CINTA KU...

CINTA KU...
Move on 2


__ADS_3

Tanpa meraka sadari ,acara tahlilan tersebut pun telah selesai di laksana kan. Zahra yang masih memikirkan tentang ucapan Adit, ia hanya bisa diam seribu bahasa. Sedangkan bu Erni mengantar Adit keluar dari kamar putri nya dan begitu pula dengan ART tersebut.


Setelah sampai di depan pintu utama, bu Erni menyuruh Adit untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah. Mereka pun duduk berhadapan hanya ada meja yang bundar yang memisah kan mereka.


" Apa maksud dari ucapa nak Adit" ucap Bu Erni, ia berbahasa seperti orang tua dan anak.


" Saya tidak ingin melihat Zahra terluka, memang saya sudah menyimpan perasaan ini . Saya harap ibu mau menerima saya menjadi pengganti menantu ibu sebelum nya" ucap Adit.


" Tapi saya tidak bisa memaksakan kehendak Zahra, biar lah dia yang menjawab" ucap bu Erni


" Baik lah,,, saya permisi dulu ya bu, hari sudah semakin malam" ucap Adit


" Pergi lah, terimakasih atas perhatian nak Adit " ucap bu Erni


Adit pun mencium punggung tangan bu Erni, Setelah itu ia berjalan menuju mobil nya dan meninggalkan rumah tersebut.


Setelah melihat Adit pergi , bu Erni pun masuk kedalam rumah, ia ingin melihat kondisi Zahra.


Sesampainya di kamar Zahra, bu Erni melihat putri nya yang sudah tertidur pulas di balik selimut nya. ia pun tak ingin membangunkan putri nya, sehingga ia keluar tanpa kata kata.


Ke esokan hari nya Zahra nampak sudah lebih segar dari tadi malam. Namun infus yang ada di tangan nya sudah terlepas. Zahra pun berpikir sejenak.


" Siapa yang melepaskan Infus ini" ucap Zahra , ia melihat ada plaster kecil di tempelkan di punggung tangan nya bekas infus yang terpasang semalam.


Masih dalam lamunan, tiba tiba Zahra mendengar suara ketukan pintu, Zahra langsung tersadar dan melihat siapa yang mendatangi kamar nya.

__ADS_1


Sedikit terkejut ,namun ada rasa bahagia di dalam hati setelah melihat sosok orang tersebut , begitu lah yang di rasakan Zahra.


" Adit.."ucap Zahra


" Kamu sudah bangun, ini aku bawakan sarapan untuk mu"ucap Adit meletak kan nampan berisi mangkok bubur dan segelas air mineral di atas meja .


" Kamu ngapain kesini, apa kamu tidak bekerja?"ucap Zahra


" Ini kan aku lagi bekerja, merawat pasien yang sedang sakit" ucap Adit , namun mampu mengundang gelak tawa dari kedua insan tersebut


" Apa kamu yang melepaskan infus ku"ucap Zahra


" hhmmm,"


Pertanyaan Zahra hanya di jawab anggukan oleh Adit.


" Aku baru datang kesini tadi pagi, karna semalam aku tidak bisa tidur memikirkan mu"ucap Adit.


"iiihh.... gombal" ucap Zahra


Seketika suana menjadi hening , tiba tiba terdengar suara perut yang mengeyok meminta untuk segera di isi dengan makanan .


Karna mendengar suara tersebut , membuat Zahra dan Adit saling pandang.


"hahaha... perut kamu sudah lapar tu"ledek Adit

__ADS_1


" hehehe... "jawab Zahra sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.


Adit pun memberikan mangkuk berisi bubur tersebut kepada Zahra, namun seketika raut wajah Zahra berubah setelah melihat isi di dalam mangkuk tersebut.


" Kamu kenapa Ra"ucap Adit karna ia melihat raut wajah Zahra yang berubah.


" Aku enggak suka bubur Dit" ucap Zahra


" Tapi ini bagus untuk orang yang sedang sakit" ucap Adit.


Zahra tidak merespon ucapan Adit, ia merasa tidak nyaman melihat bubur itu.


Adit seolah mengerti apa yang ada di pikiran Zahra, ia pun duduk di tepi ranjang , suapaya ia lebih dekat dengan Zahra.


Zahra yang mau bertanya seolah ucapan nya di potong oleh Adit.


" Sini biar aku suapin, pasti rasa nya akan lebih nikmat"ucap Adit menyodorkan sesendok bubur ke mulut Zahra.


Seolah terkena hipnotis, Zahra menerima setiap suapan bubur dari Adit. Hingga bubur tersebut tandas di mangkuk nya. Melihat Zahra menghabis kan bubur tersebut , Adit pun meledek nya.


" Kata nya enggak suka, nih buktinya habis" ledek Adit sambil memperlihat kan manggkuk tersebut.


" Hehehe.." Zahra hanya membalas dengan sedikit tawa dan di sambut tawa oleh Adit.


Tanpa mereka sadari, Bu Erni ternyata berdiri di ambang pintu, ia mendengar apa saja yang telah mereka bicarakan.

__ADS_1


Melihat ke anak nya masih bisa bercanda tawa , bu Erni merasa bahagia.


"ya allaah bahagia kan lah anak ku, jangan lah buat ia terus bersedih " batin bu Erni, ia pun pergi meninggalkan kamar Zahra .


__ADS_2