
Putri menoleh ke arah Faisal untuk memberi kode.
"Iya, Rai! Istriku hamil." Ujar Faisal.
"Masyaallah tabarokallah...Selamat ya!" Ujar Raisya seraya memeluk Putri kembali.
"Kamu nggak lagi ngejekin akun kan, Rai?"
"Ngejak gimana? Aku bersyukur Allah masih memberikan kepercayaan sama kamu! Itu artinya Allah sangat menyayangimu. Jaga dia baik-baik."
"Aku belum mengatakannya sama siapa-pun, kecuali Ijah dan Kasim. Bahkan anak-anak belum ada yang tahu, Rai!"
"Lho, emangnya kenapa?"
"Malu, Rai! Sudah tua masih saja mau punya anak!"
"Itu sudah takdir, Put!"
"Tolong jangan kasih tahu anak-anak, Rai! Nanti kalau sudah pulang mereka juga tahu!"
"Okey, santai! Aku akan tutup mulut, biarkan ini menjadi kejutan untuk mereka. Ada masalah dengan kandungan, Put? Kenapa kamu jadi kurus begini?"
"Terima kasih, Rai. Aku mual muntah setiap hari, Rai. Paling makan hanya tiga sendok saja yang masuk ke perut."
"Terus bagaimana kata dokter, nggak bahaya?"
"Ya mau gimana lagi, aku nggak suka makan nasi. Tapi kata dokter, mungkin nanti kalau sudah usia lebih dari 16 minggu, mual muntahnya akan berkurang."
"Makan buah saja!"
"Iya aku cuma suka pisang."
"Ehm... bukan pisangnya suamimu kan Put? Haris menyahuti.
"Hus... Ayah, ngomongnya itu lho!"
"Haha... Bang Haris kamu itu sama besan ngomongnya masih nggak difilter!" Ujar Putri.
Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf, Oak Faisal! Saya suka keceplosan, hehe..."
"Tidak apa, Pak Haris! Saya tidak masalah." Ujar Faisal sambil tersenyum.
Mereka pun melanjutkan pembahasannya.
Dua hari kemudian Naila dan Salman pulang ke kota mereka. Selain untuk berlibur, mereka akan mengadakan acara tasyakkuran tujuh bulanan di rumah Naila.
Keduanya kini sedang naik pesawat. Mang Kasim sudah menjemput mereka ke bandara.
"Mang, kenapa Ayah dan Mama tidak ikut menjemput kami?" Tanya Naila.
"Anu, itu...."
"Anu, itu, gimana sih, Mang? Kok kayak orang bingung?" Salman menimpali.
"Bu Putri sakit, Pak Faisal sedang menemaninya ke rumah sakit."
"Lho, kok Ayah nggak bilang? Aku telpon saja kalau begitu!"
"Tidak usah, Nai! Tadi Ayahmu bilang cuma sebentar kok ke rumah sakitnya!"
"Ayah bilang begitu, Mang?"
"Iya, beneran!"
Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah.
__ADS_1
Bi Ijah menyambut kedatangan Naila dan suaminya.Naila dan Salman mencium punggung tangan Bi Ijah.
"Ya Allah.. udah besar perutnya! Ini beneran isi tiga, Nai?"
"Iya, Bi! Nanti bibi akan repot kalau gendong nih!"
"Pasti lucu ya? Bibi jadi nggak sabar pingin lihat mereka!"
Mang Kasim dan Salman membawa barang bawaan mereka ke dalam kamar Naila. Naila juga pamit masuk ke kamar untuk rebahan. Karena ia capek sekali duduk di pesawat.
Satu jam kemudian Faisal dan Putri datang dari rumah sakit. Pagi tadi Putri sempat pingsan karena kelelahan. Saat sudah sadar, Faisal langsung membawanya ke rumah sakit. Karena kondisinya tidak apa-apa, ia langsung dibolekan pulang.
"Sayang, itu sepertinya ada mobil datang, mungkin Ayah sudah datang!" Ujar Salman, membangunkan Naila.
"Apa, By?"
"Itu, Ayah dan Mama sudah datang!"
"Iya, By!" Naila bangun dengan pelan.
Mereka pun keluar dari kamar untuk menemui Ayah dan Mamanya.
Ternyata Faisal dan Putri langsung masuk ke kamar. Naila dan Salman menyusul mereka.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Faisal membuka pintu.
Naila dan Salman mencium punggung tangan Ayahnya.
"Nggak pa-pa, Mama sakit apa?" Naila dan Salman masuk menghampiri Putri yang sedang berbaring di tempat tidur. Mereka pun mencium punggung tangan Mamanya.
"Aku cuma kecapean, kok!"
"Mama, kok Mama kurus sekali? Apa Ayah tidak memberimu makan?" Goda Salman.
"Hubby... nggak sopan! Mau dipecat jadi mantu?"
"Eh nggak dong, sayang! Kan aku cuma bercanda, Hehe.... maaf Ayah, Mama!"
"Huek...huek..." Putri kembali merasakan mual. Ia segera bangun dan berjalan cepat ke kamar mandi, Faisal mengikutinya. Naila dan Salman merasa khawatir, keduanya masih menunggu di dalam kamar. Satu menit kemudian mereka keluar dari kamar mandi. Hijab syar'i yang dipakai Putri kotor karena kena muntahan. Ia menggantinya dengan hijab rumahan. Naila teperangah melihat perut Putri yang sedikit buncit . Namun ia belum berani untuk bertanya.
"Mama sakit apa?" Tanya Salman.
"Aku hanya kecapean."
"Bukankah Mama sudah tidak bekerja lagi sekarang? Pasti Ayah nih yang bikin Mama capek!"
"Iya, Ayah kalian tidak mengijinkan aku untuk kembali bekerja! Katanya uangnya sudah lebih dari cukup untuk kami!" Putri melirik Faisal.
"Ehm... Sayang, kenapa kamu bengong? Apa anak-anak kita menendangmu?"
"Ha... eh, apa? Apa, By?"
"Kamu bengong, jangan-jangan kesambet!"
"Hubby... apaan sih!"
"Rencananya kalian akan tinggal berapa hari?" Tanya Faisal.
__ADS_1
"Insyaallah satu minggu, Yah!"
"Alhamdulillah, besok Freya juga akan pulang."
"Ya sudah, Mama istirahat saja! Kami akan kembali ke kamar!"
Saat berbalik, Naila tidak sengaja melihat susu Ibu hamil di atas nakas yang berada di pojok kamar itu.
"Fix, Mama pasti sedang hamil! Makanya dia mual-mual." Batin Naila. Sontak Naila kembali berbalik arah dan mendekati Putri.
"Mama..." Mata Naila sudah berkaca-kaca.
"Iya, Nai!"
Naila mengelus perut Putri.
"Apa di dalam sini sudah ada adikku?"
deg
Putri terkejut mendengar pertanyaan Naila.
"Mama tidak usah berbohong! Benar kan, Ma?" Naila menatap mata Ibu sambungnya.
Putri mengangguk perlahan. Sontak Naila memberikan pelukan hangat untuk sang Mama.
"Alhamdulillah, selamat ya, Ma!"
"Hah... jadi beneran nih? Aku bakalan punya adik ipar baru, Ma?" Salman menimpali.
"Iya, Nak Salman! Usianya sudah 16 minggu." Faisal ikut menimpali.
"Hem... jadi selama ini disembunyikan, ya? Kenapa, Ma?" Tanya Naila.
"Aku malu, Nai! Sudah mau punya cucu lagi tapi hamil lagi! Hamil kok kayak saingan sama anak! Apa kata orang?"
"Itu tandanya Ayah masih tokcer, Ma!" Sahut Salman. Membuat Faisal geleng-geleng kepala mendengar ucapan Salman yang absurd.
"Ma, itu sudah rejeki! Aku senang sekali mendengarnya! Tidak usah perdulikan kata orang! Berarti acara tujuh bulanan di lusa sekaligus empat bulanan Mama."
"Benar banget itu, Sayang!"
"Aku cukup didoakan saja, Nai! Tidak usah pakai ritual lainnya!"
"Iya, Ma! Sekarang Mama istirahat saja ya? Sepertinya adikku agak rewel ya?"
"Hem, bukan rewel lagi tapi nakal!" Ujar Putri sambil tersenyum.
Naila beralih memeluk sang Ayah.
"Selamat ya, Yah! Dan terima kasih udah ngasih aku adik, yeay....!"
"Ramuan dariku tokcer banget ya, Yah?Pasti lagi puasa sekarang ya, Yah? Selamat menikmati masa ngidam ya!" Bisik Salman di telinga Faisal. Faisal hanya tersenyum menanggapinya.
"Punya mantu gini amat! Untung baik dan tanggung jawab." Batin Faisal.
Mereka berdua keluar dari kamar orang tuanya. Melihat rona kebahagiaan di wajah sang istri, Salman tidak ingin mengusiknya. Mood Naila sering sekali berubah. Dia tidak mau menjadi bulan-bulanan Ibu hamil itu lagi.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tetap support karyaku ya kakak...
Terima kasih😍🤗😘
See you again....
__ADS_1