Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
3A


__ADS_3

Dalam kekhawatirannya, Salman bersyukur. Ia sudah bisa melihat satu putrinya.


Lima menit kemudian, pintu dibuka kembali. Seorang perawat menggendong seorang bayi.


"Tuan Salman, ini aka kecuali anda! Jenis kelaminnya laki-laki!"


"Alhamdulillah." Ucap Salman dan Raisya bersamaan.


Salman kembali mengadzani Putranya.


"Lihatlah! Dia mirip seperti kamu, Man!"


"Bunda betul, dua-duanya mirip aku."


"Maaf, Tuan! Saya bawa dulu bayinya untuk dibersihkan."


Salman mengambil foto anak keduanya. Setelah itu ia menyerahkan kembali bayinya kepada perawat.


Salman dan Raisya memandangi foto bayi-bayi itu. Di dalam hatinya, Salman masih tidak menyangka di umurnya yang masih 21 tahun ini, dia sudah memiliki anak. Bukan hanya satu tapi akan punya tiga.


"Oek oek..."


Suara tngisan bayi mengejutkan Salman dan Raisya.


"Tuan Salman ini anak ketiga anda!"


Salman langsung menghampiri perawat dan menggendong bayinya.


"Perempuan ya, Sus?"


"Iya, Tuan! Silahkan diadzani!"


"Masyaallah, subuh sempurna ciptaanmu!"


Kemudian Salman mengadzani Putrinya itu. Seperti tadi, sebelum dibawa perawat, Salman mengambil foto putri ketiganya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Sus?"


"Sebentar lagi dokter pasti keluar, Tuan! Bersabarlah! Ibu Naila baik-baik saja!"


Setelah perawat masuk, 30 menit kemudian dokter yang menangani Naila keluar.


"Selamat atas kelahiran tiga anaknya, Tuan Salman! Istri anda hebat! Dia sangat kuat."


"Terima kasih, Dok! Bagaimana keadaan istri saya?"


"Istri anda baik-baik saja, sekarang masih masa transisi. 30 Mnit lagi kalau dia sudah sadar, anda boleh menemuinya."

__ADS_1


"Terima kasih, Dokter!


Salman dan Raisya duduk kembali. Salman segera menghubungi mertuanya, memberitahukan kabar bahagia.


"Syukur Alhamdulillah, Nak! Ayah akan berangkat nanti sore ke sana!"


"Baiklah, Ayah hati-hati! Kabari saja kalau sudah akan sampai, biar Edo yang jemput nanti!"


Tidak lama kemudian Haris sampai di rumah sakit. Salman menyusulnya di depan rumah sakit.


"Ayah, anakku sudah lahir!"


Haris mendekap putranya. Dan memberikan ucapan selamat.


Sampai depan ruang operasi, Haris langsung mendekati istrinya. Raisya mencium punggung tangan suaminya dan memeluknya. Haris pun nengecup kening istrinya. Keduanya memang sudah lama terpisah. Raisya sudah hampir saru bulan tinggal di Jogja.


"Ehm... udahan dong prluknya! Bikin ngiri aja! Udah tahu anaknya bakalan puasa 40 hari ke depan, masih saja disuguhi kemesraan."


"Dosa kamu, Man! Ngapain ngelarang-larang? Maklum Ayah jarang pisah sama Bundamu! Kalau bukan demi cucuku, aku tidak akan mengizinkannya tinggal di Jogja! Syukurin bakalan puasa!"


"Ya, ya, maaf! Setelah ini kalian tidak akan terpisahkan lagi!" Ujar Salman, sewot.


"Anakmu itu, Bun!"


"Anakmu juga, Yah!"


"Bunda, haus."


"Oh iya, ini minum dulu, Nai! Raisya memberikan air minum kepada Naila.


"Selamat ya, Nai! Kamu sudah menjadi Ibu." Ujar Raisya dengan senyum bahagianya.


Mata Naila berembun, ia merasa sedih.


"Nai, kenapa kamu menangis?"


"Perjuangan seorang Ibu sangatlah berat dalam melahirkan seorang anak, namun terkadang seorang anak tidak bisa memaafkan kesalahan Ibunya. Bunda, saat di ruang operasi tadi, bayang-bayang Ibuku sekali muncul. Aku sangat berdosa kepadanya." Air mata Naila mulai menetes.


"Naila, kamu anak yang baik. Bunda tahu kamu tentu tidak pernah merasa benci kepada Ibumu! Kamu hanya belum siap menerimanya kembali! Sekarang hapus air matamu! Jangan stres dan banyak pikiran! Ada tiga bayi yang butuh sumber energi. Dn kamu harus mempersiapkan itu!"


Naila menghapus air matanya. Benar kata mertuanya. Stres bisa menggambar keluarnya ASI.


Tidak lana kemudian, pintu kamar Naila terbuka. Muncullah Salman dengan menggendong saru bayinya, diikuti dua perawat yang juga menggendong bayi mereka.


"Sayang, ini bayi-bayi kita! Yang aku gendong ini cowok, nomer dua! Yang digendong suster ini cewek, nomer satu! Dan yang ini cewek juga, yan ketiga!"


Naila tersenyum senang melihat ketiga bayinya.

__ADS_1


"Sini, Sus biar kami yang menggendong!" Ujar Raisya!"


Bayi pertama digendong Raisya, dan bayi yang ketiga digendong Haris.


Untuk sementara mereka dibantu dengan susu formula. Karena ASI Naila masih belum keluar banyak.


"Sini By, coba aku gendong!"


Naila mencoba memberikan ASI kepada bayinya. Dan ternyata bayi tersebut merespon. Naila nampak merasa geli.


"Sayang, rasanya sama nggak seperti saat aku yang nge*ut?" Bisik Salman di telinga Naila. Namun suaranya masih bisa didengar oleh kedua orang tuanya.


Pipi Naila bersemu merah, ia malu mendengar pertanyaan suaminya.


"Dasar keturunan Haris!" Ujar Ayahnya sendiri.


"Haha... Ayah, nama sendiri kok disebut?"


"Kamu itu, Yah! Nurunin yang baik-baiknya gitu! Nurunin kok yang aneh-aneh! Ujar Raisya kepada suaminya.


Haris dan Salman hanya bisa ketawa.


"Man, kamu sudah siapkan nama untuk anakmu?" Tanya Haris.


"Sudah sih, Yah! Kami berdua sudah pernah mencatat beberapa nama."


"Siapa?"


"Karena kami pikir cewek semua, jadi kami siapkan nama yang cewek saja, yang cowok belum! Alya Salmana, Ayla Salmana... yang cowok siapa ya?"


"Kalau Ayah boleh usul, namanya Arya! Biat jadi 3A!"


"Boleh juga! Gimana, Sayang?"


"Boleh, By! Yang penting artinya baik."


"Alhamdulillah jadi namanya Alya, Arya, dan Ayla."


Raisya dan Haris sangat senang memiliki tiga cucu sekaligus. Bahkan Haris mengganti photo profilnya dengan foto ketiga cucunya yang baru lahir itu.


Melihat photo profil besarnya, Faisal tidak sabar ingin segera sampai di Jogja.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dukung terus karyaku ya Kak 😘 😍

__ADS_1


See you again....


__ADS_2