Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Belah duren


__ADS_3

Sore harinya, Naila dan Salman benar-benar pamit untuk menginap di rumah Ayah dan Bundanya.


"Kami berangkat dulu ya, Ma, Yah!"


"Iya, hati-hati." Ujar Faisal.


"Salam sama mertuamu ya, terima kasih kadonya."


"Iya, Ma!"


"Ayah, jangan lupa minum obat yang aku kasih! Dijamin kuat!" Bisik Salman di telinga Faisal.


"Ehm... bisik-bisik apa kamu, By?"


"Ah, nggak ada! Aku cuma bilang ke Ayah semangat untuk nanti malam."


"Hubby...."


"Udah ayo cepat kita berangkat, Bunda udah nungguin! Kangen sama nenantunya katanya!"


Salman segera menggandeng tangan istrinya untuk segera masuk ke mobil.


Sampai di rumah Orang tua Salman, Naila tidak menemukan mertua atau adik iparnya. Yang ada hanya dua asisten rumah tangga mereka.


"Lho, By! Kemana semua? Kok nggak ada orang?"


"Nggak tahu! Jalan-jalan paling!" Salman mengedikkan bahunya.


 "Ditelpon dulu, By! Tanya Bunda kemana, gitu!"


"Sayang, ayo masuk dulu ke kamar! Kamu pasti capek!"


Naila memang merasa sangat lelah hari ini. Ia pun pergi ke kamar suaminya. Ia berbaring di atas tempat tidur, sementara Salman sedang asyik berdialog dengan ikan-ikan kesayangannya di akuarium.


Sampai waktu maghrib tiba, mereka belum datang. Naila dan Salman sudah melaksanakan shalat berjama'ah.


"Sayang, kalau misalnya kamu punya adik gimana?"


"Hem.. ya nggak pa-pa! Lucu juga ya, By! Sudah setua ini akan punya adik."


"Haha... bisa saingan nanti, punya adik dan punya anak!"


"Nggak bisa bayangin aku!"


Tin


Tin


Suara klakson mobil berbunyi. Sepertinya yang ditunggu sudah datang.


"Itu mereka sudah datang, By!"


Salman dan Naila menghampiri dan menunggu mereka si ruang tamu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."

__ADS_1


Nampak Ayah, Bunda, Ayuni dan si kembar Raka dan Riky masuk ke dalam rumah. Disusul sosok wanita bercadar yang berdiri di belakang Riky. Naila belum ngeh melihatnya.


Salman menghampiri wanita tersebut dan memeluknya. Sontak Naila terkejut melihat suaminya memeluk wanita lain di hadapannya. Terlebih semua orang tidak ada yang protes.


"Hai adik ipar apa kabarmu? Kenapa kamu tidak memelukku?"


Naila tersentak dengan suara itu. Ia baru sadar kalau wanita bercadar itu adalah Salwa.


"Mbak Salwa?"


"Iya, kamu pikir siapa?"


Salwa merentangkan tangannya, bersiap memeluk Naila. Kini keduanya berpelukan.


"Jadi ceritanya ini kejutan gitu ya?"


"Iya, kami sengaja nggak ngasih tahu kamu kalau Salwa akan pulang." Ujar Raisya.


"Senang banget bisa ketemu kamu lagi! Ternyata kamu lebih cantik! Ini pipi tambah tembem! Dimanjain ya sama suamimu?"


"Iya dong, Mbak!" Salman menyahuti.


Akhirnya mereka makan malam bersama. Rumah menjadi semakin ramai. Anak-anak Raisya dan Haris lengkap saat ini. Salwa pulang dalam rangka liburan semester. Sudah satu tahun dia tidak pulang. Ia sangat merindukan keluarganya.


Di rumah Faisal.


Faisal dan Putri sedabg makan malam. Keduanya masih nampak canggung. Putri berusaha melayani suaminya, mskipun ia masih nampak malu-malu. Rupanya jiwa bar-barunya sudah terkikis usia.


Selesai makan bersama, Faisal mengajak Putri nonton TV di ruang tengah.


"Sepi ya, Mas?"


"Memang kamu nggak kesepian, Mas?"


"Pastinya iya, tapi aku biasanya minta Kasim dan Ijah untuk barengin nonton TV. Atau main catur sama Kasim. Setiap hari Naila pasti menelponku. Dia selalu memastikan keadaanku."


"Naila sepertinya memang lebih perhatian daripada Freya, bukan begitu, Mas?"


"Betul sekali! Anak itu yang selalu menemaniku! Freya memang lebih dekat dengan Kakek dan Neneknya! Apa kamu sudah menghubungi Rio?"


"Sudah, Mas! Rio sudah makan tadi pesan gofood."


"Semoga Rio berubah pikiran dan mau tinggal dengan kita."


"Iya, Mas! Mungkin dia masih sayang dengan sekolahnya. Kalau berangkat dari sini kan, jauh!"


"Iya nggak pa-pa, nanti sekali-sekali kita yang nginap di sana. Kasian dia!"


"Iya, Mas."


Sesekali Faisal mlihat Putri menguap.


"Apa kamu sudah mengantuk?'


"Ah, iya lumayan!"


"Kalau sudah mengantuk, tidur saja!"

__ADS_1


"Ka-kamu gimana, Mas?"


"Em... aku mau ngecek dulu keadaan pabrik hari ini dari Handphone, kamu balik ke kamar dulu nggak pa-pa."


"Ya sudah, aku ke kamar dulu kalau begitu."


Putri beranjak pergi masuk ke kamar. Kamar Faisal dihias seperti layaknya kamar pengantin. Alfano dan Freya yang punya ide untuk itu.


Wangi bunga sedap malam memenuhi kamar itu. Putri mengganti pakaiannya dengan baju tidur model kimono. Ia juga melepas jilbab instan yang biasa ia pakai di rumah.


"Duh, kok jadi deg-deg-an gini ya? Tidur aja deh! Mas Faisal sepertinya sibuk!" Gumam Putri.


Akhirnya ia berbaring di atas ranjang yang dipenuhi taburan kelopak bunga mawar. Rasa ngantuknya sudah tidak tertahan lagi. Ia terlelap dalam tidurnya.


Satu jam berlalu, Faisal pun masuk ke kamar. Sebenarnya tadi dia hanya beralasan kepada Putri. Dia hanya masih ragu untuk memulai malam ini. Namun menantunya itu sudah mengirim pesan kepadanya. Setelah membaca pesan dari Salman, ia pun sadar dan masuk ke dalam kamarnya.


Faisal melihat Putri sudah tertidur nyenyak. Bahkan Kimononya tersingkap memperlihatkan pahanya yang putih mulus. Putri memang berperawakan tinggi putih dan berwajah oriental. Tak heran jika kadang orang-orang mengiranya orang Cina.


Faisal memperhatikan wajah Putri yang sedang tidur. Baru kali ini ia melihat Putri tanpa penutup kepala. Beberapa saat kemudian Putri terlentang. Kini bagian atasnya yang menonjol nampak mengintip di balik kimono. Belahan gunung kembar itu terpampang nyata di hadapan Faisal. Senjatanya yang lama tidak terasah mulai bangun. Nalurinya sebagai kaki-laki kini bangkit setelah sekian lama mati. Apalagi 30 menit yang lalu ia sudah meminum obat yang diberikan menantunya.


"Dek..." Faisal mencoba membangunkan Putri.


"Dek.." Sekali lagi ia membangunkan Putri dengan mengelus pipinya.


Putri pun terbangun dan mengerjapkan matanya.


"Ya, Mas? Apa kamu butuh sesuatu?" Putri bangkit dan duduk.


"Maaf sudah mengganngu tidurmu!"


"Nggak pa-pa! Ada yang bisa aku bantu, Mas?"


Faisal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia baru sadar, istrinya itu dua kali lipat lebih cantik saat bangun tidur dan tanpa jilabnya.


"Kok bengong, Mas? Ada apa?"


"Itu... e..."


"Itu apa?"


"Pingin belah duren!" Jawab Faisal absurd.


deg....


Pitri mendadak panas dingin. Dia lupa bahwa malam ini adalah malam pertama mereka.


"Aku sudah halal untukmu, Mas! Aku serahkan jiwa dan ragaku kepadamu. Aku ridha lillahita'ala, Mas."


Mendengar pernyataan Putri, Faisal merasa lega. Ia pun mulai membaca do'a dan melepas pakaian istrinya. Keduanya sama-sama haus akan kasih sayang dan belaian kini mulai berkelana dalam penyatuan. Meski usia Faisal tidak muda lagi, namun kekuatannya masih bisa diperhitungkan. Dan benar saja efek dari obat yang diberikan Salman juga sangat berpengaruh. Bahkan Putri sampai meminta ampun karena Faisal menghujamnya berkali-kali.


Bersambung


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf author tidak busa menjelaskan secara detail MP nya Faisal dan Putri, karena ini layaknya Salman dan Naila ya Kak😁


Jadi spilnya dikit-dikit saja

__ADS_1


Terima kasih sudah mendukung karyaku


See you again...


__ADS_2