Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Baby Kenzo


__ADS_3

Raisya berpikir keras mengingat nama itu.


"Bunda, dia ini Naila teman SD-ku dulu!"


"Oh, Masyaallah kamu cantik sekali! Oya Bunda baru ingat. Dulu Bunda pernah bertemu sekali sama Naila waktu perpisahan SD, itu-pun cuma sekilas ya! Masih bocah, hehe..."


Naila hanya tersenyum menanggapi ucapan Bunda Salman.


"Iya, Bunda! Naila ini kuliah di Jogja."


"Oh ya, kebetulan sekali kalian bisa bertemu di sini ya? Padahal sudah lama kalian nggak ketemu! Iya, kan?"


"Takdir, Bunda!" Jawab Salman dengan yakin.


"Man, sini! Ayah mau bicara! Gimana masalah pemasaran AS Residense?" Tanya Haris kepada putranya.


"Maaf Tante, saya ke sana dulu! Masih ada yang harus saya kerjakan."


"Iya, Nai! Silahkan!"


"Naila, apa kamu yang Salman sebut dalam do'anya? Dia selalu minta pendapat bagaimana caranya menaklukkan hati seseorang. Salman, dari matamu Bunda bisa melihat ada cinta." Batin Raisya.


Naila merasa malu berdekatan dengan keluarga Salman.


Raisya yang menangkap pandangan sang putra kepada Naila. Sepertinya ada sesuatu pada putranya. Raisya pura-pura tidak tahu, dia bergabung dengan putra dan suaminya.


Sudah pukul 8 malam, distro akan ditutup.


"Bunda, Ayah, kalian kembali duluan ke rumah, ya? Ini kuncinya! Aku akan mengantar Nindi pulang."


"Salman, tidak usah! Aku bisa naik taksi! Kasian Om dan Tante harus nungguin kamu."


"Tidak apa, Nai! Biarkan Salman mengantarmu! Kami bisa langsung ke rumah! Lagipula kami membawa mobil sendiri." Ujar sang Ayah.


Akhirnya Naila berpamitan kepada orang tua Salman.


Keesokan harinya.


Alan dan Caca main ke rumah Salman.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam.


"Apa kabar, Mbak?"


"Alhamdulillah baik, Lan! Caca! sini sayang masuk! Kamu nggak kuliah?"


"Nggak ada kuliah hari ini, Tante."


"Oh, iya! Kalian bawa apa ini?"


"Ini titipan dari Mama, maaf Mama nggak bisa ikut, karena harus segera ke butik."


"Iya, nggak pa-pa. Sampaikan salamku juga, terimakasih."


"Iya, Tante."

__ADS_1


Mereka mengobrol di ruang tamu. Salman ikut bergabung dengan mereka. Sesekali Caca melihat Salman, dia sangat mengaguminya. Salman yang sadar akan hal itu, pura-pura tidak tahu.


Saat ini Naila sudah berada di distro. Karena hari jum'at dia sedang tidak ada kuliah. Dia sengaja berangkat sebelum Salman menjemputnya. Dia tidak ingin selalu bergantung kepada Salman.


"Jangan selalu baik kepadaku, Man! Aku tidak ingin perasaan ini semakin dalam." Batin Naila, setelah menutup telpon dari Salman.


Empat bulan berlalu.


Di Singapura, jam 3 dini hari.


Freya sedang terkulai lemas. Dia baru saja melahirkan bayinya secara normal di salah satu klinik Ibu dan anak. Untung saja ada Alfano selalu siaga menjaganya. Dia tidak membiarkan Freya kekurangan dan merasa sendiri.


"Tuan, ini anak anda! Silahkan diadzani!"


Hati Alfano bergetar melihat bayi mungil yang sangat mirip dengannya. Dia mengambil alih menggendong bayi tersebut dari tangan suster.


"Bagaimana keadaan Ibunya? Tanya Alfano.


"Nyonya Freya masih dehidrasi. Tunggu beberapa menit lagi, anda boleh melihatnya."


"Baik, terima kasih."


"Sama-sama, Tuan."


Akfano mengadzani bayi tersebut. Matanya berkaca-kaca. Dia tak menyangka akan memiliki bayi saat itu juga.


Orang tua Alfano sebenarnya sudah tahu bahwa Freya sedang bersamanya. Namun Alfano melarang orang tuanya untuk memberitahu sekalipun kepada Ayah Freya. Alfano meminta waktu untuk menjelaskan yang sebenarnya. Saat anak itu lahir, Alfano segera menghubungi Mamanya. Dia mengirimkan foto bayi tersebut. Karena penasaran Rindi langsung menelpon Alfano.


"Hallo, Fan!"


"Jelaskan sekarang juga! Anak siapa itu?"


"Mama lihat sendiri, wajahnya mirip siapa?"


"Kamu!"


"Berarti dia anakku!"


"Jangan membuat lelucon, Fan!"


"Oke-oke, Alfan akan ceritakan semuanya sama Mama dan Papa. Tapi Alfan mau kalian ke sini! Dan tolong bawa Om Ical juga!"


"Baiklah! Hari ini juga kami akan ke Singapura! Biar Papamu yang menghubungi Om Ical! Jangan bikin kami jantungan, Fan! Kamu itu lelaki dewasa, dan bukan waktunya bermain-main!"


"Terima kasih, Ma! Aku masih sadar dengan usiaku! Mama tenang saja ya!"


Rindi segera menghubungi suaminya. Dia meminta suaminya untuk menghubungi Ical. Mereka harus terbang ke Singapure hari ini juga.


Rendy bergerak cepat. Dia langsung memesan tiket pesawat untuk mereka bertiga. Dan Penerbangan akan berangkat jam 7 malam.


Faisal yang mendapat kabar tentang Freya, tidak mau membuang-buang waktu. Dia langsung pergi ke rumah Rendy dengan membawa pasport dan data miliknya untuk keperluan penerbangan.


"Ren, sebenarnya apa yang terjadi kepada Freya?"


"Sabar, Cal! Freya baik-baik saja! Kita akan tahu jelasnya nanti kalau sudah sampai di Singapure.


Akhirnya mereka berangkat ke Bandara jam 4 waktu Indonesia bagian barat, dan sampai di Bandara jam 5 sore. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka cek-in.

__ADS_1


Setelah melakukan penerbangan selama kurang lebih 80 menit, akhirnya pesawat mendarat.


Di Bandara mereka sudah dijemput oleh tangan kanan Alfano.


"Perkenalkan, saya Edo asistennya Tuan Alfan!" Edo memperkenalkan diri kepada keluarga Alfano.


"Kemana Alfan? Kenapa dia tidak menjemput kami sendiri?" Tanya Rindi.


"Tuan masih di klinik, mari akan saya langsung antar ke apartemen. Besok pagi Tuan Alfan sudah pulang."


Mereka masuk ke dalam mobil dan tidak banyak bertanya lagi.


Keesokan harinya, di klinik Ibu dan Anak.


"Bang, sini anakku!" Ujar Freya.


"Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kamu tidak menginginkan anak ini?"


"Ti-tidak! Itu tidak benar, Bang! Waktu itu aku sedang kalut! Dia darah dagingku, aku yang mengandungnya selama 9 bulan!"


"Jangan lupa, Fre! Dia juga anakku! Aku yang ikut andil menghadirkan dia di rahimmu!"


"Abang! Jangan dilanjutkan!"


"Kamu yang jangan banyak bicara! Ini anak kita, jadi seharusnya kita rawat bersama. Kalian sudah boleh pulang, aku sudah mengurus administrasinya. Kamu sudah bisa berjalan, kan? Atau kamu mau aku gendong seperti baby Kenzo?"


"Kenzo? Kamu kasih nama dia, Bang? Kenapa tidak bertanya kepadaku?"


"Ribet! Sudah ayo pulang! Ada kejutan untukmu!"


"Aku akan pulang ke apartemen!"


"Tidak bisa! Kalian harus di apartemenku!"


"Kamu gila, Bang!"


"Iya, aku sudah tergila-gila dengan anakku ini!"


Dengan sedikit perdebatan, mereka akhirnya meninggalkan klinik. Freya sudah tidak ingin berdebat lagi. Untuk sementara, dia ikuti mau Alfano. Walau bagaimana, Alfano yang sudah membiayainya selama ini.


Mereka sudah sampai di apartement. Alfano menggendong Bayi Kenzo. Betapa terkejutnya Freya, saat melihat orang-orang yang sedang menunggu mereka di ruang tamu.


"Ayah!" Nama itu yang pertama kali Freya ucapkan. Matanya perih, hatinya rapuh. Dia ingin sekali memeluk Ayahnya, namun nyalinya ciut.


"Alfan! Jelaskan apa yang terjadi kepadaku!" Tegas Faisal. Dia mengepalkan tangan, namun emosinya masih bisa ia kontrol.


"Om Ical, dengarkan aku! Dan tolong jangan potong penjelasanku!"


Akhirnya mereka duduk dengan tenang. Freya saat ini mengambil alih Kenzo dari gendongan Alfano. Dia hanya bisa menundukkan kepala, karena tidak punya keberanian untuk menampakkan muka. Alfono meminta maaf dan menceritakan semuanya.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa supportnya ya kak


See you again...

__ADS_1


__ADS_2