Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Sayang


__ADS_3

Salman masih menatap wajah Naila. Dia tidak bisa memalingkan pandangan. Reflek tangannya terangkat menegelus pipi hingga bibir Naila. Ada sesuatu yang menegang di bawah sana. Namun Salman harus bisa menguasainya. Dengan terpaksa ia bangun dari perbaringannya, menuju kamar mandi. Naila yang sadar kelakuan suaminya itu, hanya bisa menahan senyum. Naila-pun bangun dan membereskan tempat tidurnya. Tidak lama kemudian, Salman keluar dari kamar mandi dan shalat Shubuh.


Selesai membereskan tempat tidurnya, Naila masuk ke kamar mandi untuk mandi dan menghargai pembalut. Saat keluar dari kamar mandi, Naila melihat Salman tidur lagi. Sepertinya dia sangat lelah. Naila pergi ke dapur untuk melihat bahan makanan. Di dapur sudah ada Bi Ijah yang sedang memasak.


"Bi' pagi banget masaknya?"


"Iya, kan ada penghuni baru!"


"Mau masak apa? Sini biar aku bantu!"


"Tongkol balado sama tumis kangkung. Nggak usah, Nai! Kamu temani saja suamimu! Bibi bisa masak sendiri."


"Dia sedang tidur! Setelah shalat dia tidur lagi! Ngantuk banget kayaknya!"


"Nai! Kamu jangan menunda kehamilan ya! Kalau hamil kamu kan, bisa cuti dulu kuliahnya!"


"Nikah baru sehari udah ngomongin hamil, Bi!"


"Ya, namanya orang menikah itu pasti sudah memikirkan ke depannya! Jangan kayak Bibi! Menunda kehamilan karena belum siap secara materi, ujung-ujungnya sampe tua nggak punya keturunan."


"Iya, Bi! Aku akan ingat pesan Bibi."


"Harus itu! Kalau kamu punya anak, terus kamu masih lanjut kuliah, anakmu boleh kok dititipin ke Bibi, hehe..."


Mereka melanjutkan masak. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 6.30. Faisal baru keluar dari kamarnya. Dia mencium bau yang sedang dari arah dapur.


"Wangi sekali! Kalian masak apa?"


"Tongkol balado sama tumis kangkung, Yah!" Jawab Naila.


"Ijah, bikinin aku kopi!"


"Biar aku yang bikinin, Yah!"


"Mana suamimu? Sekalian bikinin juga!"


"Di kamar."


"Aku belum tahu dia ngopi apa nggak ya?" Batin Naila.


Naila membuatkan kopi untuk Ayahnya sesuai dengan takaran yang biasa dibuat. Setelah itu dia masuk ke kamar untuk mengajak Salman sarapan.


Tiba di kamarnya ternyata Salman masih belum bangun. Naila berinisiatif untuk membangunkannya.


"Hai, bangun! Bangun!" Naila menyentuh lengan Salman. Salman tetap tidak berkutik.


"M-Mas, bangun!" Kali ini ia menggoyang lengan Salman. Sontak Salman mengerjapkan mata.


"Aku mimpi ya? Sepertinya ada yang memanggilku, Mas gitu?"


Naila hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengabaikan pertanyaan Salman.


"Ayo bangun dulu! Kita sarapan!"


Saat hendak melangkah, tangan Naila dicekal Salman. Sontak dia berhenti dan menoleh ke arah Suaminya.


"A-ada apa?"


"Aku suka dengan panggilanmu! Memang seharusnya begitu, kan?" Salman mengerlingkan matanya, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.


"Astaga! Ternyata dia genit sekali!" Ujar Naila, lirih.


Naila keluar dari kamarnya terlebih dahulu.


"Mana suamimu, Nai?"

__ADS_1


"Masih cuci muka, Yah! Itu sudah datang!"


"Pagi, Yah! Maaf tadi aku ketiduran!"


"Nggak pa-pa, Nak Salman! Ayo kita sarapan!"


Mereka sarapan bertiga. Bi Ijah dan Mang Kasim sarapan di gazebo belakang.


"Segini cukup, Yah?" Tanya Naila saat menyendokkan nasi ke piring Ayahnya.


"Layani suami dulu! Ayah sudah biasa ambik sendiri."


"Ah iya, maaf lupa!" Lalu ia menyendokkan nasi ke piring suaminya.


"Segini cukup?"


"Iya, cukup Sayang."


Tiba-tiba ada bunga bermekaran di hati Naila. Suaminya kali ini berhasil membuatnya salah tingkah. Faisal yang melihat tingkah pengantin baru di depannya, hanya bisa tersenyum.


"Bagus sekali aktingmu, suamiku. Tapi aku suka!" Batin Naila.


Mereka makan dengan tenang. Salman bahkan tidak malu untuk nambah lagi.


"Enak ya, Nak Salman?"


"Enak sekali, Yah!"


"Itu masakan istrimu! Nanti dia bisa masak tiap hari untukmu!"


"Oh ya? Aku nggak percaya lho, Yah!"


"Buktikan saja nanti!" Ujar Faisal meyakinkan Salman.


Setelah acara sarapan selesai, Naila membereskan perabotan kotor bekas mereka. Salman ingin membantu Naila, namun dicegah oleh Faisal.


"Tidak, Ayah! Saya lebih suka susu."


"Naila! Buatkan susu untuk suamimu!"


"Iya, Yah!"


5 menit kemudian Naila datang dengan membawa segelas susu untuk Salman. Saat ini Salman dan Faisal sedang ngobrol di teras depan rumah.


"Ini susunya!"


"Makasih, Sayang."


Naila mengangguk dan tersenyum. Setelah membereskan pekerjaan di dapur bersama Bi Ijah, Naila kembali ke kamarnya untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke Jogja lusa. Dia dan Salman harus segera kembali ke Jogja, mengingat izin yang diberikan dari kampus hanya sebentar. Dan Salman punya proyek baru yang harus ia sekesaikan di sana.


Saat sedang melipat bajunya, pintu kamar terbuka. Rupanya Salman yang datang. Naila bingung mau memulai pembicaraan dengan Salman.


"Ehm, butuh bantuan?"


"Ti-tidak! Biar aku saja yang mengerjakan! Kamu santai saja!"


"Nin, maaf ya kalau kamu tidak nyaman dengan panggilanku! Aku tidak ingin orang tua kita curiga."


"Tuh kan, benar! Kamu panggil aku sayang karena ada Ayah." Batin Naila.


"Tidak apa, aku mengerti." Jawab Naila.


"Meskipun sebenarnya aku ingin sekali selalu memanggilku dengan panggilan Sayang, Nin!" Batin Salman.


Sore harinya Salman mengajak Naila untuk main ke rumahnya.

__ADS_1


"Menginaplah di sana semalam saja! Mertuamu juga pasti ingin melihat anak mantannya. Besok baru tidur di sini sebelum lusa kalian balik ke Jogja!" Faisal menasehati Naila.


"Iya, Yah!"


Mereka pergi ke rumah Salman dengan menggunakan motor mata milik Naila.


"Pegangan, Nin!"


"Hah?"


Tidak mau berdebat, Salman mengambil tangan Naila dan meletakkan di perutnya untuk berpegangan.


"Nah, begini! Jangan banyak protes! Dosa!"


Jantung Naila berlalu-talu. Salman berhasil membuatnya kembali berbunga-bunga. Sepanjang jalan Salman selalu tersenyum. Perhatiannya cukup jauh, sekita 60 menit. Namun tidak terasa bagi keduanya. Karena hati mereka sedang bahagia.


Sesampainya di rumah Salman, di sana penghuni masih lengkap. Ada orang tua Salman, ketiga adik Salman dan semua asisten rumah tangga. Hanya Salwa yang tidak berada bersama mereka.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam!


Mereka berdua mencium punggung tangan kedua orang tua Salman.


"Ayo Nai, duduk dulu! Kamu pasti capek!"


"Salman, kenapa kamu bawa motor? Nggak minta jemput Mang Diro saja?"


"Ayah Ical juga sudah menyuruh bawa mobilnya, Bunda! Tapi istriku ini pinginnya naik motor." Ujar Salman melirik Naila.


"Oh, begitu!"


"Ini Bu, minumannya!"


"Makasih, Mbak Jum!"


"Iya, sama-sama."


"Ayo diminum dulu, Nai!


"Iya, Bunda."


"Bang Salman....!" Si bungsu baru keluar dari kamarnya, dan menghampiri Salman.


"Ayuni, kamu kok gendutan? Makan terus ya?"


"Ish, Abang! Baru sehati nggak ketemu udah body shaming! Eh ada Mbak cantik!" Ujar Ayuni, kemudian mencium pung tangan Naila.


"Abang!" Ujar Raka dan Riky bersamaan.


"Hem.. kalian nggak kuliah?"


"Nggak ada kuliah hari ini." Jawab Riky.


"Iya, sama." Jawab Raka.


Mereka ngobrol bersama di ruang tengah. Naila merasakan kehangatan di dalam keluarga Salman. Sudah lama ia kehilangan moment seperti itu di dalam keluarganya.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yang belum membaca novel orang tua Salman dan orang tua Naila, bisa langsung baca ya kak...


Novel judul "Ketegaran Hati Raisya"

__ADS_1


See You Again....


__ADS_2