bilang-bilang?"
"Surprise! Kamu dari mana? Katanya kuliahnya masuk pagi?"
Naila bingung mau menjawab apa. Dia tidak mungkin bisa berbohong kepada Ayahnya.
"Ayah, ayo naik ke kamar dulu!"
Naila mengajak Ayahnya untuk masuk ke kamarnya.
"Aku mau ganti baju dulu, Yah! Tadi kena hujan dikit!"
"Iya, kamu mandi saja sekalian! Biar nggak masuk angin!"
"Iya, Yah!"
Faisal yang kelemahan setelah melakukan perjalanan dari Surabaya je Jogja, dia berbaring di atas tempat tidur Naila. Saat keluar dari kamar mandi dengan baju gantinya, Naila melihat Ayahnya sudah tidur.
"Huft...aman!" Lirih Naila, mengelus dadanya. Ia segera mengirim Chat kepada Faris, minta izin untuk tidak ke cafe malam ini. Karena sang Ayah pasti akan menginap.
Di perumahan Salman
Sampai di rumahnya, Salman melihat Om Alan sudah berada di teras rumahnya.
"Daritadi, Om?"
"Iya, kamu dari mana saja?"
"Biasa..."
"Ngedate? Kamu punya pacar di sini, boy?"
"Nggak juga, keluar sana teman tadi. Mana berani aku pacaran, bisa dikutuk sama Bunda!"
"Haha... anak Bunda sih!Aku ke sini mau nunjukin ini, konsep distro yang akan dibuka!"
"Ayo, Om! Masuk dulu!"
Salman mengajak Om Alan ngobrol di dalam rumah. Mereka membicarakan konsep distro yang akan Salman buka di daerah Jogja. Letaknya tidak jauh dari perumahan Salman. Rencananya akan dibuka satu bulan lagi.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Terima kasih sudah sekali mensupport karyaku kakak 😃🤗😍
SEE YOU AGAIN.....