Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Gagal


__ADS_3

Salman mengajak Naila masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua. Keluarga Salman sangat senang karena mereka akan menginap.


"Nin, kamar ini kamarmu juga. Jadi jangan sungkan ya! Kamar mandinya di sebelah sana!"


Naila hanya menganggukkan kepala. Dia sangat takut dengan kamar Salman yang besarnya dua kali lipat dari kamarnya. Di balkon kamar juga terdapat beberapa tanaman hias dan tanaman gantung. Di dalam kamar juga ada aquarium, karena dari kecil Salman memang suka ikan. Hanya saja di Jogja dia tidak pasang aquarium. Dia takut tidak bisa mengurus ikannya.


Naila meraba bunga- bunga yang bermekaran.


"Kamu suka, Nin?"


"Suka sekali!"


"Nanti di rumah kita yang di Jogja kita bisa pasang tanaman seperti ini."


"Serius?"


"Tentu saja!"


"Terima kasih."


"Kenapa harus berterima kasih? Aku bukan orang asing, aku suamimu!"


"Aku mau menyiram tanaman ini dul!" Naila mengalihkan pembicaraan.


"Alat semprotnya ada di pojokan sana!"


"Oke!"


Naila mulai menyiram tanaman itu. Salman menemaninya duduk di kursi balkon. Samar-samar Salman mengambil gambar Naila dari Phonselnya.


Naila tidak sengaja menginjak air yang tercecer di lantar. Ia-pun tergelincir. Untung saja Salman sigap menarik tangannya. Dan Naila terjatuh ke pangkuan Salman. Keduanya kini sama-sama mematung. Hasrat Salman datang seketika. Ia tidak tahan ingin mengecup bibir istrinya yang terlihat seksi.


Salman mulai mendekatkan wajahnya.


Tok


Tok


Tok


"Ish, gagal!" Batin Salman.


Suara ketukan pintu mengejutkan keduanya. Naila berdiri dari pangkuan Salman. Pipi Naila merah menahan malu.


"I-iya, siapa?" Tanya Salman.


"Bang! Ini sku anterin camilan dari Bunda!" Suara Ayuni dari balik pintu.


"Oh, iya sebentar."


Salman membuka pintu kamarnya.


"Makasih ya, dek!"


"Iya sama-sama."


Salman menutup kembali pintu kamarnya.


Dia melihat Naila mengepel lantai blankon.


"Sini biar aku yang ngepel!" Salman memegang gagang alat pel, namun tangannya tidak sengaja menyentuh tangan Naila.


"Nggak pa-pa, biar aku saja!"


Setelah Naila selesai ngepel, Salman mengajaknya nonton TV di kamar sambil memakan camilan dari Bundanya.


Tidak lama kemudian adzan Maghrib berkumandang. Salman siap-siap untuk shalat berjamaah'ah bersama keluarganya.


"Nin, aku shalat dulu ya?"


"Mau ke Masjid?"


"Shalat di Musholla bawah bareng yang lain."

__ADS_1


"Oh, iya!"


Jarak rumah Salman ke Masjid memang cukup jauh, sekitar 3km.


"Lho, Naila mana, Man? Nggak shalat?"


"Lagi libur!"


"Oh..." Raisya menahan senyum melihat wajah putranya yang masam.


Setelah selesai Shalat, Raisya menegur Salman.


"Man, sini! Bunda mau bicara!"


"Ada apa, Bun?"


"Giman, Naila? Apa dia masih canggung?


" Masih, Bun! Tapi dia tidak menghidariku. Lebih bisa santai daripada sebelum menikah."


"Kamu yang sabar, Bunda yakin sebenarnya dia itu punya perasaan yang sama denganmu. Tapi yang namanya perempuan, memang kadang suka jaim. Kamu yang laki-laki harus bisa lebih inisiatif."


"Iya, Bun! Makasih sudah ngingetin."


"Cie... ada yang nggak dapat jatah nih!" Haris menimpali.


"Ayah, apaan sih? Anak sendiri diledekin!"


"Haha... Ayah kan bercanda, Bun!"


"Salman setelah ini ajak Naila turun untuk makan malam ya?"


"Baik, Bunda."


Salman naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Ternyata Naila sedang berada di kamar mandi. Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Sontak Salman menoleh. Naila celingukan dari balik pintu.


"Ada apa, Nin?"


"Itu, handuknya mana?"


Salman mengambil handuk dari lemarinya.


"Ini handuknya!"


"Boleh minta tolong lagi?"


"Apa?"


"Tolong ambilkan baju ganti si tas yang aku bawa tadi."


"Bukankah kamu baru ganti baju saat mau ke sini?"


"Itu... tembus."


"Oh... iya, baiklah!"


Salman membuka taa yang Naila maksud. Namun pemandangan yang pertama ia lihat adalah segitiga pengaman dan kacamata gunung kembar. Ia hanya bisa menelan salivanya sendiri.


"Pakaian dalam juga, Nin?"


"Hah?" Reflek Naila keluar dari balik pintu kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya.


Salman tercengang melihat keindahan di depannya.


"Ja-jangan lihat!" Naila menutupi pahanya yang terekspose dengan nyata.


Sontak Salman menutup matanya dengan kedua tangannya. Namun dasar otaknya yang tidak sinkron. Dia masih bisa mencuri pandang dari balik jari-jarinya.


"Bi-biar aku ambil sendiri! Kamu berbaliklah! Hadap ke sana, Mas!"


Suara Naila terdengar begitu manja di telinga Salman. Membuat hasratnya muncul kembali.


Cepat-cepat Naila mengambil baju dan pakaian dalamnya lalu kembali ke kamar mandi dan berganti baju di sana.

__ADS_1


Salman hanya bisa menggelengkan kepala, dan menetralkan pikirannya.


"Sabar, Man! Ini ujian! Semua akan indah pada waktunya" Batin Salman.


"Ayo kita makan malam dulu, Bunda dan yang lain pasti sudah menunggu kita!"


"Iya, aku sudah selesai kok! Ayo kita turun!"


Akhirnya Salman dan Naila turun ke bawah untuk makan malam. Di meja makan sudah lengkap orang tua dan adik-adik Salman.


Raisya melayani suaminya seperti biasanya. Naila juga melayani Salman. Dia belum tahu apa yang disukai dan tidak disukai suaminya itu.


"Mau yang mana, Mas?"


"Itu, Capcai sama perkedel saja."


"Segini, cukup?"


"Kasih sambelnya dikit, Sayang."


Raisya dan Haris tersenyum menjelaskan pemandangan di depannya. Salman melirik Ayahnya menyaratkan kemenangan.


"Ya, ya! Ayah tahu, sekarang kamu sudah ada yang melayani. Jadi Bundamu seutuhnya milik Ayah!"


"Duh, jadi pingin punya istri!" Celetuk Raka.


"Eits! Jangan coba-coba kamu ya, Ka! Kuliah yang benar, harus lulus! Jangan nikah dulu!"


"Tapi Bang Salman nikah muda lho, Bun!" Riky menimpali.


"Beda itu! Abangmu meskipun muda tapi sudah selesai dan lulus S1. Kalau dia mau lanjut S2 setelah menikah, itu terserah dia. Abangmu juga sudah cukup mampu membiayai anak orang." Harus menyanggah.


"Sudah... sudah jangan ribut! Ayo makan." Raisya menengahi.


Akhirnya mereka makan dengan hikmat.


Selesai makan malam, mereka melaksanakan shalat Isya' berjama'ah. Kecuali Naila yang saat ini membantu Bi Jum di dapur.


"Sudah, Non Naila! Biar saya dan Siti yang membereskan."


"Nggak pa-pa kok, Bi! Saya bosan diam saja!"


"Non Naila ternyata orangnya cekatan, Ya? Udah canti, Sopan, baik lagi! Cocok banget jadi menantunya Bu Raisya!"


"Bibi berlebihan!"


Tidak lama kemudian Salman ke dapur mencari Naila.


"Sayang, kamu ngapain di sini?"


"Ini, Den! Tadi Non Naila maksa bantuin Bibi. Maaf ya, Den?"


"Nggak pa-pa, Bi! Dia memang nggak bisa diam orangnya! Sayang ayo ke atas! Salwa ingin Vidio Call denganmu!"


"Oh, iya baiklah! Saya tinggal dulu ya bi'?


"Iya, Non! Makasih sudah dibantuin."


"Iya, sama-sama."


Mereka kembali ke kamar. Salman membuka laptopnya. Ia melakukan panggilan vidio memakai aplikasi. Koneksi sudah tersambung. Wajah Salwa mulai terlihat di layar.


"Hai, Assalamu'alaikum." Ucap Salwa. Ia masih mengenakan cadarnya.


"Wa'alaikum Salam." Jawab Salman dan Naila.


"Buka dulu cadarmu, Mbak! Nindi pasti tidak bisa mengenalmu!" Ujar Salman.


Salwa membuka cadarnya.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


See You Again....


__ADS_2