
"Zahraaaaaa... bangun sayang" ucap bu Erni sambil memangku tubuh Zahra yang kini mereka sudah berada di dalam mobil Andi
"puas kamu kan, jika anak saya sampai kenapa napa, saya akan buat hidup kamu menderita" ucap bu Erni sambil menunjuk nunjuk Andi.
Andi tak bergeming, hati nya pun begitu hancur. karna melihat kondisi Zahra.
"ini semua karna gue, kalau saja aku tak memukul nya tadi pasti ini tak akan terjadi" batin Andi.
Tanpa di sadari kini Andi sudah meneteskan air mata nya.
Perjalanan yang cukup sepi , dia karna kan ini ada lah hari pertama bagi pegawai bekerja setelah akhir pekan. di tambah saat itu hampir tengah hari.
Setelah sampai di RS. Zahra di bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan.
Dokter segera memeriksa ke adaan Zahra. sedangkan bu Erni dan Andi menunggu Zahra di ruang tunggu.
Keheningan di antara mereka pecah saat pintu ruangan terbuka.
Bu Erni langsung menghampiri dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"Dok.. bagai mana ke adaan anak saya" tanya bu Erni
"mari ikut saya buk" ajak Dokter itu untuk masuk ke dalam ruangan di mana Zahra di periksa .
Mereka pun mengikuti dokter tersebut.
__ADS_1
Bu Erni yang melihat Zahra terbaring lemah dan tak sadar kan diri mengundang air mata nya untuk keluar.
"Silahkan duduk buk , pak.." ucap dokter mempersilahkan .
"jadi setelah kita melakukan pemeriksaan, karna benturan yang agak kuat di bagian kepala. dan tepat nya di bagian otak sebelah kiri . namun benturan itu tidak berakibat buruk bagi otak nya. namun besar kemungkinan itu akan berpengaruh pada daya ingat nya." ucap dokter itu
"jadi apa yang harus kita lakukan dok" tanya bu Erni yang berusaha tegar.
" untuk saat ini, kita tidak boleh membuat pasien stres, atau kelelahan. karna akan berakibat buruk. setelah kami menjahit luka nya dan setelah ia sadar , jika ia tidak merasa kan pusing pasien boleh pulang" ucap dokter itu
" makasih dok, apa boleh saya melihat anak saya dok?" tanya bu Erni
" silahkan buk, tapi jangan terlalu membuat pasien merasa jenuh. baik lah saya permisi " ucap dokter itu keluar dari ruangan Zahra.
" Andai takdir bisa di rubah, andai hayalan bisa jadi kenyataan, akan mama rubah kata andai menjadi nyata. jika bisa di rubah mama tak ingin melihat mu seperti ini sayang. biar lah mama yang merasakan beban ini sendiri. " ucap bu Erni sambil mengelus tangan Zahra.
"apa sekarang dengan melihat Zahra terbaring disini kamu sudah merasa puas? bukankah ini yang kau ingin kan" ucap bu Erni kepada Andi.
" maaf kan saya bu, saya salah.. saya tidak tau akan seperti ini" ucap Andi yang juga menangis dan menyesal melihat Zahra yang terbaring dengan wajah sedikit lembam.
" kata maaf mu kini tak berguna, jika Zahra tidak selamat. kamu begitu kejam , kamu tidak mencintai anak saya" ucap bu Erni
deg...
Jantung Andi berdetak kuat. ia tak menyangka kalau mertua nya akan berkata seperti itu.
__ADS_1
" sekali lagi saya minta maaf, saya akan menjaga Zahra dengan baik, saya sangat mencintai nya bu" ucap Andi
"kalau kau mencintai Zahra , tinggalkan Zahra . biara ia bahagia menjalani hari hari nya" ucap Andi
Tanpa mereka sadari dari tadi Zahra sudah sadar. namun karna tidak ada yang memperhatikan nya , ia pun berpura-pura tidur kembali. dan ia mendengar semua percakapan mama dan suami nya itu.
"tapi saya tidak sanggup hidup tanpa Zahra , saya mohon biar kan lah Zahra berada di samping saya. dan saya akan menjaga nya sepenuh jiwa raga saya" ucap Andi memohon. kini Andi telah duduk di lantai , ia memegang kaki mertua nya memohon belas kasih.
" apakah sebegitu nya kamu cinta sama aku, tapi kenapa kamu tega nyakitin aku, kenapa kamu tega nindas aku, kenapa " batin Zahra. Tak terasa Zahra mengeluarkan air mata nya.
Bu Erni begitu kaget melihat Zahra mengeluarkan air mata . bu Erni memencet tombol yang ada di atas kasur tempat Zahra ber baring.
Dan dokter pun datang..
.
.
.
.
.
jangan lupa like komen dan vote ya..😊😊😊😊
__ADS_1