
Naila sudah dijemput Salman. Ia segera turun dari motor Farah.Kebetulan hati ini Farah naik motor, karena mobilnya sedang diservis.
"Makasih ya, Far! Aku pulang dulu!"
"Iya sama-sama!"
Naila naik ke mobil suaminya. Mereka langsung menuju stasiun untuk menjemput Ayah Ical.
"Ayah tadi nelpon kamu, By?"
"Iya, makanya kita jemput!"
"Kok tumben? Biasanya dulu-dulu Ayah nggak mau dijemput."
"Ya nggak tahu, Sayang! Mungkin Ayah punya kejutan buat kamu!"
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di stasiun. Ayah Ical sudahbmenunggu di depan. Dan benar saja, rupanya ia sedang bersama seorang perempuan yang Naila tidak kenal.
"Ayah, sudah lama nunggunya?" Naila mencium punggung tangan Ayahnya. Lalu melirik ke arah wanita di samping sang Ayah.
"Ayah, Tante, apa kabar?" Salman menyapa keduanya dan mencium punggung tang mereka.
Naila sedikit bingung, sepertinya suaminya mengenali wanita itu.
"Baik, Salman!" Jawab wanita tersebut.
"Ayah, kok bengong sih? Dikenalin dulu dong!" Tegur Salman kepada Faisal.
"Naila, perkenalkan ini Putri!"
"Hai Tante Putri." Naila pun mencium punggung tangan Putri.
Putri tidak menyangka jika Naila akan menyambutnya dengan hangat.
Naila masih mengira-ngira, siapakah sebenarnya Tante Putri. Kenapa suaminya sepertinya sangat mengenalnya.
"Ayo, Yah! Sini aku bawakan bawaannya." Ujar Salman.
Mereka berempat menuju parkiran. Naila dan Salman berjalan di belakang Ayah Ical dan Tante Putri. Naila menyenggol lengan suaminya dengan sikunya. Salman yang sadar dengan kode istrinya menunduk.
"Apa, sayang?"
"Siapa?" Bisiknya, melirik ke arah Tante Putri.
"Nanti tanya sendiri, sama Ayah."
Mereka masuk ke mobil. Ayah Ical duduk di depan samping kemudi. Naila dan Tante Putri duduk di jok tengah.
"Kamu semester berpa, Naila?" Tante Putri memulai percakapan.
"Semester 5, Tante."
"Oh sudah tinggal 3 semester lagi ya?"
"Insyaallah, do'ain lancar, Tante."
__ADS_1
"Salman, istrimu jangan diajak bergadang terus! Dia masih kuliah! Kasian kalau kecapean."
"Tante, aku ini suami pengertian! Mana mungkin aku nyiksa istriku!"
Dari gelagat mereka, Naila bisa mengambil kesimpulan kalau suaminya itu sudah kenal sekat dengan Tante Putri.
"Maaf, Tante! Kalau boleh tahu, Tante sepertinya sangat akrab dengan Mas Salman?"
"Tentu akrab, Nai! Salman ini anaknya sahabatku! Jadi aku dan Raisya itu sahabatan gitu, nduk!"
"Owalah... pantas saja kalian sangat akrab."
"Nah kita sudah sampai." Ujan Salman.
Mereka turun dari mobil. Salman membawa barang-barang yang dibawa Ayah Ical masuk ke dalam rumah.
"Maaf, Yah! Rumahnya kecil! Masih nabung untuk bangun yang besar."
"Kecil nggak pa-pa, Nak! Yang penting nyaman. Naila pasti senang tinggal di sini."
"Salman itu cuma merendah, Mas! Dia pasti sudah nyiapin sesuatu untuk masa depannya dan Naila!"
Naila belum berani bertanya kepada sang Ayah, dalam rangka apa Ayahnya dan Tante Putri datang ke Jogja.
"Tante, istirahatlah di kamar itu! Nanti malam biar Ayah tidur di rumah sebelah bersama Edo. Sekarang Ayah boleh pakai kamar kita dulu." Ujar Salman.
Malam harinya, mereka berempat keluar untuk makan malam. Kali ini Salman memilih makan di cafe angkringan lesehan di sekitar Malioboro. Itu atas permintaan mertuanya. Salman sendiri yang membawa mobil. Mereka keluar dengan pakaian santai. Tante Putri dengan Dress dan hijab instan yang simple, Naila dengan setelan kulot polos dan jilbab segi empat. Para lelaki dengan kaos oblong dan celana kain.
Mereka pun memesan nasi kucing dan es teh untuk hidangan malam ini. Ada juga beberapa gorengan, seperti sosis Solo dan lumpia basah.
"Naila, Ayah mau ngomong sesuatu."
Melihat wajah serius Ayahnya, Naila menghentikan kunyahannya.
"Ada yang serius, Yah? Katakanlah! Aku ajan mendengarkan dengan baik." Ujar Naila.
"Ayah pernah bilang sama kamu, kalau Ayah akan menikah setelah kamu dan Freya menikah. Jadi Ayah ingin memenuhi janji kepada kalian."
"Serius, Yah?"
"Iya, serius! Dan orang yang akan menjadi calon Ibumu saat ini sudah ada di sampingmu."
Naila menoleh ke samping. Tentu saja Tante Putri yang berada di sampingnya.
"Tante Putri?"
Putri yang masih belum berani menatap wajah Naila, hanya bisa menundukkan kepala. Ia takut Naila tidak bisa menerimanya.
"Iya, Nai! Jawab sang Ayah yakin.
Sontak Naila memeluk tubuh Putri. Putri yang spontanitas mendapat pelukan itu pun terkejut.
"Tante, terima kasih sudah mau menerima Ayahku! Aku yakin Tante adalah wanita yang baik, dan bisa menerima Ayahku apa adanya."
Naila tidak bisa nembendung air matanya. Ia tidak menyangka dengan semua ini.
__ADS_1
"Kenapa kamu seyakin itu, Naila? Kamu baru ketemu Tante hari ini."
"Hatiku yang menilai. Bunda Raisya pasti memiliki sahabat yang baik."
Putri terharu dengan ucapan Naila. Ia tidak menyangka Naila bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Putri menghapus air mata Naila.
"Apa Kak Freya sudah tahu, Yah?"
"Sudah, keluarga kita sudah tahu! Tadi pagi Ayah sudah menemui mereka."
"Alhamdulillah...jadi kapan rencana pernikahannya, Yah?"
"Kami bukan ABG lagi, tentu acaranya akan disegerakan. Ayah sudah meminta tanggal dan hari yang baik, kata pak ustadz hari jum'at ini. Jadi tinggal 4 hari lagi!"
"Jadi kita akan pulang ini, By! Untung jum'aku nggak ada kuliah!"
"Rio gimana, Tante? Apa dia bisa menerima?" Tanya Salman.
"Anak itu seperti kucing, Man! Mas Faisal pintar mengambil hatinya."
Selama perjalanan pulang mereka melanjutkan obrolan di mobil. Ternyata selama sepuluh hari ini, Faisal mencoba mendekati Putri atas usulan besannya. Akhirnya Faisal memutuskan untuk mengajak Putri ta'aruf. Ternyata Putri memang sudah ada hati kepada Faisal setelah sekian lamanya ia tidak bisa membuka hati selain kepada mendiang suaminya. Rio anak satu-satunya menjadi alasan utama Putri untuk tidak menerima kehadiran laki-laki lain, karena dia tidak ingin memiliki suami yang hanya bisa menerima dirinya saja tapi tidak dengan anaknya. Faisal yang juga memiliki dua orang anak perempuan tidak jauh berbeda dengan Putri. Nasib keduanya akhirnya bisa menyatukan mereka.
"Jadi aku akan punya adik laki-laki dong, Yah?"
"Iya, namanya Rio!"
"Rio itu 11-12 denganku gantengnya, karena dulu waktu hamil Rio Tante Putri selalu ngajakin aku tidur di rumahnya, Sayang!" Salman menimpali.
"Duh, keturunan Bang Haris memang Pedenya tingkat dewa! Haha..."
Setelah sampai di rumah, mereka melaksanakan shalat isya'. Sesuai rencana awal, Ayah Ical akan tidur di rumah Edo.
"Bos, kenapa nggak ngalah sih? Bos tidur sana Pak Faisal gitu, Mbak bos tidur sama Bu Putri!" Ujar Edo.
"Aku nggak bisa tidur tanpa istriku, Do! Kamu nggak mau nampung Ayah?"
"Bukan begitu, Bos! Ini kan, juga rumah Bos hehe...." Edo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf, Yah! Nggak pa-pa ya tidur di rumah Edo dulu?" Ujar Salman.
"Nggak pa-pa, Nak! Ayah mana tega misahin kalian berdua, haha...."
"Aku juga sebenarnya nggak tega misahin Ayah sama Tante Putri, tapi kalian belum mahram, hihi...."
"Hubby... kualat lho!"
"Bercanda, Yah!"
Faisal hanya bisa geleng kepala menanggapi kelakuan menantunya.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayah Ical onteway kawin uy.....
__ADS_1
See you again....