Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Pesona Salman


__ADS_3

Semua orang yang ada di rungan tersebut menoleh ke arah Naila. Naila tersenyum dan menghampiri tamu suaminya. Ia menjabat tangan keduanya.


Ibu tersebut tidak percaya dengan ucapan Salman. Dia masih menyangkalnya.


"Nak Salman ini suka bercanda! Saya tidak percaya lho! Anda ini pasti masih meniti karir. Tidak jarang seorang pemuda sukses seperti anda ini mengaku sudah menikah untuk menghindari pertanyaan orang-orang."


Naila yang masih berdiri di ruangan tersebut diam dan mencerna perkataan tamu suaminya itu.


"Oh iya, ini pasti adik anda ya? Wajahnya mirip!" Ujar Ibu tersebut kembali.


"Itu istri saya, Bu! Dan dia yang berada di balik kesuksesan saya!"


Ibu dan anak tersebut terkejut, dan nampak sekali kekecewaan di wajah keduanya.


"A-apa benar anda istrinya Nak Salman?"


"Iya Bu, saya istrinya." Naila tersenyum kembali.


"Owalah, maafkan saya! Saya kira Nak Salman ini masih bujang! Apa kalian baru menikah?"


"Tidak, Bu! Kami sudah menikah empat tahun yang lalu, dan sudah memiliki tiga anak, ini saya sedang hamil anak ke empat. Sebenarnya ini anak kedua, karena yang pertama itu kembar tiga."


"Masyaallah... beruntung sekali! Rupanya kalian menikah muda? Tapi bukan karena..." Ibu itu menghentikan ucapannya, karena ia mendapat cubitan di tangannya dari sang anak.


"Maaf maksud saya kenapa kalian menikah muda?"


"Sudah jodohnya, Bu! Pada saat itu saya sudah lulus kuliah kok! Dan saya cibta mati sama istri saya ini!Daripada berbuat maksiat, mending pacaran setelah menikah ya, Bu?"


"Jadi kami menikah bukan karena kecelakaan lho, Bu!" Naila menimpali.


"Ah iya, itu benar sekali, Nak Salman! Maaf kami sudah mengganggu waktu anda! Kami permisi dulu!"


 Wajah Ibu tersebut merah menahan kesal dan malu.


"Baik, Bu! Kami tunggu untuk pendaftaran selanjutnya!"


Ibu dan anak tersebut berdiri dan keluar dari ruangan Salman.Naila nampak duduk di sofa dan cemberut.


"Mi... apa ada yang kami inginkan?"


"Pingin makan orang, boleh?" Ujar Naila ketus.


"Waduh jadi sumanti, dong? Makan yang lain aja deh!"


"Orang-orang itu pada aneh ya? Kamu suka tebar pesona ya, By? Sampe mereka ngiranya kamu masih bujang?"


"Ah nggak, biasa aja! Mungkin karena memang ketampananku yang tiada tara ini bikin mereka tertarik." Ujar Salman dengan gaya tengilnya.


"Oh begitu? Seneng digandrungi Ibu-Ibu? Biar dijadiin mantunya gitu?"


"Ya nggak gitu juga, Mi! Memang ada beberapa Ibu-Ibu yang seperti tadi! Tapi aku bilang kok, kalau aku ini sudah Bapak-bapak! Anakku tiga, dan aku punya satu istri yang cantik, baik, dan sholeha! Lalu buat apa aku nambah istri lagi, iya kan?" Ujar Salman, berusaha merayu sang istri agar tidak terbawa emosi.


"Coba nggak ada aku, kamu pasti sudah ngaku-ngaku bujangan!"

__ADS_1


"Nggak pernah, Mi! Dosa nuduh suami kayak gitu! Pingin masuk surga nggak sih?"


"Pingin-lah!" Ujar Naila masih manyun.


"Ya udah ayo kita ke surga dunia dulu!" Salman meraba paha istrinya.


"Ish, apaan sih, By! Ini kantor!"


"Nggak pa-pa, nanti di rumah digangguin sama tripel A, terutama si Arya tuh, rese banget dia!"


"Anak sendiri dibilang rese, nurun Abinya itu!"


Salman menelpon asistennya.


"Indra, kalau ada tamu yang mencari saya, bilang saya sedang istirahat, tidak bisa diganggu. Kalau mau menunggu, tunggu 1 jam lagi!"


"Memang Bos mau kemana?"


"Tidur!"


Setelah mematikan panggilannya, Salman menuntun Naila masuk ke dalam kamar. Ia mulai me*umat bibir Naila dengan lembut. Me*emas dua gunung yang saat ini semakin mengembang. Tentu saja hormon kehamilan Naila bekerja. Hasratnya semakin tinggi. Ia tidak sabar untuk segera di*auli.


"By, jangan main-main! Aku sudah ingin!" Ujar Naila dengan suara paraunya. Ia sangat terpesona dengan cumbuan suaminya. Di matanya, Salman begitu ****.


"hem.. Baiklah!


Keduanya-pun memadu kasih dan menyelami lautan cinta bersama. Sampai akhirnya mereka tertidur.


Beberapa saat kemudian suara handphone Naila berdering. Naila terkejut dan terbangun. Rupanya hari sudah sore. Ternyata Ibunya yang menelpon.


"Wa'alaikum salam, Nai! Kamu masih lama pulangnya?"


"Sebentar lagi, Bu! Kenapa?"


"Ini si Arya nanya terus, nangis juga tadi."


"Mana anaknya, Bu?"


"Hallo, Ummi... kapan puyang (pulang)?"


"Mas, kok nangis sih? Anak laki jangan cengeng, nanti dimarahin Abi lho! Bentar lagi Ummi sama Abi pulang, tapi kita mau mampir dulu ke rumah Oma ya! Kan, Alya dan Ayla main di sana!"


"Iya, Mi! Tapi nanti bawain snack ya, Mi? Aku mau bundel (bunder) yang lasa (rasa) Keju itu lho, Mi!"


"Oke, Sayang! Sudah dulu ya? Assalamu'alaikum."


Setelah Arya menjawab salamnya Naila mematikan panggilan dan segera membangunkan Salman. Keduanya segera pulang dan menuju rumah Bundanya.


Sampai di sana, Salman dn Naila segera naik ke kamar.


"Bunda, kami shalat dulu! Tadi belum shalat di kantor!" Pamit Naila.


"Iya, sana! Alya dan Ayla masih di kamar Ayuni!"

__ADS_1


Untuk mempersingkat waktu, Naila dan Salma mandi bersama. Setelah itu, mereka shalat berjama'ah. Selesai Shalat mereka turun ke bawah mencari keberadaan Alya dan Ayla.


"Alya dan Ayla masih pakai bedak di kamar Ayuni, bentar lagi turun!" Ujar Raisya.


"Man, sore-sore gini keramas, AC mu mati?" Ujar Haris menggoda putranya.


"AC nggak ada yang mati, Yah! Si Joni kudu dimatiin."


Naila menunduk malu mendengar obrolan keduanya.


"Di kantor pun jadi! Dasar turunan Haris!" Batin Raisya.


"Bunda, kapan Mbak Salwa akan pulang?"


Raisya mengedikkan bahunya dan melirik suaminya.


Salman paham dengan maksud Bundanya.


"Ayah, jangan paksa Mbak Salwa untuk menerima perjodohan itu! Nanti Mbak Salwa nggak pulang-pulang!"


"Bukan tanpa alasan Ayah menerima perjodohan ini, Man! Suatu saat kalian akan mengerti!"


"Tapi tidak baik memaksakan perasaan orang, Yah! Bunda pernah merasakan itu! Iya kan, Bun?"


"Iya, dan berakhir kecewa! Tapi tidak semua perjodohan berakhir kecewa! Kita pasrahkan saja kepada Allah!"


"Salwa itu penurut, dia pasti akan mendengarkan kata-kataku! Mungkin sekarang dia masih berpikir!"


"Ya, ya, terserah Ayah saja! Pokoknya kalau terjadi sesuatu dengan Mbak Salwa, aku adalah orang pertama yang akan nembelanya!"


"Ummi... Abii... ayo puyang (pulang)!" Suara kya dan Ayla menghentikan perdebatan mereka.


Akhirnya Naila, Salman, dan kedua anaknya berpamitan pulang.


Sebelum keluar dari area perumahan, mereka berbelanja jajanan dan snack yang dipesan Arya di super market.


"Cantik sekali adik-adiknya, Mas! Kembar ya?" Ujar kasir super market saat Salman mau membayar belanjaan. Rupanya kasir ini baru bekerja dan tidak mengenali Salman selaku anak dari pemilik super market.


"By, bayarin ini juga!" Naila menyusul dengan satu keranjang belanjaan.


"Mbak ini pasti saudaranya Mas ini ya? Mirip soalnya!"


"Ini suami saya Mbak! Dan dua bocil ini anak kami! Mbak baru ya di sini?"


"Oh suaminya? Maaf Mbak! Iya saya baru di sini." Ujar kasir tersebut, panik.


Kasir pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuk yang belum baca novel "Ketegaran Hati Raisya" segera cus ya kak

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya kak


See you again


__ADS_2