Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Mood Naila


__ADS_3

Keesokan harinya, Naila dan Salman jalan pagi ke luar komplek. Naila sedang ingin makan cendil pagi ini. Ada penjual cendil di daerah dekat distro. Ia ingin lari pagi dan mampir untuk makan di tempat.


"Capek, sayang?"


"Nggak kok, by! Aku masih kuat."


"Nanti pulangnya buar Edo jemput kita!"


"Lucu dong, masa lari pagi pulangnya pakai mobil?"


"Nggak pa-pa, daripada anak-anakku ndedemo."


"Ya udah terserah kamu, By!"


Tidak lama kemudian mereka sampai di kedai penjual cendil. Ternyata cukup banyak yang antri.


"Duduk dulu, Sayang!" Masih antri!"


Sisa satu kursi yang bisa ditempati. Salman memberikan kursi itu kepada istrinya. Sedangkan ia berdiri.


"Salman..!" Terlihat seorang perempuan menyapa Salman. Salman menoleh ke arah sumber suara.


"Dila...!"


"Iya, ini Dila! Nggak nyangka lho bisa ketemu kamu di sini! Lama ya kita nggak ketemu?"


"Hem, iya begitulah! Kamu sudah ama di Jogja?"


"Aku kuliah di Jogja masih semester 6, emangnya kamu udah mau sarjana atau mungkin sudah sarjana?"


"Alhamdulillah aku sudah lulus."


"Keren... dari dulu kamu memang keren! Gimana aku nggak ngejar-ngejar kamu? Hehe...." Dila merapikan rambutnya, ia seperti orang yang sedang tebar pesona


Naila masih santai menyaksikan percakapan mereka.


"Kamu di sini ngapain, Man? Apa mungkin kamu ngikutin aku ya? Kamu nyesel udah nolak aku dulu?" Cerca Dila.


"Ehm...." Naila berdeham.


Salman menoleh ke arah istrinya. Ia lupa kalau Naila sedang bersamanya. Salman menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh iya, Dil! Perkenalkan ini istriku namanya Naila."


Naila berdiri dan mengulurkan tangannya. Dila terperangah mendengar ucapan Salman.


"Perkenalkan, saya Naila." Suara Naila memecah ksmunan Dila. Ia pun menyambut tangan Naila.


"Namanya Dila, Sayang! Dulu kami satu sekolah saat SMA."


"Ka-kamu beneran sudah menikah, Man?"


Dila meyakinkan ucapan Salman.


"Iya, dong! Masa aku bohong! Nih buktinya, istriku sedang hamil saat ini!"


Dila langsung memperhatikan perut Naila yang cukup besar. Kemudian memperhatikan dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Ternyata selera Salman biasa saja. Tidak ada apa-apanya dibandingkan aku! Dan mungkin bisa saja mereka menikah karena hamil duluan!" Batin Dila.


"Wah gila kamu, Man! Bisa-bisanya menikahi anak di bawah umur!"


"Eits..jangan salah! Istriku ini seumuran denganku! Tapi karena dia imut kelihatannya aja bocil tapi bisa bikin bocil! Haha..."


"Hubby..."


"Ups.. maaf! Belum waktunya kamu paham, Dil! Haha..."


"Masnya, mau apa?" Suara Ibu penjual cendil menghentikan percakapan mereka.


Akhirnya Salman memesan keinginan istrinya. Naila tidak jadi makan di tempat. Ia minta dibungkus dan dimakan di rumah.


Edo sudah datang untuk menjemput mereka. Salman berpamitan kepada Dila.


"Maaf, kami duluan ya, Dil? Kapan-kapan mainnya ke rumah kami!" Ujar Salman.


"Ah, iya!" Jawab Dila, singkat.


Salman merangkul istrinya kemudian membukakan pintu mobil. Mereka masuk ke mobil dan kembali ke rumah.


Selama perjalanan, Naila nampak diam tak bersuara.


Saat Salman turun dari mobil dan menunggu Naila turun, ternyata Naila malah membuka pintu sebelahnya lalu menutupnya dengan keras. Ia pun buru-buru masuk ke dalam rumah.


Salman dan Edo terperangah melihat kelakuan Naila.


"Bos, kenapa dengan Mbak Bos?"


"Awas kalau macan betina marah, bisa bahaya lho, Bos! Hii... serem." Edo bergidik ngeri.


Salman tak menghiraukan ucapan Edo. Ia pergi ke dalam rumah menyusul usrmtrinya dengan membawa dua bungkus cendil di tangannya.


Saat masuk rumah, ternyata istrinya sudah berada di dalam kamar.


"Sayang, ini cendilnya! Ayo dimakan dulu!"


"Hiks..hiks.. nggak mau!"


Salman terkejut melihat istrinya kini sedang menangis sesegukan.


"Sayang, kamu kenapa nangis? Ada yang sakit, iya?"


"Hiks..hiks...huaaa..." Naila semakin menjadi.


Saat Salman hendak memeluknya, Naila berpaling.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Kamu genit, By! Ngapain pake nawarin Dila main ke rumah segala? Kamu suka ya sama dia? Mau bales cinta dia? Aku tahu sekarang aku gendut, jelek dan nggak seksi kayak Dila! Kamu mau duain aku, By? Lihatlah, Papa kalian jahat, Nak! Hiks..." Oceh Naila panjang lebar sambil mengelus perutnya.


Salman sekarang paham aoa yang terjadi kepada istrinya.


"Ya Allah, Sayang! Kamu itu ngomong apa? Aku cuma basa-basi tadi! Kalau aku mau bales perasaan Dila, ngapain nunggu sekrang? Kenapa nggak dari dulu saja!"


"Jadi kamu nyesel baru bales cintanya sekarang, By?"

__ADS_1


"Aduh, salah lagi!" Gumam Salman. Ia berusaha mendekati Naila.


"Sana jangan dekat-dekat, By! Aku lagi marah! Coba tadi nggak ada aku, pasti kamu udah ngajak dia ngedate, kan?"


"Astaga... pikiranmu itu lho! Buat apa, Sayang? Aku sudah punya kamu dan calon anak-anak kita, aku nggak butuh wanita lain! Cuma jamu satu-satunya wanita yang aku cintai dan akan aku temani sampai akhir hayatku." Salman mulai frustasi.


Naila tetap tidak bergeming. Meski Salman sudah membujuknya berkali-kali. Akhirnya Salman menyerah dan keluar dari kamarnya membawa bungkusan cendil yang mereka beli.


Salman mencoba menelpon Bundanya. Ia menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Naila saat ini.


"Man, Ibu hamil itu memang moodnya harus dijaga. Naila tidak pernah seperti itu, kan? Bisa saja itu bawaan bayinya."


"Iya, Bun! Aku jadi bingung!"


"Nggak usah bingung! Banyakin stok sabar! Kamu harus ngalah! Orang hamil itu perubahan hormonnya nggak tentu. Intinya kamu harus bisa menyenangkan istrimu. Jangan buat dia sedih atau marah! Paham?"


"Ia, paham bunda! Terima kasih sudah ngasih pencerahan. I love you Bunda..."


"Apaan, pake I love you segala? Udah punya istri masih juga genit sama istriku." Sahut Haris setelah berhasil mengambil alih handphone istrinya.


"Yaelah... Pawangnya main nyamber saja! Udah, aku tutup dulu, Yah! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum.... salam! Dasar Cah gemblung!" Ujar Haris, saat mengetahui telponnya sudah ditutup sebelum ia menjawab salam.


Setelah menelpon Bundanya, Salman pergi ke dapur. Ia memasak spagheti lasagna. Bahan-bahan memang sudah tersedia di kulkas. Ia hanya tinggal memasaknya saja.


Setelah masakannya jadi, ia pun mulai mencicipi.


"Enak, mantap! Sekarang waktunya merayu bidadariku."


Sebelum ia masuk ke kamarnya, Naila sudah keluar terlebih dahulu. Terlihat matanya yang sedikit sembab.


"Sepertinya enak baunya, By! Masak apa?" Ujar Naila.


Salman sangat heran dengan sikap istrinya yang cepat sekali berubah. Ia masih diam tak bergeming melihat istrinya mencicipi masakannya.


"Enak, By! Boleh aku makan?"


"Bo-boleh kok! Aku memang masak untukmu! Makanlah!"


"Tapi kamu juga makan, By!"


"Ah, iya pasti! Sebentar, aku ambilkan topingnya dulu!"


Salman menambahkan parutan keju di atas spagheti yang sudah tersaji di piring masing-masing.


"Sudah, Sayang! Ayo kita makan!"


Naila mengangguk dan tersenyum.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah! Semoga moodnya terus membaik." Ucap Salman dalam hati.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


See you again Kakak

__ADS_1


__ADS_2