
Hari ini Naila dan Salman masih di rumah Ayah dan Bundanya. Naila merasakan pusing kepala saat bangun tidur tadi. Kali ini sakitnya semakin menjadi.
Keluarga Raisya sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Salman masih bermain bersama ikan-ikannya.
"Abang, ayo sarapan dulu! Mbak Raisya mana?" Ujar Ayuni.
"Masih di kamar, sebentar aku panggilkan."
Salman naik ke atas menuju kamarnya.
"Sayang...."
Dilihatnya Naila masih berbaring di tempat tidur.
"Kamu kenapa? Sakit?" Salman meraba kening istrinya.
"Nggak, By! Hanya pusing."
"Bisa bangun? Kita ditunggu untuk sarapan! Setelah sarapan kamu minum obat saja!"
"Bisa kok, sebentar aku pakai jilbab dulu!"
Setelah itu mereka berdua turun ke bawah.
"Pagi semuanya, maaf Bunda tadi nggak bantuin masak!"
"Nggak pa-pa, Nai!"
"Dia pusing, Bun! Mungkin kecapean!" Salman menimpali.
"Ayo makan dulu, terus minum obat!"
"Iya, Bun."
Saat makan satu suapan, Naila merasa mual.
"Huek...huek..."
Tiba-tiba saja Naila mual.
"Ma-maaf!" Naila meninggalkan meja makan dan berlari ke kamar mandi.
Salman pun berlari mengikuti istrinya ke kamar mandi.
"Huek... huek..."
"Sayang, kamu kenapa?" Salman memijat tengkuk Naila.
"Sudah, sudah, By! Sudah enakan!"
"Kamu sakit kayaknya, nanti kita periksa saja!"
"Gimana, Naila? Kamu sakit?"
"Saya hanya pusing dan sedikit mual, Bun!"
"Kamu sudah telat?"
Pertanyaan Raisya membuat Naila tersadar, bahwa seharusnya hati ini ia datang bulan.
"Belum, Bun! Seharusnya hari ini datang bulan!"
"Ya sudah kamu lanjutkan makannya!"
"Boleh saya lanjut makan di kamar saja, Bun?"
"Iya, bawa saja makananmu!"
"Sebentar, biar aku yang bawakan! Kamu ke atas saja!" Ujar Salman.
Raisya tersenyum melihat anak dan nenantunya. Ia kembali ke meja makan.
"Bunda, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Kenapa dengan menantumu?"
"Ayah, sepertinya akan ada pendatang baru di rumah ini!"
"Maksudmu?"
"Sudah, jangan kepo! Ayo lanjut makannya!"
__ADS_1
Di kamar, Naila dan Salman melanjutkan makan. Tapi Naila hanya makan sedikit saja.
"Masakannya nggak enak ya?"
"Enak kok, By! Tapi aku takut mual lagi kalau makan banyak."
"Nanti aku bawa kamu periksa! Tidak ada bantahan!"
"Ya, ya!"
Seperti janjinya, Salman membawa Naila untuk periksa ke dokter umum yang berada di dekat rumah orang tuanya.
"Apa keluhannya, Mbak?"
"Ini dok, kepala saya pusing dan mual-mual sejak dua hari yang lalu. Tapi badan saya nggak panas, Dok."
"Silahkan berbaring!"
Naila berbaring di brankar untuk diperiksa.
"Maaf apa anda sedang telat bulan?"
"Belum, Dok! Hari ini seharusnya datang bulan."
"Tidak ada masalah pada tubuh anda! Coba anda pakai tespack saja! Besok pagi coba ditest ya! Sekarang saya hanya akan kasih anda vitamin! Kalau hasilnya positif, anda bisa lanjutkan ke Bidan atau Dokter kandungan."
"Baik, Dok! Terima kasih!"
"Iya sama-sama, Mbak!"
"Sayang, gimana kata dokter?"
"Nggak pa-pa, hanya kelelahan! Ini dikasih vitamin."
"Syukurlah, kalau begitu."
Naila sengaja tidak berkata jujur kepada suaminya. Ia ingin memberi kejutan memang hasilnya positif.
Sampai di rumah, Ternyata mertuanya sedang keluar bersama Salwa. Mereka pergi ke rumah Nenek dan Kakeknya atau orang tua dari Raisya.
"Sayang, kamu istirahat saja! Jangan sampai pulangnya tambah parah! Jangan lupa obatnya yang dari dokter diminum!"
"Iya, By!"
"By, aku ingin sekali makan sate kambing! Keluar yuk!"
"Kamu kan, lagi nggak enak badan? Aku yang beli kamu tunggu di sini ya?"
"Nggak mau, By! Aku tuch pinginnya makan di tempat sambil menghirup asapnya."
"Aneh-aneh saja kamu tuh! Naik mobil tapi ya? jangn minta naik motor! Nanti masuk angin!"
"Siap, Bos!"
"Pakai jaket!"
"Iya, By!"
"Untung Bunda sama Ayah nginep di rumah Kakek! Kalau nggak bisa kena semprot aku!"
"Ajak Ayuni sekalian, By! Kasian dia sendirian! Raka sama Riky kayaknya keluar malam mingguan."
"Ish, mentang-mentang nggak ada Ayah sama Bunda, mereka keluar juga!"
"Maklum anak muda, By! Yang penting nggak macem-macem."
Salman, Naila, dan Ayuni pun keluar mencari tempat penjual sate kambing yang enak. Setelah sampai di tempat yang dimaksud, mereka memesan sate dan makan langsung di tempat.
Naila yang berniat menghirup aroma asap sate pun terlaksana.
"Enak banget, tambah lagi, By!"
"Nggak deh, udah kenyang!"
"Ya sudah sini satenya aku yang habiskan!"
"Mbak kamu banyak juga makannya!" Ayuni menimpali
"Lagi na*su makan, Dek! Biasanya kalau na*su makan meningkat, aku mau datang bulan."
__ADS_1
selesai makan mereka langsung pulang.
Keesokokan harinya, di pagi buta. Saat bangun untuk shalat Shubuh Naila sengaja tidak membangunkan suaminya terlebih dahulu. Ia ingin menampung air seninya untuk ditest menggunakan tespack yang ia dapat dari dokter kemarin.
Setelah menampung dalam sebuah wadah kecil, ia membuka alat testpack dan mencemplungkan ke dalam air seninya.
"Semoga mendapatkan hasil yang terbaik." Naila merem sebelum melihat hasilnya. Setelah dirasa satu menit berlalu, Naila membuka mata.
"Dua garis!"
Ia segera keluar dari kamar mandi dan berlari ke tempat tidur.
"Hubby... hubby... bangun!"
"Hem... iya! Sudah Shubuh?"
"Iya baru adzan!"
"Hubby, aku punya sesuatu!"
"Pagi-pagi gini sesuatu apa, Sayang? Mau cium aku ya? Atau mau ngasih aku satu ronde?"
"Bukan dua-duanya, By!"
"Terus?"
Naila menunjukkan alat testpack itu. Salman yang tidak tahu menahu soal itu bengong.
"Apaan ini, Sayang?"
"Hubby... ini tuh alat tes kehamilan! lihat ada dua garis merah! Itu artinya aku positif hamil!"
"Apa? Benarkah?"
"Iya, By! Aku hamil." Ujar Naila dengan senyum bahagia.
"Yes! Yes! Alhamdulillah..."
"Kamu yakin, Sayang? Kamu nggak lagi ngigau, kan?"
"Kalau dari hasil ini memang positif, By! Tapo kita pastikan nanti ke Bidan ya?"
"Oh... sayang...! Sini-sini peluk dulu! Insyaallah beneran positif ya! Nanti kita periksa langsung ke Kak Syifa saja! Dia kan, Dokter kandungan."
"Ah, iya! Boleh juga. Ya sudah, ayo shalat dulu!"
Pagi-pagi sekali Salman menelpon Syifa untuk datang ke rumahnya. Hari ini Syifa memang tidak bertugas di rumah sakit, karena hari minggu.
"Dek, kemana semua? Kok sepi?"
"Nginep di rumah Kakek! Kak cepetan periksa istriku!"
"Iya, iya!"
Syifa naik ke atas dan masuk ke kamar Salman. Ia melihat hasil tespack kemudian memeriksa perut Naila.
"Alhamdulillah, ia ini ada! Berasa banget! Kamu positif hamil, Dek! Kalau diperkirakan dari HTM ini sudah jalan 4 minggu."
"Alhamdulillah..."
"Bawa periksa ke rumah sakit kalau ingin USG!"
"Nggak usah dulu deh, Kak! Yang penting udah ketahuan kalau memang ada isinya! Bulan depan baru kita periksa ke rumah sakit."
"Iya nggak pa-pa kalau memang seperti itu! Nanti aku kasih resep vitamin yang bagus untuk penguat kandungan dan untuk mengurangi mualnya."
"Iya kak, terima kasih!"
"Iya sama-sama! Dek jangan lupa ya biayanya ditransfer ke rekeningku yang biasanya!"
"Ish, gratis gitu Kak, sekali-sekali! Buat ponakan sendiri ini!"
"Bercanda, Dek! Haha... ngomong-ngomong selamat ya buat kalian sudah mau jadi orang tua. Semoga sehat sampai lahiran nanti. Buat calon Papanya kurangi tengilnya!"
"Makasih banyak kakakku yang cantik dan baik hati."
Syifa hanya bisa tersenyum menanggapi sepupunya yang tengil.
Bersambung....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
See You Again....