
Pulang dari pertemuan, Haris hanya diam saja. Sudah lama Raisya tak melihat sikap suaminya yang cuek begini. Dia merasa ada sesuatu yang membuat suaminya kesal atau bahkan cemburu.
Saat ini mereka sedang di kamar
"Sayang, kenapa kamu diam terus daritadi?"
"Males ngomong!" Jawab Haris singkat.
"Oya? Apa kamu tidak suka dengan keluarga Naila?"
"Suka."
Haris masih duduk di pinggir tempat tudur dan belum melihat ke arah Raisya.
"Terus, kenapa kamu cemberut daritadi?"
Raisya memeluk suaminya dari belakang. Dia sudah membuka baju bagian atas beserta pakaian dalamnya. Otomatis kedua aset miliknya nempel ke kulit punggung suaminya. Haris masih dengan kebiasaannya tidur tanpa baju.Haris sadar, istrinya saat ini sedang merayunya. Raisya menggesesekkan dua gunung itu, sehingga tongkat Haris mulai bereaksi. Hati dan pikirannya sudah tidak sinkron. Imannya lemah, dia tergoda dengan kenakalan istrinya malam ini. Akhirnya terjadilah pergulatan panas mereka. Meski sudah berumur, hasrat mereka masih belum berkurang.
Setelah ritual itu selesai, Raisya mengajak suaminya mengobrol kembali.
"Sayang, ada yang ingin kamu tanyakan atau sampaikan kepadaku? Aku sedang melihat ada tanda- tanda kekesalan pada dirimu!"
"Faisal atau Ical, orang yang pernah melamarmu! Tapi hubungan kalian kandas akibat adik Faisal yang ternyata adalah istri Firman, mantan suamimu! Benar, kan?"
"Hem, benar! Kamu tahu dari mana?"
"Dulu seingatku, Mbak Rindi yang cerita."
"Ya sudah itu kan, masa lalu! Kita sudah sama-sama tua dan anak-anak kita sudah dewasa. Semua yang ada padaku adalah milikmu!"
"Ya, ya! Hati dan tubuhmu, jiwa dan ragamu, adalah milikku. Dia hanya masa lalu! Tapi aku masih mengkhawatirkan keluarganya! Apa iya, nanti keluarganya akan menentang hubungan Naila dan Salman?"
"Aku rasa tidak akan, Yah! Septi sudah berubah. Dan Naila anak Mas Faisal, jadi dia tidak perlu persetujuan dari keluarganya lagi! Cukup dia dan istrinya yang memberi keputusan. Sama juga dengan Abah dan Ummi, mereka juga tidak akan ikut campur masalah ini."
"Oh iya, tadi aku lupa menanyakan Ibunya Naila. Kenapa dia tidak ikut?"
"Iya, aku juga lupa! Ya sudah, biarkan saja! Mungkin memang kebetulan Mas Faisal saja yang ke Jogja! Ayo tidur!"
"Sayang, makasih ya! Rasanya masih tetap sama, hehe..." Ujar Haris dengan gaya tengilnya.
__ADS_1
Jam 2 dini hari, di dalam kamar Salman. Putra Raisya dan Haris itu saat ini tengah melakukan shalat malam. Dia meminta kepada Sang Pencipta agar diberikan kemudahan untuk hubungannya dan Naila. Ia juga meminta agar Naila memiliki perasaan yang sama dengannya.
8 hari berlalu.
Naila sedang berada di Surabaya, di rumah Ayahnya. Sesuai kesepakatan, Keluarga Salman akan datang untuk melamar Naila. Keluarga Naila sedang menunggu kedatangan keluarga Salman.
Beberapa menit kemudian, keluarga Salman datang dengan membawa seserahan. Keluarga Naila menyambut dengan suka cita. Apalagi para orang tua sudah saling kenal. Mereka seperti mengulang cerita. Orang tua Raisya dan orang tua Faisal tidak menyangka akan menjadi besan. Hanya saja saat ini yang memiliki hajat adalah cucu-cucu mereka.
Acara lamaran berjalan dengan lancar. Rencananya pernikahan mereka akan dilaksanakan sekitar 50 hari lagi. Faisal ingin menikahkan kedua putrinya bersamaan. Faisal juga sudah membicarakan hal itu dengan orang tua Alfano. Dia tidak menyangka kedua putrinya akan menikah dengan keluarga yang sama.
Libur tengah semester hanya satu minggu. Tidak terasa, besok Naila akan kembali ke Jogja bersama Salman. Namun kali ini Raisya akan ikut bersama mereka. Raisya tidak ingin keduanya melebihi batas. Meski ysng dia tahu keduanya belum saling cinta. Bukan dia tidak percaya kepada putranya. Namun yang namanya setan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ayuni dan Haris dengan berat hati merelakan Raisya untuk menemani Salman ke Jogja.
"Ayah, titip anak-anak, ya?" Ujar Raisya kepada Haris.
"Iya, Bunda! Tenang saja, mereka akan baik-baik saja. Raka dan Riky sudah berhenti jailin Ayuni! Mereka kan, sudah jadi mahasiswa!"
"Hem.. Ayah benar."
"Titip Naila ya, Rai?" Ujar Faisal.
"Tentu, Mas! Dia calon menantuku! Akan aku anggap seperti putriku sendiri."
Tidak lama kemudian pesawat mendarat, dan satu persatu penumpang-pun turun. Edo menjemput mereka dengan menggunakan mobil Salman yang ditinggal di perumahan. Mereka langsung menuju Kost untuk mengantar Naila.
"Terima kasih, Tante." Naila mencium punggung tangan Raisya, dan hendak turun dari mobil.
"Sama aku nggak cium tangan, Nin?" Goda Salman.
Naila hanya bisa menundukkan kepala. Entah kenapa sejak mereka bertunangan, Naila menjadi pemalu jika berhadapan dengan Salman.
"Hem hem, mulai ya!" Ujar Raisya menyentil telinga Salman dari belakang.
"Au! Sakit, Bunda!"
"Makanya, nggak usah godain anak orang! Belum mahram! Nanti tunggu setelah halal! Baru deh, boleh diapain saja!"
"Kan cuma bercanda, Bun! Syukur-syukur kalau beneran!Hehe...."
"Sudah, Nai! Kamu masuk saja ke dalam! Istirahat ya! Maaf Tante nggak bisa antar kamu masuk."
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa, sekali lagi terima kasih, Tante."
Salman dan Raisya melanjutkan perjalanan pulang ke perumahan.
Naila sudah berhenti bekerja di distro. Faisal melarangnya bekerja. Dan Raisya juga tidak mau mereka sering bertemu. Salman tidak mencari pengganti Naila. Dia sendiri yang menghandle pekerjaan Naila.
Saat sedang ramainya pengunjung, ada seseorang yang mencari Naila. Namun Salman yang menemui orang tersebut.
"Ada perlu apa kamu mencari tunanganku?"
"Oh, kamu? Jadi kamu juga bekerja di sini?"
"Tidak usah basa-basi! Ada apa kamu mencari Naila?"
"Tidak ada apa-apa! Aku hanya ingin melihat mantan istriku! Aku baru sadar, kalau dia sangat istimewa! Aku tidak bisa melupakan permainan ranjangnya!"
"Kamu..!" Salman hendak menonjok Adit, namun berhasil ditangkis.
"Wo..wow... santai bro! Jangan emosi! Aku bicara kenyataan."
"Pergi dari sini! Jangan coba-coba mencari Naila lagi! Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi, kalau kamu masih mengganggunya lagi!"
"Kamu belum tahu siapa aku? Kamu hanya anak kemarin yang tidak punya kendali!"
"Siapapun kamu aku tidak peduli!"
"Baiklah! Aku akan pergi! Ingat, Naila hanya bekasku!" Bisik Adit di telinga Salman, membuat hati Salman terbakar. Namun dia menahan emosinya dan hanya bisa mencengkram tangannya sendiri.
Adit pergi meninggalkan distro. Dia puas telah membuat Salman marah. Itu artinya, Salman sudah termakan kebohongannya.Dia berharap Salman membatalkan niatnya untuk menikahi Naila. Karena itu memang tujuannya. Dia tidak rela melihat keluarga Freya bahagia.
Dalam kemarahannya, Salman hanya bisa berwudhu' dan beristighfar. Itu adalah pesan Bundanya. Raisya selalu menanamkan ajaran agama kepada putra-putrinya.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Undangan Salman dan Naila otewe ya kak😁
See you again....
__ADS_1