
Keesokan harinya.
Freya, Alfano, dan Kenzo sudah sampai di Bandara Juanda. Mereka dijemput Kakek dan Neneknya. Rupanya kepulangan mereka kali ini untuk menetap di Indonesia. Karena kontrak kerja Alfano di Singapura sudah habis. Dan dia akan memulai usaha di negaranya sendiri. Alfano juga sudah membangun rumah sederhana yang letaknya tidak jauh dari rumah orang tuanya.
Mendengar saudaranya sudah tiba, Naila tidak sabar untuk pergi ke rumah Kakek dan Neneknya.
"Ayah, aku dan Mas Salman mau pergi ke rumah Nenek."
"Iya, Nai! Hati-hati, sampaikan salam kami kepada mereka."
"Insyaallah, Yah!"
Salman dan Naila pun berangkat ke rumah Kakek-neneknya menggunakan mobil milik Faisal.
Sesampainya di rumah Neneknya, suasana cukup ramai. Karena kedua saudara Faisal dan keluarganya juga berada di sana.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam." Jawab mereka serentak.
"Nah ini bumil sudah datang! Wow itu perut apa drum, Nai?" Ujar Septi, Tantenya.
"Tante, ini maha karya kami." Sahut Salman.
"Hahaha... suamimu itu ada-ada saja, Nai!"
Mereka saling bertegur sapa dengan semuanya. Melepas rindu dan berbagi cerita.
"Naila, kemana Ayah dan Mama? Apa mereka tidak rindu dengan kami?" Tanya Alfano.
"Bang Alfan ini gimana sih? Mama itu lagi nggak enak badan, lemah lunglai tak bertenaga!"
"Bahasamu, Man! Mama sakit? Kok Ayah nggak bilang-bilang?" Freya menimpali.
"Iya, Mama sakit, Ayah yang bikin sakit."
"Hubby..."
"Maksudku Ayah yang bikin Mama hamil, jadi sekarang Mama kurang sehat karena sedang hamil, haha...."
"Hah...Mama hamil? Jangan ngarang kamu, Man!" Ujar Alfano.
__ADS_1
"Ish, dibilangin nggak percaya! Tanya saja sama istriku ini! Dia nggak pernah bohong!"
"Nai... beneran?"
"Iya, Bang! Mama hamil sudah empat bulan. Jadi kita akan punya adik lagi." Ujar Naila.
"Alhamdulillah... " Ucap beberapa orang tua yang berada di ruang itu.
"Bang Ical nggak cerita kalau Mbak Putri hamil." Ujar Septi.
"Mama malu, Tante! Maklum, kan?"
"Iya, sih! Jadi besok acaranya double dong? Tujuh bulanan sekaligus empat bulanan."
"Alhamdulillah, anggota keluarga kita bakal nambah banyak." Ujar sang Kakek.
Sore harinya, Naila dan Salman kembali ke rumah Faisal. Acara untuk tujuh bulanan besok sudah dipersiapkan oleh tim EO. Untuk Makanan tentu sudah ditanggung oleh tim katering Neneknya.
Acara diadakan di rumah Faisal. Sebenarnya lalu Raisya sudah meminta untuk diadakan di rumahnya. Tapi Faisal tidak setuju karena waktu menikah ditempatkan di rumah Raisya. Raisya dan Haris tidak mau ambil pusing, yang terpenting bagi mereka adalah keselamatan anak menantu dan cucunya. Dan tentunya untuk kebaikan bersama.
Saat ini Sedang dipasang dekorasi mini untuk acara siraman yang diletakkan di depan garasi. Mereka juga memasang beberapa tenda di depan rumah untuk tempat tamu laki-laki.
"Mama, gimana? Sudah enakan?"
"Apa itu, Ma?"
"Ayahmu sudah membujuk Rio untuk tinggal bersama kami, selama hamil aku tidak bisa lepas memikirkan anak itu. Kemarin dia setuju untuk tinggal di sini. Tapi dia merasa tidak enak sama kamu dan Freya."
"Rio bilang begitu, Ma?"
"Iya maaf, anak itu memikirkan sampai sejauh itu! "
"Itu artinya dia sudah dewasa, Ma! Dia hanya belum akrab dengan kami. Wajar dia berpikiran seperti itu. Nanti kalau dia ke sini, aku akan mengajaknya ngobrol dan bicara dari hati ke hati. Aku justru akan sangat senang kalau Rio mau tinggal di sini."
"Terima kasih, Naila! Allah sungguh baik nempertemukanku dengan keluarga ini."
"Ah...Mama! Jangan mellow gini dong!"
Keduanya saling berpelukan. Rupanya ada seseorang yang bersembunyi di balik pintu dan mendengarkan obrolan mereka.
"Hatimu memang seluas samudra, Nai! Ayah sangat bangga padamu." Batin Faisal.
__ADS_1
Malam harinya. Rio datang dengan Tantenya, sepupu Putri yang tinggal dekat dengan rumah Rio. Rio memang memang tidak banyak bicara. Anaknya cenderung pemalu namun memiliki pemikiran yang dewasa.
"Mama, apa benar sekarang Mama sedang hamil?"Tanya Rio. Ia mendengar kabar tersebut dari Tantenya.
Putri tak bergeming, ia takut jika Rio akan marah kepadanya dan tidak bisa menerima kehadiran adiknya.
"Iya, Rio! Makanya Mama ingin sekali kamu tidak jauh dari Mama. Mama ingin kamu tinggal di sini. Mungkin ini juga permintaan adikmu."
Rio diam tak bergeming. Ia menoleh ke arah Faisal dan beralih ke arah Mamanya.
"Kamu harus dengarkan permintaan Mama, Rio! Apa kamu ingin adik kita rewel di dalam perut Mama? Lihatlah! Mama kurus seperti itu karena adik kita rewel membuat Mama stres! Belum lagi Mama kepikiran kamu! Kakak Mohon, tinggal-lah di sini ya?" Ujar Naila yang baru saja muncul dari kamarnya.
Dari perkataan Naila yang begitu menganggapnya seorang adik, hati Rio tersentuh. Apa yang ia pikirkan ternyata tidak benar. Kenyataannya saudari sambungnya itu baik hati dan pengertian.
"Bagaimana, Rio? Ayah akan urus surat mutasi untuk kamu kalau kamu mau tinggal dengan kami. Tapi kalau kamu masih mau sekolah di tempat yang lama, Ayah akan usahakan untuk menyuruh supir mengantarmu pagi sekali."
"Kasih aku waktu, Yah! Mungkin besok aku kasih jawaban." Jawab Rio dengan tegas. Kemudian ia mendekati Mamanya. "Ma, aku senang mau punya adik! Jaga kesehatan ya, Ma!" Rio memeluk sang Mama.
Naila yang memiliki hati selembut sutra itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia terharu melihat pemandangan di depannya. Matanya mulai berembun. Andai iya sedarah dengan Rio, mungkin saat ini ia juga akan memeluknya.
Faisal tersenyum lega mendengar ucapan Rio. Iya sangat berharap Rio memberikan jawaban sesuai dengan harapan mereka.
Tidak lama kemudian Freya datang dengan yang lainnya.
"Mama....!" Sontak Freya berjalan cepat dan memeluk Putri. Putri menerima pelukan hangat itu. Tak lupa juga bersalaman dengan yang lainnya.
"Nak, kamu kurus sekali! Apa Ical menyiksamu?" Goda Ibu Faisal.
"Memangnya aku penjajah, Bu?" Faisal menimpali.
"Iya kamu memang penjajah! Penjajah terowongan casablanca! Keenakan di dalam sana sampai mencetak....." Ibu Faisal menghentikan ucapannya karena melihat beberapa anak di bawah umur
Yang lain tertawa mendengar lelucon mereka.
Malam ini mereka menghabiskan waktu bersama. Para wanita merapikan soufenir untuk acara besok. Dan para lelaki ngobrol sambil main catur di bawah tenda.
"Terima kasih Ya Allah, engkau memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk keluarga kami. Semoga acara besok siang berjalan dengan lancar, amin..." Ucap Naila dalam hati.
Jarak 10 meter dari pagar rumah Faisal, seorang wanita paruh baya dengan membawa seorang anak laki-laki berusia 10 tahun baru turun dari taxi. Ia memperhatikan rumah Faisal dari kejauhan. Tadinya ia ingin masuk , namun diurungkan karena sepertinya ada acara si rumah Faisal. Wanita tersebut kembali masuk ke dalam taksi dan meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung.....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
See You again....