
Naila mencoba menghubungi nomor Kakaknya terus-menerus, namun tetap tidak aktif.
"Kak, kenapa kamu membuat masalah serumit ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Naila bergumam dalam hati.
"Bagaimana ini, Sal? Coba kamu hubungi saja Adit! Sebentar lagi mereka pasti menuju masjid ke masjid."
"Aku akan mencoba menghubunginya. Semoga ada titik terang."
Ayah Faisal menghubungi Adit. Dia menanyakan masalah yang terjadi antara Adit dan Freya. Dia juga menanyakan keberadaan Freya. Adit sangat terkejut, begitupula dengan keluarganya. Pak Arif, Ayah Adit menghubungi kembali.
"Maaf Pak Faisal, acaranya sudah akan dimulai dua jam lagi, di masjid persiapan sudah 100%. Apa yang akan kami katakan kepada para undangan dan keluarga yang lain?"
"Saya juga menyesali ini, Pak Arif! Atas nama anak saya, saya mohon maaf beribu maaf."
"Ini sangat memalukan, Pak! Saya tidak bisa terima! Anda harus mencari solusinya! Anak anda yang membuat masalah. Kami tidak mau membatalkan pernikahan ini."
"Sekali lagi maaf kami, Pak Arif! Kami benar-benar menyesal! Ibuku juga sangat terpukul sampai drop tadi dengan kejadian ini."
"Saya tunggu anda di Masjid jam 10! Kalau keluarga anda juga tidak datang, maka dengan berat hati kami akan memperkarakan keluarga anda kepada pihak yang berwajib!"
Pak Arif memutar panggilan telpon.
Ayah Faisal semakin risau. Dia harus memutuskan sesuatu.
"Faisal!" Nenek memanggilnya.
"Iya Bu, Ada apa? Apa Ibu butuh sesuatu?" Naila dan Ayahnya mendekat kepada Sang Nenek.
"Turuti saja kemauan Freya, nikahkan Naila dengan Adit! Mungkin itu solusi terbaik untuk saat ini."
Naila tersentak dengan ucapan Neneknya. Dia hanya bisa menggelengkan kepala.
"Bu, apa yang kamu katakan? Naila masih kuliah, dan dia tidak mungkin menjadi pengantin pengganti!" Sang Kakek menimpali.
"Ayah." Ayah Faisal menggelengkan kepala, memberi kode kepada Kakek untuk tidak melanjutkan ucapannya. Ia takut Nenek akan kepikiran dan berakibat fatal untuk kesehatannya.
"Ayo Sal, kita bicara di luar!" Ajak Kakek.
Cukup lama mereka berdebat. Akhirnya Naila dipanggil keluar. Septy menemani Nenek di dalam Kamar.
Ayah Faisal menceritakan pembicaraannya dengan Pak Arif di telpon kepada Naila.
"Ayah siap dilaporkan ke pihak berwajib, asal kamu tidak menikah dengan Adit! Kamu harus melanjutkan cita-citamu! Dan Adit juga tidak mencintaimu, akn sulit bagimu hidup dengannya, Nai!" Ujar Ayah Faisal.
"Tapi, Nai! Jika suatu hari Ayahmu masuk penjara dan Nenekmu mendengar, kamu tahu sendiri akibatnya seperti apa?" Sang Kakek menimpali.
__ADS_1
Naila mulai berkaca-kaca, hatinya sudah retak dan semakin hancur.
"Nai, Ayah tidak ingin memohon padamu! Kamu sudah banyak mengalah selama ini."
"Tapi biarkan kali ini Kakek yang memohon padamu, Nai! Kamu tidak ingin melihat Nenekmu drop, kan?"
Naila terduduk lesu di sofa ruang tengah. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menarik nafas dalam-dalam.
"Baiklah kalau dengan menikahi Kak Adit adalah jalan yag terbaik, aku akan menggantikan Kak Freya!"
"Naila!"
"Iya, Ayah! Tidak pa-pa, demi kebaikan semua."
Akhirnya Naila mengganti baju, bukan kebaya putih sang Kakak yang ia pakai, tapi gaun brides maid yang Kakaknya beri untuknya. MUA uang diundang oleh Fera untuk memoles dirinya, saat ini tengah memoles Naila. Naila hanya minta make-up natural.
Akhirnya Naik dan beberapa keluarga berangkat. Hanya Neneknya saja yang tidak ikut, ditemani asisten rumah tangga.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mereka sampai di Masjid Al Muhajir, tempat akad nikah Adit dan Freya. Yang kini menjadi berubah haluan menjadi Adit dan Naila.
"Saya terima nikah dan kawinnya Freya...." Adit menghentikan ijabnya karena dia salah menyebut nama." Saya terima nikah dan kawinnya Naila Anindita Binti Faisal Ali Hamdani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah, sah!" Ucap saksi bersamaan.
Air mata di pelupuk Naila akhirnya luruh juga. Dia memang wanita kuat yang bisa menahan emosi dan memendam apa yang dia rasa. Tapi kali ini dia sangat rapuh dan butuh penguat.
"Nai, walau bagaimanapun Adit sudah menjadi suamimu, jadilah istri yang baik, Nak!" Ayah Faisal memberi pesan singkat dan mengecup kening Naila. Naila tak mampu menjawab, dia hanya mengangguk.
Naila mencium punggung tangan suaminya untuk pertama kalinya. Tak dapat diartikan ekspresi wajah Adit saat ini. Meski Adit sudah berpacaran dengan Freya selama 3 tahun, namun Naila hanya pernah satu kali bertemu dengannya.
Acara akad nikah telah usai, rencananya resepsi akan diadakan bulan depan, karena mengingat jadwal pemotretan Freya yang cukup padat. Namun kini resepsi yang diharapkan Adit nampaknya harus pupus. Impiannya bersama Freya hancur.
Naila dibawa ke rumah keluarga Adit. Karena Adit adalah anak tunggal. Itu sudah perjanjian awal saat Adit dengan Freya. Maka perjanjian itu berlaku juga untuk Naila.
"Adit, aku tahu bukan pernikahan seperti ini yang kamu inginkan! Tapi aku mohon kepadamu, tolong jaga Naila, jika kamu benar-benar tidak nenginginkannya, kembalikan baik-baik dia kepadaku. Dia sudah banyak berkorban untuk kami."
"Akan aku usahakan."
Naila berpamitan kepada seluruh keluarganya. Saat ini dia tidak dapat membendung air matanya lagi. Rasanya seluruh mimpinya pupus saat ini juga.
...----------------...
Saat ini Naila telah berada di rumah Keluarga Adit. Mang Diri mengantarkan beberapa baju miliknya. Karena baju Naila memang banyak tertinggal di Jogja. Dia tidak menyangka bahwa kepulangannya kali ini, hanya untuk mengakhiri impiannya.
"Naila, kamu masuklah ke kamar! Kamar Adit ada di sebelah kanan tangga!" Ujar Bu Dina, Mamanya Adit.
__ADS_1
"Iya, Tante."
"Jangan panggil Tante, panggil Mama seperti Adit memanggilku."
"Ba-baik, Ma!"
Naila pergi ke kamar yang di tunjuk oleh Ibu mertuanya. Adit sudah masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu, tanpa mengajak Naila.
Tok
Tok
Tok
Naila mengetuk pintu kamar Adit. Meski kamar itu tidak dikunci, namun Naila sangat takut. Dia masih berdiri di depan kamar Adit.
Tok
Tok
Tok
"Siapa?" Suara Adit menyahut dari dalam.
"Sa-saya, Kak!"
"Ck!"
"Jangan masuk ke kamarku! Aku tidak sudi tinggal bersama adik seorang penghianat! Jangankan tinggal, melihatmu saja aku muak! Mungkin saat ini dia sedang pergi dengan selingkuhannya! Kamu pasti tidak jauh berbeda dengannya!" Pekik Adit di balik pintu kamarnya.
Deg...
Perasaan Naila kembali hancur, ucapan Adit begitu menyayat hatinya.
Mama dan Papa Adit mendekat ke kamar Adit karena mendengar suara keributan. Mereka langsung membuka pintu kamar Adit.
"Adit, kamu it apa-apaan sih?" Mama Dina memarahi Adit.
"Sabar, Ma! Wajar Adit begitu." Ujar Papa Arif.
"Tapi Naila tidak bersalah, Pa! Tidak seharusnya Adit berkata kasar kepadanya!" Mama Dina menggandeng tangan Naila."Ayo Naila, masuk! Maafkan Adit, dia hanya sedang emosi." Mama Dina mencoba membujuk Naila.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir lagi kakak
See you again🤗