
Setelah mengurus semua persiapan ,Andi pun di bawa ke rumah nya untuk di semayam kan. Zahra sudah menghubungi bu Erni untuk mempersiap kan segala keperluan yang akan di butuh kan nanti.
Didalam ambulance Zahra yang duduk menghadap jenazah suami nya ,masih menangis tersedu sedu. Ia belom menyangka akan mennadi janda di usia nya yang beranjak dua puluh tujuh tahun. Sesal akan semua yang terjadi tidak lah berarti , yang sudah pergi tak akan kembali.
Gerbang rumah Andi sudah terlihat,Disana sudah terpasang beberapa karangan bunga yang tertulis .
"Turut berduka cita atas meninggal nya Andi Pranata" Dan banyak lagi papan bunga lain nya yang bertulis kan sedemekian rupa.
Zahra semakin terisak dalam tangis nya , ketika membaca salah satu papan bunga yang dikirim kan oleh Siska. Ya seperti pisau belati yang menancap di hati, mungkin seperti itu lah sakit nya hati Zahra saat ini.
Ambulance pun berhenti , banyak orang yang menghampiri mobil pengantar jenazah itu . Setelah pintu belakang mobil itu terbuka ,beberapa orang langsung memikul tandu tempat Andi berbaring kaku.
Disana penjagaan di buat seketat mungkin ,karna yang meninggal ini adalah bos dari perusahaan MY grup. Semua para pelayat mengucap kan bela sungkawa yang sedalam dalam nya ke Zahra, walau di jawab dengan anggukan ,tetap saja air mata tidak dapat di bohongi . Zahra yang di peluk oleh bu Erni pun tak mampu meredakan kesedihan nya.
Belum lagi ada di antara pelayat yang mengetahui status bu Erni, Mereka pun menggibah layak nya orang yang tak punya kesadaran.
"Lihat lah udah mama nya janda ,ini anak nya pun ikut ikutan janda . " Begitu lah salah satu kata yang dapat di tangkap oleh indra pendengaran Zahra dan bu Erni. Namun mereka tidak mau mengambil pusing atas ucapan itu.
Karna matahari sudah menghilang dan menandakan malam pun tiba, acara pengajian pun di mulai setelah sholat maghrib. Zahra masih duduk di samping mayat suami nya, sesekali ia membuka penutup kain putih itu. Walaupun pernikahan nya tak seindah layak nya pasangan yang berada di luar sana, namun mereka sudah mempunyai rasa sebelum kejadian papa nya Zahra.
" Andai waktu dapat ku putar kembali, mungkin kita tidak akan seperti ini. Andai kita tak seegois itu mungkin kita masih bersama, maaf kan aku ,maafkan aku " ucap Zahra sambil mengelus pucuk kepala suami nya.
__ADS_1
Hari semakin gelap menandakan mahkluk hidup untuk beristirahat, namun tidak dengan Zahra ,ia masih setia duduk di samping suami nya dengan membaca surah yasin.
Tiba tiba terdengar suara keributan dari arah luar ruangan tersebut, Zahra yang ingin mengetahui pun ,akhir nya bangkit dari duduk nya dan menghampuri tempat keributan itu. Dan betapa terkejut nya Zahra ,saat melihat Siska lah yang membuat keributan tersebut.
"Ngapain kamu kesini ? ucap Zahra dengan nada tinggi.
" Zahra.. bilang pada petugas keamanan ini untuk melepaskan ku" teriak Siska dengan meronta ronta agar tangan nya terlepas dari genggaman penjaga itu.
" Kamu mau apa kesini, belum puas kah kau menghancurkan rumah tangga ku"bentak Zahra
" Itu belum seberapa di bandingkan kau yang merebut hati Rizal, aku membenci mu Zahra.." teriak Siska
" Bawa wanita setengah waras ini pergi, aku tidak mau melihat nya disini"titah Zahra
Hingga dengan sekali sentakan saja tangan Siska terlepas dari genggaman penjaga itu.
Siska pun berlari menerobos para pelayat yang sedang duduk, ia terus berlari sampai akhirnya ia berada tepat di mana tubuh Andi di baring kan. Zahra yang saat itu sedang ke toilet tidak menyadari akan kehadiran Siska.
Keadaan kembali ricuh , mendengar ada keributan Zahra dengan cepat menyelesaikan urusan nya di dalam toilet. ia pun keluar dengan tergesa gesa . Zahra melihat Siska memeluk tubuh suami nya yang telah kaku, melihat hal itu darah Zahra seperti meronta ronta. ia pun menghampiri Siska.
"pergi kau dari sini wanita jal*ng , jangan kau sentuh suami ku" ucap Zahra
__ADS_1
" aku memang wanita jal*ang, tapi asal kau dan kalian semua tau ,aku dan Andi pernah melakukan hubungan suami istri" teriak Siska .
Atas ucapan Siska , para pelayat pun saling pandang, mereka begitu terkejut atas apa yang telah mereka dengar.
Dengan begitu emosi Zahra menarik Siska dengan sebelah tangan nya, ia pun mencampak kan Siska hingga Siska tersungkur . Zahra pun memanggil petugas keamanan.
" kalian bawa dia sejauh mungkin dari sini, jika ia kembali lagi maka nyawa kalian bayaran nya" bentak Zahra
Petugas keamanan pun menyeret tubuh Siska kembali, Melihat Siska yang telah pergi dan para pelayat yang melihat diri nya dengan penuh tanda tanya, akhirnya Zahra pingsan untuk yang kedua kali.
Dengan cepat para pelayat dan penjaga membawa Zahra ke kamar nya, dengan di dampingi bu Erni tentu nya.
Sayup sayup suara azan telah berkumandang, Zahra pun terbangun dari tidur nya. ia merasa tenaga nya habis terkuras , namun ia belum tau apa sebab nya. Setelah kesadaran nya pulih, ia mengingat kejadian tadi malam. Zahra pun keluar dari kamar nya dan melangkah kan kaki nya menuju para pelayat yang masih setia disana.
Hari pun telah berganti siang, kini Andi pun telah selesai di mandikan , tinggal lah waktu mengkafani dan menyolatkan nya. Kini Zahra sudah tidak mengeluarkan air mata, namun mata yang sudah bengkak menjadi saksi atas kesedihan nya.
Setelah semua ritual telah selesai , Andi pun di masuk kan kedalam kranda dan di pikul ke dalam ambulance untuk di bawa ke pemakaman . hari yang mendung seolah menjadi saksi sedih nya hati seorang istri.
Hingga sampai lah di pemakaman, tiba tiba hujan pun turun seolah menjadi penghantar Andi ke tempat peristirahatan nya yang terakhir.
Setelah Andi sudah di masuk kan ke dalam liang lahat, Zahra pun kembali mengeluarkan air mata sambil ia pun berkata.
__ADS_1
"selamat jalan sayang, aku akan selalu mendoakan mu" ucap Zahra sambil melempar beberapa gumpalan tanah yang sudah ia bacakan surah al- ikhlas.
Semua acara pun telah di lalui, para pelayat pun satu persatu meninggalkan pemakaman tersebut. Begitu juga dengan Zahra, ia pun melangkah kan kaki nya pergi meninggalkan pusara suami nya.