
Hari demi hari keadaan Andi pun belum juga ada perkembangan ,sudah lebih dari satu bulan ia masih terbaring dengan banyak selang di dada putih dan bidang milik nya. hampir setiap hari jika Zahra memiliki waktu luang ia akan menjenguk suami nya itu.
Tanpa sepengetahuan Zahra , ternyata Siska sering juga mengunjungi Andi. namun bukan untuk melihat perkembangan Andi , melainkan ia datang untuk memberi Andi obat penenang.
" selamat malam sayang ku,, apa kamu belum puas dengan tidur mu, apa kamu tau aku bahkan tidak ingin melihat dirimu bisa membuka mata untuk bisa melihat dunia ini" ucap Siska sambil ia menyuntik kan obat penenang di dalam infus Andi.
" maaf kan aku,, karna kebencian ku kepada Zahra kamu yang harus membayar ini semua" ucap Siska. ia pun segera keluar dari dalam ruangan tersebut.
Siska melangkah kan kaki nya dengan cepat, ia takut jika tiba tiba ada yang mengenali nya disana. benar saja apa yang ada di pikiran Siska, baru beberapa langkah ia menjauh dari pintu ruangan Andi , ada suara lelaki yang memanggil nama nya.
" Siska. .." ucap lelaki itu sambil berlari menghampirinya
Siska pun akhirnya menghentikan langkah nya ketika melihat Rizal yang sudah ada di hadapan nya.
" Sis.. ngapain kamu disini? apa kamu sakit?" tanya Rizal
"mmm enggak kok, aku cuma jenguk seseorang " ucap Siska , ia berusaha keras menutupi kegugupan nya.
" siapa Sis, pacar kamu ya?" goda Rizal kepada nya
" bukan pacar aku, dia teman ku" ucap Siska
" aku boleh enggak jenguk nya , kan teman kamu berarti teman aku juga" ucap Rizal.
"jangan.." ucap Siska dengan cepat
__ADS_1
Rizal mengerutkan dahi nya , ia ingin mendapat penjelasan yang tepat.
" jangan karena waktu besuk udah habis, mungkin lain kali aja"ucap Siska
" kamu ngapain disini Zal?" tanya Siska
" aku kesini hanya mengambil obat mama " ucap Rizal
"emang tante kenapa Zal?" tanya Siska
" tadi pagi ia tak enak badan, jadi aku membawa nya kesini karna terlalu terburu buru aku lupa mengambil obat nya" ucap Rizal
" oh... ya udah dulu ya Zal, hari makin malam aku pamit ya" ucap Siska dan ia pun berlalu menjauhi Rizal.
" aku boleh gak minta kontak kamu" ucap Rizal yang setengah berlari mengejar Siska.
" boleh kok, ini kartu nama ku , kamu lihat disini saja ya" ucap Siska memberi kartu nama nya.
Rizal pun menerima kartu tersebut, ia ingin bertanya lagi tentang hubungan antar dirinya dan Zahra , namun seolah Siska tau Rizal akan bertanya lagi, ia segera menghilang dari pandangan Rizal.
" hmmm... dia hilang lagi ,,, kenapa ia begitu terburu buru apa dia tidak merindukan ku" batin Rizal
Siska mempercepat langkah nya, ia segera masuk kedalam mobil nya. setelah ia merasa tenang ,ia pun segera membawa mobil nya meninggalkan pekarangan rumah sakit tersebut.
Rizal yang masih mencari keberadaan Siska nyata nya ia tak dapat menemukan sosok wanita tersebut.
__ADS_1
" aaakkhhh. .. kok cepat banget sih dia hilang nya " ucap Rizal
Rizal pun segera menuju mobil nya dan membawa nya meninggalkan pekarangan rumah aku sakit .
Di tempat lain Zahra yang baru selesai sholat Isya , ia tidak lupa berdoa kepada allaah untuk meminta petunjuk dan keselamatan bagi nya dan orang orang yang menyayangi nya. dengan menengadah kan tangan nya ke atas sejajar dengan bahu nya. Zahra yang duduk di atas sajadah nya pun berdoa.
"ya allaah ya tuhan ku engkau lah yang maha pengampun , ampuni lah segala dosa dosa ku, dosa kedua orang tua ku , dosa suami ku, dan dosa orang orang muslim sekalian. ya allaah beri lah aku petunjuk akan keadaan suami ku, selamat kan lah dia , jangan lah engkau buat dia merasa kan sakit yang begitu lama, ya allaah semakin lama aku melihat dia terbaring lemah tak berdaya , kenapa hati ku ini merasa sakit , padahal ia begitu kejam terhadap ku, ia telah mengkhianati pernikahan kami, kuat kan lah aku ya allaah, kuat kan lah hati ku untuk melewati semua ini , kuat kan lah hati ku seperti batu karang di dalam lautan...aamiin" ucap Zahra yang diiringi isak tangis nya, ia pun menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
Setelah merasa sedikit tenang , Zahra pun bangkit dari sajadah nya , merapikan mukena dan sajadah tersebut.
Tanpa Zahra sadari, ada sepasang telinga dan sepasang mata yang mendengar dan melihat seorang istri meminta pertolongan atas musibah yang di rasakan nya.
Bu Erni yang khawatir karna Zahra tak kunjung keluar dari kamar nya , Sedang kan ia sudah menunggu di meja makan
.
Terlihat ada air yang mengalir dari kedua bola mata seorang ibu hingga membasahi kedua pipi nya , bu Erni merasa tak tega atas apa yang telah menimpa anak nya. namun lagi lagi ia harus terlihat kuat agar Zahra juga kuat menghadapi hari hari nya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
makasih sudah setia disini . ...😉😉😉