
Keesokan harinya, Naila kedatangan tamu special. Ia tidak sabar menunggu kedatangan tamunya itu.
"Naila, tamunya sudah datang!" Ujar Raisya, menghampiri Naila yang sedang menidurkan salah satu bayinya.
"Ibu yang datang, Bun?"
"Benar sekali! Apa langsung aku suruh masuk ke kamarmu?"
"Boleh, Bun! Terima kasih!"
Raisya mengajak Ajeng untuk masuk ke kamar Naila.
"Ibu...!" Naila berdiri saat melihat Ibunya sudah berada di dalam kamarnya. Ia memeluk Ajeng dengan erat.
"Maafkan, Naila! Maaf sudah membuat Ibu sedih!"
"Nai, Ibu yang salah! Wajar kalau kamu bersikap seperti itu!Ibu tidak pernah bertanya kabarmu! Bahkan Ibu mengabaikan masa pertumbuhanmu dan Freya!Ibu tidak pantas disebut seorang Ibu!"
Raisya mendorong box bayi ke luar agar tidak bising, dan membiarkan Naila melepas rindu dengan Ibunya.
"Aku tidak benci sama Ibu, aku hanya belum bisa menerima kenyataan! Sekarang aku sadar, Seberapa pun besarnya kesalahan Ibu, tetap Ibu yang melahirkan aku ke dunia. Aku sudah merasakan betapa susah dan sakitnya melahirkan, hiks..."
"Sudah, sudah, jangan nangis! Kamu wanita kuat! Ibu sangat bangga kepadamu! "
Ajeng mencium pipi kanan dan pipi kiri Naila.
"Kamu sudah menjadi seorang Ibu, Nai! Ibu sangat terharu!Kalau saja Masmu masih hidup, mungkin dia juga sudah menikah. Kemarin Ibu sudah bertemu dengan Kakakmu! Alhamdulillah Freya juga sudah memaafkan Ibu. Ibu tidak menyangka akan memiliki banyak cucu secepat ini."
"Iya, Bu syukurlah kalau begitu! Ibu ke sini sama siapa?"
"Sama Dhani, sudah saya izinkan 2 hari ke sekolahnya. Tidak ada yang bisa Ibu titipkan, lagian Dhani tidak mungkin mau ditinggal dengan orang lain."
"Kemana Dhani, Bu?"
"Tadi dibawa suamimu, mungkin ke super market."
Akhirnya Naila dan Ajeng keluar dari kamar dan melihat triple A.
"Mbak Ajeng, diminum dulu! Pasti haus, kan?"
"Terima kasih, Mbak Raisya."
Ajeng menyeduh minuman yang sudah dihidangkan besarnya itu.
Kebahagiaan Naila semakin lengkap setelah kedatangan sang Ibu. Ia merasa lega, karena bebannya sudah berkurang.
"Ibu, sekarang kerja di mana?"
"Ibu kerja di Toko bunga milik suamimu."
"Yang benar, Bu?"
"Iya, apa suamimu tidak cerita?"
"Tidak!"
"Ibu yang meminta pekerjaan, sebenarnya suamimu ingin ngasih Ibu setiap bulan, tapi Ibu nggak mau kalau dikasih gratisan. Mending Ibu kerja saja, lagian Ibu hanya bagian terima pesanan saja kok! Nggak berat kerjanya! Suamimu baik banget!"
"Hemm... iya, dia super baik!"
"Jangan ngomong di depan orangnya! Bisa besar kepala dia! Orangnya super narsis, mirip Bapaknya, haha..." Ujar Raisya menimpali.
__ADS_1
Dhani pun datang bersama Salman. Mereka membawa belanjaan yang cukup banyak dari super market.
"Dhani, salim dulu sama Bude dan Mbak Naila!" Perintah Ajeng.
Dhani menuruti ucapan Ibunya. Naila mengusap kepala Adik dirinya itu.
"Habis beli apa, Dhan?"
"Beli mainan, snack, sama es krim, Bu!"
"Kok banyak banget?Bisa-bisa Kak Salman bangkrut nanti!"
"Ah nggak juga, Bu! Itu rejekinya Dhani!"
"Sayang, aku lapar!"
"Ah iya ayo makan dulu! Ibu dan Dhani juga ya?"
Akhirnya mereka makan siang bersama.
Malam harinya, kedua besan itu masih saling berbagi cerita di ruang tamu. Dhani tidur di rumah Edo. Salman sudah menyediakan PS di sana.
-
Di dalam kamar Naila dan Salman
"Hubby, terima kasih atas semuanya." Naila mengecup kedua pipi suaminya, kemudian dahinya.
"Sayang, jangan mancing-mancing, kamu masih nifas! Jangan sampai si Joni bangun!"
"Ish, siapa yang mancing? Aku hanya berterima kasih karena suamiku ini sungguh luar biasa di mataku. m"
"Oh ya? Luar biasa bagaimana?"
"Ada satu rahasia lagi, tapi itu akan menjadi surprise!"
"Hubby... apa?"
"Kalau aku bilang bukan surprise namanya! Sudah jangan kebanyakan terima kasih, cukup balas aku dengan Kesetiaan."
"Semoga kamu tetap seperti ini sampai kita tua nanti, By!" Batin Naila.
Naila tersenyum dan memeluk erat suaminya.
-
Di ruang tamu
"Mbak Raisya, aku baru ingat lho!" Ujar Ajeng.
"Ingat apa, Mbak?"
"Mbak ini kan, dulu hampir dipinang sama Mas Faisal, iya kan? Bener kan, Mbak? Apa hanya kebetulan namanya sama ya?"
Raisya hanya tersenyum menanggapi.
"Owalah, iya bener ini! Mas Faisal dulu itu cinta banget sama Mbak Raisya! Tapi bukan jodoh ya, jodohnya sama aku! Tapi malah aku yang berulah!" Ajeng tersenyum kecut mengingat masa lalunya.
"Mbak tahu soal saya?"
"Lha iya tahu! Dulu waktu Ibu meminangku, Ibu cerita. Pantas Mas Faisal tidak bisa melupakan Mbk! Mbak ini orangnya baik sekali! Jalan hidup itu nggak bisa ditebak ya, mbak? Malah sekarang kalian besanan."
__ADS_1
"Oek... Oek..."
Terdengar suara tangis bayi. Triple A menangis sahut-sahutan. Naila dan Salman kewalahan memberi dot pada mereka. Ajeng dan Raisya mengetuk pintu mereka.
"Sini biar Ibu yang gendong satu!"
Naila memberikan Arya kepada Ibunya.
Naila nampak sekali kurang tidur, matanya seperti mata panda, badannya kurus karena memberikan ASI yang ekstra kepada ketiga bayinya.
"Sayang kamu istirahat saja dulu! Ada Bunda dan Ibu, nanti gantian."
"Iya, By!"
Kedatangan Ajeng tentu sangat membantu Naila dan Salman.
Ajeng hanya bisa menginap dua hari di Jogja karena Dhani harus masuk sekolah. Naila bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa bertemu lagi dengan Ibunya meski mereka tidak bisa berkumpul lagi.
Ajeng bersyukur masih bisa diberi kesempatan berkumpul dengan anaknya. Ia sadar, tidak mungkin menjadi benalu dalam rumah tangga Faisal. Kali ini ia harus bisa fokus membesarkan Dhani.
Dua hari berlalu, pagi ini Ajeng dan Dhani berpamitan untuk kembali ke Jawa Timur.
"Mbak Raisa, saya titip Naila dan triple A!"
"Iya, Mbak Ajeng! Mbak tenang saja, Naila sudah aku anggap seperti putriku sendiri, bukan menantu!"
"Aku sangat percaya itu, Mbak!"
Ajeng mencium pipi ketiga cucunya.
"Yang anteng ya nduk, leh! Kapan-kapan Mbah Uti akan nengokin kalian lagi." Ucap Ajeng kepada ketiga cucunya yang belum mengerti apa-apa.
Salman dan Edo mengantarkan Ajeng dan Dhani ke Bandara.
Setelah kepergian Ibunya, Naila dan Raisya kini sedang ngobrol di dalam kamar.
"Naila, apa kamu akan bekerja setelah lulus nanti?"
"Sepertinya tidak, Bun! Aku akan fokus saja dengan triple A! Kalau pun bekerja, mungkin cukup membantu pekerjaan Mas Salman saja."
"Iya, mungkin lebih baik begitu! Tapi itu terserah kamu dan Salman. Dulu Bunda juga memutuskan untuk berhenti menjadi abdi negara saat tahu Bunda hamil yang ke dua. Bunda tidak ingin melewatkan masa pertumbuhan anak-anak."
"Jadi dulu Bunda itu pegawai negeri?"
"Iya, jadi Bunda pensiun dini."
"Tapi Bunda nggak nyesel, kan?"
"Tidak, itu sudah keputusan yang matang, dn sudah dibicarakan dengan semua keluarga. Bahkan Bunda sudah melakukan istikharah."
Sekarang Naila semakin yakin untuk tidak bekerja. Namun dia akan mengikuti langkah mertuanya dengan beristikharah terlebih dahulu.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf kalau ceritanya kurang seru, author lagi kehabisan ide dan semangat kak.
Semangatin author dong!
Makasih sudah mampir kak
__ADS_1
See you again...