Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Bersyukur


__ADS_3

Saat masuk ke dalam mobil, Naila tidak mau duduk di depan bersama suaminya, ia lebih memilih duduk di kursi tengah bersama kedua anaknya.


Dalam baru paham, rupanya istrinya saat ini sedang ngambek lagi.


"Perasaan seharian ini, banyak sekali cobaanku. Ternyata jadi orang tampan tidak enak juga." Batin Salman.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah. Arya menyambut kedatangan orang tua dan saudaranya.


"Mas, ini snack kamu!" Ujar Ayla dan Alya. Meski Arya adiknya, Alya lebih nyaman memanggilnya Mas.


"Bu, aku capek! Titip anak-anak ya?"


"Iya, Nai!"


Naila berlalu pergi ke kamarnya. Melihat raut wajah sang menantu yang terlihat murung, Ajeng mencoba bertanya.


"Nak Salman, maaf bukannya Ibu mau ikut campur, tapi Ibu swbagai orang tua hanya ingin menengahi. Apa kalian ada masalah?"


"Eh Ibu, tidak ada! Maklum, Ibu hamil lagi badmood, hehe..."


"Hem iya, keliatannya memang begitu! Tapi Naila itu gampang dibujuk kok, iya toh?"


"Iya benar, Bu! Tapi untuk saat ini biarkan saja dia sendiri! Mungkin dia juga capek seharian ikut saya, Bu."


"Iya, Nak!"


Salman memilih bermain dengan ikan-ikannya yang berada di aquarium.


Sedangkan di kamar, Naila kesal sendiri. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Salman. Hanya saja ia terbawa perasaan sendiri.


Terdengar suara adzan Maghrib, Naila masuk ke kamar mandi dan berwudhu'. Tidak lama kemudian, Salman pun masuk ke kamarnya. Ia melihat istrinya sudah mengenakan mukenah dan turun ke musholla.


Salman segera mengganti sarung dan berwudhu'. Ia menyusul Naila ke bawah. Mereka shalat berjama'ah bersama seperti biasanya. Naila mengajarkan Alya dan Ayla mengaji. Sedangkan Salman mengajarkan Dhani dan Arya.


"Meski marahan, tapi kalian masih menjalankan tugas sebagai orang tua, semoga istiqomah dalam kebaikan." batin AJeng.


Selesai mengaji mereka menunggu waktu isyak dan kembali shalat berjama'ah. Seperti biasa, Naila mencium punggung tangan suaminya, begitu pula anak-anaknya.


Mereka pun lanjut makan bersama. Meski masih kesa, Naila tetap melayani suaminya. Hanya saja ia lebih irit bicara.


Setelah menidurkan ketiga anaknya, kini waktunya tidur. Naila langsung berbaring di tempat tidurnya setelah berwudhu'. Namun Salman masih betah duduk di balkon kamarnya sambil main game dari Handphone-nya.


Naila mengintip suaminya, namun ia masih gengsi untuk menegur terlebih dahulu. Akhirnya ia mencoba untuk pejamkan mata.


Namun ternya tidak bisa terlelap juga. Ia pura-pura batuk untuk mengambil perhatian Salman. Namun Salman masih tidak bergeming di tempatnya.


"Dasar nggak peka! Istri ngambek malah dicuekin!" Lirih Naila.


Naila bangun dan menghentakkan kakinya. Karna terlalu kencang, akhirnya ia keseleo.


"Au!" Pekik Naila.


Sontak Salman terkejut dan melihat ke sumber suara. Ia segera menghampiri Naila.


"Mi, kamu kenapa?"


"Sakiit!" Naila memegang telapak kakinya.


Tanpa banyak bicara, Salman menggendong Naila dan meletakkannya di tempat tidur.


"Tunggu, aku ambilkan sales dulu!"


Salman mengambil salep di kotak P3K yang terletak di laci lemari depan kamarnya.


"Kok bisa gini sih, Mi?" Tanya Salman sambil mengoleskan salep.

__ADS_1


"Ya bisa!" Jawabnya ketus.


"Kok gitu jawabnya? Kamu kayak orang PMS, Mi! Apa jangan-jangan ini bawaan bayi kita? Wah gawat ini, dari dalam perut aja udah berani sama Abinya!"


Naila tersindir dengan perkataan Salman. Ia baru sadar, apa yang terjadi kepada dirinya itu sebenarnya hanya karena perasaannya sendiri. Kini matanya mulai berkaca-kaca."


"Abii... hiks..."


"Lha, kok nangis? Aku salah ngomong ya, Mi?"


Naila menggelengkan kepala.


"Kok kamu nangis? Apa aku udah bentak kamu, Mi?"


Naila kembali menggelengkan kepala.


"Aku yang salah, By! Anak kita juga nggak salah! Maaf, By!"


Naila memeluk perut suaminya, karena posisi Salman sedang berdiri.


"Ssstt... sudah, sudah, jangan nangis kasian si entuk nanti sedih juga!"


"Memangnya kamu kenapa sih, Mi? Kalau ada yang tidak enak di hati, katakan saja! Bukankah kita sudah berjanji untuk saling terbuka?"


Salman menghapus air mata Naila.


"Kamu nggak akan nikah lagi kan, By?


Salman menggeleng.


"Nggak akan menduakan aku, kan?"


Salman kembali menggeleng.


"Nggak akan tergoda dengan wanita lain, kan?"


"By, lagi serius kok jadi narsis!"


"Habisnya kamu bikin gemes!" Salman mencubit kedua pipi Naila.


"Sakit, By! Dicium saja!"


"Uluh-uluh jadi manja!"


Salman pun mencium kedua pipi Naila bahkan mengecup dahi dan bibirnya.


"Sudah punya yang manis kayak gini, ngapain cari yang lain lagi? Rasanya juga pasti sama!"


"Maafkan aku ya, By?"


"Hem, aku maafkan! Tapi dengan satu syarat!"


"Apa?"


Salman berbisik di telinga Naila. Membuat pipi Naila bersemu merah bak kepiting rebus.


"Gimana, setuju?"


Naila mengangguk setuju.


Sesuai dengan syarat suaminya, Naila pun melakukannya. Mereka main kuda-kudaan, dengan posisi Naila berada di atas. Ia menikmati perannya sebagai joki kuda. Salman mengerang nikmat saat dirinya sampai di puncak terlebih dahulu.


"Sudah ya, By! Jangan nambah lagi! Takut nanti anak kita yang di perut kenapa-kenapa!"


"Iya, Mi! Terima kasih untuk malam ini!"

__ADS_1


Salman mengecup kening istrinya. Setelah membersihkan diri, keduanya tidur dengan nyenyak.


Keesokan Harinya.


Salman mengajak Naila untuk ikut ke kantor pusat. Namun Naila menolaknya. Hari ini Naila ingin dibutuhkan saja.


"Beneran nggak mau ikut, Mi?"


"Nggak deh, By!"


"Tapi jangan marah nggak jelas lagi ya?"


"Iya, aku percaya kok sama kamu!"


"Ya sudah, aku berangkat dulu!"


Ketiga anak Salman mencium punggung tangan Abinya. Begitu pula dengan Naila.


"Da..dah..., Abiii!" Ujar ketiga anak Salman sambil melambaikan tangan.


Mereka mengantar Abinya sampai depan. Salman membalas lambaian tangan mereka.


"Memiliki kalian adalah sebuah anugerah yang besar dalam hidupku, lalu bagaimana aku bisa menyakiti hati kalian? Banyak wanita yang mengejarku sebelum aku menjadi seperti sekarang, namun aku mengabaikan mereka. Apa lagi sekarang, untuk apa aku merespon mereka? Hanya lelaki yang tidak tahu diuntung dan kurang bersyukur yang tega menyakiti hati keluarganya. Aku sudah belajar kesetiaan dari Ayahku. Semoga Engkau selalu menetapkan hatiku, Ya Rabb." Batin Salman.


Salman melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menyetel musik sholawat yang sedang viral saat ini.


Thoohirul qolbi


Naqiyyu dzaakirun lillah


Al musthofas shofi


Sholah a'laihillah


Akhlaaquhu washifaatuhu


Subhaana man Sawwah


Huwa qudrotii ya habiibii


Wada'watun najaah


Ya Rosuulallah


Ya habiballah


Faktub lanaa naqoohu


Nad-uu'ka ya Robbah


Maula ya shalli Wasaallim


Daaiman a'badan


A'la habibika khayri


Halqi kulihimi 2X


Salman ikut melantunkan sholawat yang ia dengarkan. Dan tidak tersa ia pun sampai di kantornya.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Trima kasih selalu hadir dan memberi support untuk saya kakak

__ADS_1


See you again...


__ADS_2