Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Kebersamaan


__ADS_3

Tiba di hari yang sangat dinantikan oleh Naila dan Salman. Hari ini keluarga mereka berkunjung ke Jogja untuk menghadiri acara 4 bulanan. Salman menyediakan tiga unit perumahan yang berada di depan rumahnya untuk kedua keluarga mereka. Hanya para orang tua dan saudara yang datang. Nenek dan kakek tidak ikut karena mereka sudah tua, dan sering capek jika perjalanan jauh. Freya dan Alfano belum bisa pulang karena banyak kerjaan. Saat 7 bulanan nanti mereka akan pulang.


Acara hari ini sangat sederhana. Hanya pengajian dan baca sholawat bersama. Mereka juga mengundang anak yatim dari panti asuhan terdekat. Tidak lupa juga tetangga komplek mereka.Acara di gelar di depan rumah. Salman sudah memasang tenda sejak kemarin sore.


Alan dan istrinya datang. Namun Caca dan Ciko tidak ikut. Sejak kena ultimatum dari sang Ayah, Caca tidak berani menampakkan diri di hadapan Salman. Di kampus-pun dia selalu menghindar dari Naila.


"Semoga Ibu Naila dan bayinya diberi kesehatan, dan dilancarkan saat lahiran nanti. Semoga anak-anaknya dijadikan keturunan yang soleh solihah. Semoga dilindungi seluruh anggota keluarganya." Ucap sang ustadz di akhir ceramahnya.


"Amin..."


Selesai acara pengajian mereka makan bersama. Menikmati hidangan yang sudah disediakan. Tidak lupa mereka membagikan amplop dan sembako kepada anak yatim yang sudah hadir.


Keluarga mereka masih menginap, karena rencananya besok mereka akan rekreasi bersama. Mumpung masih pada libur. Naila dan adik kembar Salman libur akhir semester. Sebentar lagi ia akan naik semester 6. Raka dan Riky juga akan naik semester 2. Begitu pula Ayuni akan naik kelas 10.


Keesokan harinya mereka,sudah siap untuk jalan-jalan di sekitar Jogja. Salman sengaja menyewa mobil bus mini agar semua keluarganya bisa berkumpul jadi satu.


Pagi ini tujuan mereka ke Pantai Kukup. Dari Shubuh tadi Mama Putri dan Bunda Raisya berkolaborasi di dapur. Mereka memasak untuk sarapan yang akan mereka bawa untuk piknik.


Sampai di Pantai Kukup. Mereka menggelar tikar di bawah tebing pinggir pantai dan sarapan bersama. Mereka piknik layaknya rakyat pinggiran. Keluarga mereka memang selalu menanamkan kesederhanaan.


"Masyaallah, nikmatnya kebersamaan ini. Biasanya kita susah untuk ngumpul bersama gini, tapi kali ini Alhamdulillah ya? Meskipun Salwa tidak bersama kita." Ucap Raisya.


"Nggak perlu ke luar negeri ya? Baby moon nya rame-rame ini, Man!" Sahut Putri.


"Iya, Ma! Pengiritan, haha...."


Setelah puas menikmati indahnya laut dan berfoto ria di tepi Pantai Kukup mereka melanjutkan perjalanan ke Pantai Sandranan.


Tidak hanya dapat menikmati keindahan Pantai Sadranan dari permukaannya saja, sekarang mereka juga bisa mencoba olahraga snorkeling, menyelami keindahannya dan masuk ke kedalaman diri dan tenggelam di keluasannya. Salman, Raka, Riky, dan Ayuni mencoba untuk menyelam. Naila dan yang lainnya duduk santai menikmati keindahan alam sambil menunggu mereka.


Setelah puas menyelam, mereka melanjutkan perjalanan ke Taman Sari. Di tengah perjalanan mereka mampir untuk makan siang dan shalat Dhuhur. Meski sedang hamil, Naila bersemangat jalan-jalan. Ia sangat bahagia bisa liburan bersama kecuali keluarganya.


"Sayang, kalau capek jangan dipaksa! Tinggal di mobil saja!"


"Nggak, By! Aku nggak capek! Mereka sepertinya senang diajak jalan-jalan."


"Mereka apa Mamanya?"


"Dua-duanya, hehe..."

__ADS_1


Membutuhkan waktu kirang lebih 30 menit untuk sampai ke Taman Sari. Sesampainya di sana, mereka berpetualang. Taman Sari merupakan bangunan yang sederhana namun menarik. Gemercik air, keindahan arsitekturnya yang kuno, dan pemandangan yang menakjubkan membuat Taman Sari sangat mempesona. Lorong-lorong dan bangunannya menjadikan Taman Sari penuh rahasia yang akan terus dikuak pengunjungnya.


Mereka juga mampir di pusat oleh-oleh khas Jogja. Di sana mereka membeli beberapa makanan dan camilan untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Raisya membeli dengan jumlah yang cukup banyak. Karena ia ingin membagikan kepada orang tuanya dan orang tua suaminya. Serta kepada orang bawahan suaminya.


Untuk yang terakhir mereka mengunjungi Obelix Hill. Obelix Hills adalah tempat wisata kekinian dengan pemandangan sunset dari ketinggian, resto, dan 30 spot foto. Di sana mereka menyaksikan keindaha sunset dan berfoto bersama di beberapa spot yang menarik bagi mereka. Ayuni sangat antusias dalam hal ini. Ia pasti ingin segera menampilkan di storynya.


Mereka makan malam di area tersebut. Hari ini cukup melelahkan sekaligus menyenangkan bagi mereka.


Keesokan harinya, keluarga mereka berpamitan pulang satu persatu. Keluarga Salman pulang terlebih dahulu. Disusul keluarga Naila.


Naila masuk ke kamar Ayahnya, saat Putri hanya sendiri dan sedang mengemas barang-barang. Mereka memang tinggal di rumah yang terletak di depan rumah yang ditempati Naila.


"Ma, Kayaknya ada yang beda?" Ujar Naila kepada Putri.


"Beda apanya, Nai?"


"Mama kurusan."


"Ah masa sih?"


"Iya, Ma! Apa Mama tidak bahagia hidup sama Ayah?"


"Hus, ngaco! Aku sangat bahagia, Nai! Ayahmu laki-laki yang baik dan penyabar! Mana mungkin aku tidak bahagia hidup dengannya?"


"Nggak juga, mungkin karena aku suka olahraga ini."


"Syukurlah, yang penting kalian baik-baik saja."


"Terima kasih, Nai!"


Tiba-tiba Faisal datang.


"Sudah siap, dek?"


"Sudah, Mas! Tinggal ini saja!"


"Kalau berat biar aku yang bawa! Kamu harus...." Faisal menghentikan ucapannya.


"Hampir saja Mas Faisal keceplosan!" Batin Putri.

__ADS_1


Naila penasaran dengan ucapan Ayahnya yang menggantung. Ia curiga, keduanya merahasiakan sesuatu.


"Harus apa, Yah?" Sahut Naila.


"Harus hati-hati takut encok! Perempuan nggak boleh angkat yang berat-berat!"


"Oh... jadi udah mau balik juga nih? Kenapa nggak besok saja?"


"Kasihan Rio, tadi nelpon katanya sedang sakit."


"Rio sakit? Ya sudah Mama dan Ayah cepat pulang! Kasihan Rio! Sampaikan salamku kepadanya."


"Iya, Nai! Nanti akan kami sampaikan."


Mereka pun meninggalkan perumahan dan diantar Edo ke bandara.


Faisal dan Putri sudah naik ke pesawat.


"Mas, kalau mereka tahu gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana, dek! Wajar, kan? Namanya juga suami istri ya resikonya itu!"


"Tapi aku malu, Mas! Sudah tua!"


"Mau tua atau muda, kalau Allah sudah berkehendak, kita tidak bisa menyangkalnya! Syukuri saja! Banyak yang ingin tapi belum dikasih."


"Aku sangat bersyukur Allah masih memberiku kepercayaan di usiaku yang tak lagi muda. Tapi aku belum siap jika orang-orang tahu, Mas! Mad ngerti kan, maksudku?"


"Iya, ngerti! Ya sudah, nanti juga mereka akan tahu kalau sudah waktunya! Yang penting kamu jang terbebani! Jalani sesuai takaran-Nya."


"Iya, Mas! Terima kasih sudah mengerti."


"Sudah tugasku, dek!"


Faisal menggenggam tangan kiri istrinya lalu mencium punggung tangan tersebut. Hati Putri dipenuhi dengan kupu-kupu yang berterbangan. Ia seperti ABG yang baru jatuh cinta. Suaminya itu ternyata memiliki sisi romantis. Tidak kaku seperti awal perkenalan dan pernikahan.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Maaf telat up, author kagi ngebolang ke Malang


See You again...


__ADS_2