Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Naila Marah


__ADS_3

Di kediaman Salman.


Raka dan Riky sudah mulai masuk sekolah. Sebentar lagi mereka akan mengikuti ujian akhir kelas XII. Mereka belum boleh membawa kendaraan sendiri. Ayah Haris sudah menyediakan supir khusus antar jemput mereka.


Salman saat ini sedang berada di balkon kamar, memeriksa pembukuan toko bunganya. Namun dia tidak fokus, karena sudah tiga hari ini belum ada juga kabar dari Farah tentang Naila.


"Abang...!!" Panggil Naomi, kini dia sudah berada di dalam kamar Salman.


"Dek, kamu kebiasaan masuk kamar Abang nggak ketuk pintu dulu!"


"Udah ngetuk berkali-kali, udah salam berkali-kali, tapi tidak ada sahutan! Karena tidak dikunci, ya aku masuk saja! Lagian Abang ngapain sih?"


"Ini lagi periksa pembukuan, Dek! Kamu sudah pulang sekolah?"


"Sudah! Abang dipanggil Bunda, waktunya makan siang."


"Ah, iya! Abang akan turun!"


Tidak ingin membuat orang tuanya lama menunggu, Salman langsung turun ke bawah dan menuju ruang makan. Mereka mulai makan bersama. Setelah selesai makan, Bundanya menahan Salman.


"Kenapa makanmu sedikit, Man? Apa masakan Bunda sudah tidak enak di lidahmu?"


"E-e...tidak begitu, Bunda! Masakan Bunda tetap yang paling enak! Hanya saja, aku tidak enak makan."


"Kamu sakit?" Bunda Raisya berdiri dari tempatnya dan meraba kening Salman.


"Ti-tidak kok, Bund!"


"Wah-wah, ada yang lagi manja ini! Curi-curi perhatian istriku!" Ujar Ayah Haris yng baru datang.


"Ayah, kamu itu apaan sih! Anak sendiri dicemburui! Wajar aku khawatir, tidak biasanya putramu ini makannya sedikit."


"Lagi diet kali, Bund!


"Apaan diet-diet! Badan udah ideal nggak ada diet dietan!"


"Sudah, tidak usah ribut! Bunda, Ayah, aku baik-baik saja! Kalian lanjutkan saja berkasih mesra!"Ujar Salman meninggalkan Ayah dan Bundanya.


Bunda Raisya hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan putra dan suaminya.


"Ayo, yah! Duduk dulu, segini cukup nasinya?"


"Cukup, Bund!"


Ayah Haris makan dengan lahap.


Di kediaman Adit

__ADS_1


Di dalam kamar Adit, Naila sedang melipat baju yang baru selesai diambil dari jemuran.


Braaakkk...


Suara pintu kamar terbuka dengan keras. Rupanya Adit baru saja datang. Kali ini sepertinya dia marah besar. Naila sangat takut, namun dia pura-pura cuek.


Adit melempar beberapa foto ke depan Naila.


"Kamu lihat itu! Wanita murahan itu sekarang sudah bahagia dengan selingkuhannya! Mereka pergi ke rumah sakit bersama untuk periksa ke dokter kandungan! Ck ck ck... aku tidak menyangka Freya nenghianatiku sejauh ini! Dia hamil! Selama ini aku selalu menjaga kehormatannya."


Naila mengamati foto-foto itu. Dia gemetar karena shock. Rupanya Adit sudah memata-matai Freya. Hal yang cukup mudah untuk Adit mendapatkan informasi tentang Freya.


"Ti-tidak mungkin! I-ini tidak mungkin! Aku kenal dengan lelaki di foto ini. Dia anaknya teman Ayah, orangnya baik."


"Benar dugaanku, keluarga kalian sudah merencanakan semua ini. Mereka malah mengirimmu untuk menjadi pengganti Freya. Dan kamu dengan mudahnya mau menerima, apa namanya kalau bukan direncanakan? Kenapa, apa keluargamu sangat terobsesi memiliki menantu pewaris tinggal?"


"Tidak! Itu tidak benar!"


"Aku sudah muak dengan semua ini!"


"Kami tidak tahu Kak Freya berada!Dia pergi begitu saja!"


"Mereka di Singapure! Tidak jauh! Bohong sekali kalau Ayahmu tidak menemukannya."


"Ayah sedang menjaga kesehatan Nenek. Dia tidak sempat, mencarinya! Lagipula Kak Freya berpesan untuk tidak usah mencarinya."


Jedaarrr....


Seperti petir yang menyambar. Ucapan Adit seakan meruntuhkan hidup Naila. Naila menjatuhkan dirinya dan terduduk di lantai. Air matanya luruh membasahi pipinya yang nampak lebih tirus. Ia menangis bukan karena takut kehilangan Adit, atau karena ia menjadi janda. Karena sesungguhnya memang ia belum mencintai Adit meski selama menjadi istrinya ia sudah berusaha menerima keadaan. Di hatinya masih ada Salman. Ia menangis karena harapan dan impiannya sudah benar-benar hancur.


"Kenapa kamu menangis? Bukankah kamu memang ingin lepas dariku?" Suara Adit kembali menggema.


"Adit, ada apa? Kenapa kamu marah-marah sama Naila?" Ujar Mama Dina yang tiba-tiba masuk ke kamar Adit. Rupanya suara Adit terdengar sampai ke luar kamat.


"Mama, aku sudah menalaknya! Dia sudah bukan istriku lagi!"


"Apa?" Mama Dina Shock.


"Aku sudah menceraikannya, Ma! Secepatnya aku akan mendaftarkan ke kantor Pengadilan Agama."


"Kamu gila, Dit?"


"Iya, aku sudah gila! Kalian tidak bisa memaksaku! Selama ini aku sudah cukup menutupi mau kalian! Masa bodoh dengan kehormatan keluarga ini. Bukan kita yang salah, Ma! Tapi keluarganya! Biarlah orang-orang tahu calon istriku yang sebenarnya telah pergi dengan laki-laki lain karena sedang hamil!"


Naila menghapus air matanya, ia berdiri dan mendekati Mama Dina yang saat ini sedang berdiri lemah.


"Dit, kenapa kamu jadi seperti ini? Ini bukan Adit yang Mama kenal!"

__ADS_1


"Adit yg dulu sudah mati bersama impiannya, Ma! Adit sudah capek, Ma! Biarkan Adit sendiri dulu!"


"Naila...." Mama Dina menghentikan ucapannya saat Naila menggelengkan kepala, mengkodenya untuk berhenti berbicara.


Naila menuntun Mama Dina untuk keluar dari kamar Adit. Dia mengambilkan segelas air putih untuk mertuanya.


"Mama yang sabar, ya!" Naila mengusap bahu Mama Dina.


"Kamu wanita yang sangat baik, Nai! Di saat hatimu terluka, kamu masih bisa menenangkan orang lain. Maafkan atas ucapan kasar Adit, dia sedang emosi."


"Kak Adit sudah mengucap kata talak kepadaku, Ma. Itu artinya sudah jatuh talak. Kami bukan suami istri lagi."


"Ada apa ini, Ma?" Ujar Papa Arif, dia baru pulang dari kantor.


"Tanyakan saja kepada anakmu itu, Pa!" Ujar Mama Dina yang tengah putus asa.


Papa Arif melangkahkan kakinya menuju kamar Adit. Cukup lama ia di sana. Terdengar suara perdebatan yang cukup menegangkan.


Naila dan Mama Dina masih duduk di ruang keluarga menunggu Papa Arif.


Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Papa Arif turun menemui Mama Dina.


"Gimana, Pa?"


"Adit sudah menjatuhkan talak kepada Naila, Ma! Meski dia dalam keadaan emosi, tapi dia sadar! Itu artinya mereka sudah sah bercerai secara agama. Mereka boleh menikah lagi, jika keduanya masih menginginkannya."


"Tidak." Ujar Naila dan Adit bersamaan. Ternyata Adit diam-diam ikut turun ke bawah, berjalan di belakang Papanya.


"Adit, bagaimana kalau Naila hamil?" Ujar Mama Dina.


"Ma! Aku tidak pernah menyentuhnya apalagi menggaulinya, mana bisa dia hamil? Kecuali dia hamil dengan laki-laki lain."


Plak....


Reflek Naila menampar Adit


"Jaga mulutmu, Kak! Aku bukan wanita seperti itu! Kakakku memang melakukan kesalahan, tapi jangan kau samakan aku dengannya! Maaf Ma, Pa, dari awal kami memang sudah tidak memiliki perasaan. Akan buruk jika terus dipaksakan. Maafkan aku sudah bertindak kasar kepada Kak Adit. Aku bisa diam saat aku dihina, tapi aku tidak bisa diam saat aku difitnah! Karena aku sudah tidak dibutuhkan lagi di sini, dan kami sudah tidak ada hubungan lagi, aku akan pergi dari rumah ini sekarang juga." Naila mengusap air matanya yang menetes kembali.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa mampir di novel Orang tua Salman dan Naila yang berjudul "Ketegaran Hati Raisya"


Terima kasih sudah selalu mendukung karyaku, Kakak..


See you again....

__ADS_1


__ADS_2