
Salman masih duduk di dalam Cafe. Minuman dan makanannya sudah habis. Waktu sudah menunjukkan jam 23.30. Cafe akan segera ditutup.
"Maaf Mas, Cafe kami akan segera ditutup." Ujar Fina kepada Salman.
"Mbak tolong sampaikan ke Naila, saya menunggunya di luar."
"Maaf, Naila sudah pulang beberapa menit yang lalu dengan Pak Faris."
"Apa? Kamu bohong ya?"
"Tidak, Mas! Mereka lewat belakang tadi."
"Naila pekerja tetap di sini?"
"Iya, maaf kami akan tutup. Anda bisa kembali lagi besok."
"Oh iya, terima kasih."
Salman pulang membawa mobilnya. Sudah dua hari dia sampai di Jogja. Besok dia akan meresmikan pembukaan AS Residence. Salman sudah wisuda satu bulan yang lalu. Kini waktunya dia habiskan untuk memasarkan perumahannya. Toko bunganya dia serahkan sementara kepada Kakak sepupunya, Zie. Rencananya Salman akan tinggal di Jogja selama satu bulan.
"Nin, kenapa kamu seakan menghindar dariku? Apa aku punya salah padamu?" Lirih Salman di seorang diri. Dia menatap langit-langit di kamarnya. Saat ini dia menempati salah satu unit perumahannya.
Di kost Naila
Naila membersihkan diri, kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sama halnya dengan Salman, dia hanya bisa membayangkan wajah Salman.
"Maafkan aku, Man. Aku tidak punya muka untuk ngobrol denganmu. Lagian untuk apa kamu mencintaiku? Tunanganmu pasti tidak suka kalau dia tahu." Batin Naila dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Naila akhirnya terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya, Naila keluar dari kamar kostnya, untuk pergi kuliah. Tidak ia sangka, Salman sudah menunggunya di depan gerbang Kost-annya.
"Pagi, Nin!"
"Pagi." Jawab Naila, singkat. Ia tetap melangkahkan kakinya menuju kampus.
"Nin...Nin...! Tunggu aku!" Salman mengejarnya.
"Maaf, aku sudah telat ke kampus!"
"Nin, aku punya salah apa sama kamu?"
"Kesalahanmu adalah kamu berhasil mencuri hatiku."Batin Naila dalam hati.
"Nin! Kamu dengar aku, kan?"
"Maaf, Man! Aku harus segera sampai di kelas!"
"Kamu jangan bohong, Nin! Hari ini jurusanmu sedang ada seminar salah satu Motivator muda, dan itu mulainya masih nanti jam 10! Sekarang masih jam 9."
"Kenapa dia bisa tahu?" Batin Naila.
"Kenapa, Nin? Kamu heran kenapa aku tahu? Nanti kamu juga bakal tahu! Sekarang ayo ikut aku dulu! Kita perlu bicara!"
"Nggak mau!"
"Nin, aku bisa saja menggandeng tanganmu agar kamu mau mengikutiku! Tapi aku tahu batasan, kita bukan anak SD lagi! Dan kamu wanita berjilbab, aku tidak mau kamu dipandang sebelah mata oleh orang yang melihat kita."
"Aku meleleh, Man! Sayangnya aku tidak boleh baper." Batin Naila.
__ADS_1
"Naila...!!" Suara Farah memanggil.
"Hai, Far!" Naila melambaiksn tangannya."Maaf, Man! Kita ngobrol kapan-kapan ya?" Naila meninggalkan Salman begitu saja.
Saat ini sudah jam 10.
Mahasiswa dan mahasiswi jurusan manajemen masuk ke aula untuk menghadiri seminar.
"Eh, Nai, katanya motivatornya masih muda banget lho! Umur 20-an gitu!"
"Hem... terus?"
"Ya, pasti hansome! Sayang prfilnya masih dirahasiakan ya?"
"Ya, biarin! Itu haknya kok!"
"Ayo, Nai! kita duduk paling depan biar mantap."
Tidak lana kemudian acarapun dimulai.
"Mari kita sambut sang motivator muda, Salman Nanda Haris, seorang pengusaha muda yang sudah bergelarsarjana S1 di usianya yang baru saja 20 tahun. Beliau tidak ingin gelarnya disebut. Silahkan untuk yang bersangkutan, waktu dan tempat kami persilahkan."
Mendengar namanya dipanggil Salman maju untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. Salman mulai memaparkan materi dan kalimat motivasinya untuk orang-orang yang hadir si aula tersebut.
"Nai, demi apa coba? Salman perfect banget ya?" Ujar Farah, dia berbisik di telinga Naila.
"Hem.. sempurna! Beruntung sekali wanita yang menjadi pendampingnya. Pantas saja sia tahu agendaku hari ini. Ternyata dia sendiri pengisi materinya."
"Salman itu penuh kejutan, Nai!"
"Iya, makanya aku tidak ingin mengganggunya, dan lagipula aku sudah tidak pantas berteman dengannya, Far".
"Kamu itu ngomong apa sih, Nai? Nggak jelas!"
Setelah beberapa menit berlalu, acara dilanjutkan dengan sesi pertanyaan. Untuk pertanyaan hanya dibatasi untuk lima orang saja. Kami menyimak pertanyaan dan jawaban yang disampaikan.
"Salman keren banget, Nai! Motivasinya ngena banget! Aku jadi semangat nih, pingin cepat-cepat lulus."
"Biar apa, Far? Biar cepet nikah sama si Bejo?"
"Haha... kamu nih, Nai! Biar cepet jadi direktur!"
"Ya, ya! Terserah kamu saja."
Acara-pun sudah berakhir. Mereka keluar dari aula satu per-satu. Begitu pula Naila dan Farah.
"Nindi! Tunggu!" Suara Salman memanggil, namun Naila tak menghentikan langkahnya.
"Nai, dipanggil!" Ujar Farah.
"Biarin, Far!"
"Nindi, aku mau bicara."
"Kak, boleh minta tanda tangannya dong, saya ngefans sama kakak." Ujar seseorang deng bergerombol menghampiri Salman. Salman tentu tidak ingin mengecewakan mereka. Dia-pun menandatangani beberapa notes milik mahasiswi yang menghampirinya.
"Gila! Dalam sekejap Salman sudah menjadi idola! Pekik Farah.
Naila tjdak perduli, ia mempercepat langkahnya untuk menghindari Salman.
"Kita mau kemana ini, Nai?" Tanya Farah.
__ADS_1
"Kemana saja! Yang penting tidak ketemu Salman, Ayo cepetan Far!"
"Oke, oke!"
Farah melakukan mobilnya. Mereka pergi menuju ke Mall yang dekat dengan kampusnya.
Saat ini mereka sudah sampai di dalam Mall. Mereka duduk di salah satu kursi area foodcord menyantap kentang goreng dan es boba.
"Aku sebenarnya bingung, Nai! Sebenarnya kamu tidak perlu menjauhi Salman!"
"Aku hanya bugil waktu, Far! Hanya kamu yang tahu statusku saat ini."
"Baiklah, kamu lupakan dulu masa lalumu! Ayo kita nonton saja!"
"Ide bagus! Terima kasih Far!"
"Aku sudah muak mendengar terima kasihmu!"
Akhirnya mereka pergi nonton film yang sedang hits kala itu.
Selesai nonton, mereka berdua pergi ke kedai KFC untuk makan sore. Karena makan siang mereka sudah terlewat di dalam studio bioskop.
Di kost-an Naila.
Salman duduk di kursi tamu kost-an me tunggu kedatangan Naila. Sudah satu jam ia duduk di sana.
"Maaf leh, apa sebaiknya bude telpon saja Nailanya? Kasihan kamu sudah nunggu daritadi." Ujar Ibu kost.
"Tidak perlu bude, tidak apa-apa saya tunggu saja."
"Oh, ya sudah kalau begitu, diminum ya airnya! Maaf cuma ada air putih saja!"
"Terima kasih Bude."
"Iya leh, sama-sama."
Dua jam sudah berlalu, namun Naila tak kunjung datang juga. Salman sudah mulai bosan, ia juga belum shalat Ashar.
"Bude!" Panggil Salman dari depan rumah pemilik kost.
"Iya, tunggu sebentar!"
Pemilik kost-pun keluar dari dalam rumahnya.
"Maaf Bude mengganggu! Ini sudah sore banget, saya harus pulang. Tolong titip ini untuk Naila Bude. Bilang saja dari Salman."
"Iya, Leh! Naila itu paling perginya sama Farah, teman dekatnya itu kan cuma Farah! Nanti saya sampaikan."
"Iya, Bude! Terima kasih, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Dengan perasaan kecewa, Salman meninggalkan kost-an Naila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih atas supportnya kakak
Maaf tekat up, author super sibuk
Yang belum baca novel KETEGARAN HATI RAISYA, jangan lupa ya mampir!
__ADS_1
See you again....