
Tiga bulan telah berlalu, kini usia kehamilan Naila sudah memasuki 4 bulan. Perutnya sudah kelihatan cukup besar. Bidan yang biasa memeriksanya memperkirakan ia hamil kembar. Namun belum dapat dipastikan karena belum di USG.
Selama masa kehamilannya, Naila masih mengalami mual muntah layaknya Ibu hamil di trisemester pertama. Namun Naila bersikukuh untuk tetap masuk kuliah. Ia tidak ingin cuti, karena ingin cepat lulus dan wisuda. Farah selalu ada untuk menemaninya saat di kampus. Salman menuruti apapun yang diinginkan istrinya. Namun makanan-makanan yang menurutnya berbahaya untuk kandungan istrinya, ia tanyakan dulu kepada Bunda atau Mama Putri.
Seperti saat ini, istrinya itu sedang ingin sekali makan durian.
"Jangan dulu ya, Sayang! Aku barusan sudah telpon Mama Putri. Katanya jangan dikasih makan durian dulu! Tunggu kandunganmu 6 bulan ya? Sekarang masih rawan."
"Tapi pingin banget, By! Nanti kalau anakmu ngeces gimana?" Naila memelas jepang sang suami.
"Minta yang lain saja! Pasti aku belikan! Ini demi kebaikan kalian berdua!"
"Es krim rasa durian, boleh?"
"Ya sudah, akan aku belikan!"
Salman membelikan es krim durian satu cup kecil.
"kecil banget, By! Kamu pelit!"
"Biarin! Kalau kamu mau rasa lain akan aku belikan segudang!"
Naila memanyunkan bibirnya. Salman gemas melihat istrinya yang sedang merajuk. Ia sebenarnya tidak tega, namun ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya.
Keesokan harinya
Mumpung kuliahnya libur, Salman membawa Naila ke rumah sakit untuk USG. Setiap bulan ia sudah periksa, namun belum ingin USG karena menunggu usia kandungannya 4 bulan.
Sampai di rumah sakit, mereka masih antri. Banyak pasien Ibu hamil yang ingin USG.
Ada seorang Ibu hamil baru keluar dari ruangan tersebut. Kalau dilihat dari paraanya usianya diperkirakan 25 tahun. Nampak sekali dari raut wajahnya saat ini, ia sedang bersedih.
"Hubby, lihatlah Ibu itu! Kenapa dia kelihatan sedih?"
"Aku juga nggak tahu, Sayang!"
Ibu muda tersebut duduk di samping Naila. Ia menatap gambar USG yang dipegang di tangan kirinya. Ternyata ia sedang menunggu panggilan lagi untuk menerima resep dari dokter.
"Maaf, Kenapa anda kelihatan bersedih? Anda baik-baik saja, kan?"
"Usia kandunganku sudah 8 bulan, setelah di USG 4G dokter menyatakan bahwa bayiku ini menderita down syndrom. Aku shock mengetahui kenyataan ini. Dulu aku memang sempat ingin nenggugurkannya karena suamiku meninggalkanku! Hiks... Kenapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat kepadaku?" Jelas wanita tersebut dengan linangan air mata.
Naila terperangah mendengar cerita Ibu tersebut. ia merasa sedih dengan nasib wanita itu. Saat ini ia menjadi khawatir dengan kandungannya.
"Ibu Sintya!"
Ibu muda tersebut berdiri.
"Iya saya, Sus!"
"Ini resep anda, bisa langsung ditebus di apotek!"
"Terima kasih, sus."
Naila berdiri menghampiri Ibu tersebut.
"Mbk, yang sabar ya! Apapun yang sudah terjadi, itu atas kehendak Allah. Insyaallah itu yang terbaik untuk kita. Pasti ada hikmahnya. Kita tidak pernah tahu mungkin saja anak kita yang akan membawa kita ke surga."
"Terima kasih! Maaf, kita baru pertama kali bertemu, tapi aku sudah bikin kamu takut ya? Semoga bagimu sehat dan normal." Ujar Naila berusaha menghibur Ibu tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih kembali, Mbak! Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Mbak berdo'a saja, mungkin prediksi USG-nya salah."
"Huh.. entahlah! Sepertinya aku memang harus pasrah dengan semua ini. Kamu beruntung bisa ditemani suamimu di saat masa kehamilanmu, tidak sepertiku..."
"Nyonya Naila!" Suster memanggil.
"Oh iya, Sus! Maaf Mbak, saya masuk dulu!"
Naila dan Salman masuk ke ruang USG. Naila mulai berbaring di brankar. Kemudian diolesi jell.
"Sudah pernah USG, Nyonya?"
"Belum pernah, Dok!"
"Jadi ini pertama kali ya? Pantas saja anda seperti sangat khawatir. Tenang saja, rileks! Biar babynya tidak stres."
Setelah alat USG dipasang di perut Naila dan gambar baby mulai nampak di layar.
"Masyaallah, mereka sehat sekali!"
"Apa benar kembar, Dok?" Salman bertanya.
"Anda lihat saja itu! Ada tiga nyawa di sana!"
"Hah... tiga?" Naila terkejut
"Iya, Nyonya... Selamat ya! Ketiganya sehat, detak jantungnya juga normal."
"Apa aku bilang, Sayang? Perutmu besar, tidak mungkin isinya satu! Benar-benar tokcer jurusnya Ayah! Bukan hanya dua, tapi tiga! Alhamdulillah...."
"Hubby... Ngomongnya direm dulu! Malu sama dokter!" Ujar Naila menghentikan ucapan suaminya yang absurd baginya.
"Apa belum bisa dilihat jenis kelaminnya, Dok?" Ujar Salman.
"Iya, dok! Terima kasih!"
"Apa ada keluhan selama kehamilan?"
"Tidak ada dok, hanya mual biasa."
"Ya sudah, cukup itu saja. Ini foto USG-nya!"
"Terima kasih banyak, dok!"
"Iya sama-sama."
Salman dan Naila pulang dengan perasaan yang sangat bahagia. Naila bersyukur bayi dalam kandungannya sehat. Begitu pula Salman ia pasti sudah tidak sabar memberi tahukan berita bahagia ini kepada keluarganya, terutama Ayahnya.
Lusa keluarga mereka akan berkunjung ke Jogja untuk mengadakan tasyakkuran 7 bulanan Naila.
Sampai di rumah Salman langsung menghubungi keluarganya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Bunda, mana Ayah?"
"Kenapa? Mau ngajak ribut?"
__ADS_1
"Jangan su'udzon dulu, Bun! Aku mau ngasih kabar bahagia."
"Bunda nggak dikasih tahu?"
"Ah iya, baiklah! Sampai lupa karena mau pamer sama Ayah! Haha..."
"Kabar apa, Man?"
"Bunda, tadi istriku sudah USG! Alhamdulillah anak kami sehat semua."
"Alhamdulillah....eh tunggu! Maksudnya sehat semua, ada berapa memangnya?"
"Ada tiga, Bun! Bunda akan punya cucu langsung tiga!"
"Masyaallah, Alhamdulillah... "
"Siapa yang telpon, Bun? Kayaknya heboh banget?" Ujar Haris.
"Ini, Salman Yah!"
Raisya memberikan handphone-nya kepada Haris.
"Hallo... ada apa, Man?"
"Ayah, kali ini Ayah harus menambah aset warisan untukku!"
"Dalam rangka apa, cah edan? Mbak mu saja belum aku bantuin warisan!"
"Untuk ketiga cucu Ayah! Ayah tahu? Anakk kembar 3!"
"Masyaallah... do'aku terkabul! Kamu tidak sedang membohongiku, kan?"
"Akan aku kirim foto hasil USG untuk Ayah!"
"Kalau benar, aku akan memberikan satu lagi asetku kepadamu!"
"Ayah, aku hanya bercanda! Do'akan saja istri dan anak-anakku sehat dan bisa melahirkan dengan lancar."
"Benarkah? Kamu tidak mau dikasih usaha travel Ayah?"
"Kalau itu terserah Ayah, bukankah gak ilok kata orang Jawa kalau nolak rejeki, haha...."
"Dasar, turunan Haris!"
"Lha namanya sendiri yang disebut!"
"Jaga menantu dan cucuku! Jangan kamu gempur terus dia!"
"Iya, iya, Yah! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Raisya hanya bisa mengelus dada mendengarkan obrolan anak dan suaminya di telpon.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf kalau up-nya sedikit.
__ADS_1
Dua hari ini author lagi pusing, do'akan pusing karena hamil ya kak 😁 siapa tahu kembar kayak Naila.
See tou again....