
''Bajigan kau Kak''.
''Buk..''
''Abang''.Salsa terpekik saat melihat suaminya ditarik Azka kemudian wajah suaminya dipukul Bosnya itu,hinga darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Buk".satu pukulan lagi Azka hadiahkan diperut sang Kakak".
"Abang jagan pukul suami Salsa".lirih Salsa degan tangisan yang semakin pecah.
Perlahan wanita itu berjalan menghampiri suaminya yang meringkuk diatas lantai rumah sakit.
"Kenapa Kakak lakukan ini sama Aku Kak kenapa".Azka berbicara sambil menarik kerah jas Dokter yang Jhonsen kenakan.
"Jagan pukul suami Sakla lagi Pak,Salsa mohon".Salsa berlimpuh sambil membantu suaminya untuk duduk.
"Cih kalian berdua sama saja,Kamu juga Salsa kenapa kamu tega menusuk Jeny ha...padahal kamu juga perempuan,seharusnya kamu tau bagai mana sakitnya Jeny jika iya megetahui bahwa calon suaminya kini menikahi wanita lain".Azka menarik nafasnya panjang menahhan sesak didadanya saat menerima kenyataan ini kemudian iya berkata.
"Apa kau tau suami mu ini sekarang juga menghamili wanita lain".
"Deg".
Jantung Salsa rasanya mau berhenti berdetak saat Azka megigatkan akan kepahitan kenyataan hidupnya.
Perlahan iya melepaskan tagannya dari tubuh Jhonsen dan menghapus air matanya kemudian berkata.
"Salsa tau dan Salsa sadar diri Pak,disini Salsa hanya seorang gadis desa yang hanya pantas dihina dan dituduh".Salsa tersenyum miris.
Jhonsen menatap wajah istrinya iba.Wanita didepannya masih berusaha untuk tersenyum meskipun hatinya teluka.
"Ya sudah Salsa pergi".perlahan iya bagun namun.
"Sayang jagan tinggal kan Abang".Jhonsen sudah mendekap kaki Salsa dan bersimpuh dibawah kaki wanita itu,hinga membuat Salsa serba salah.
"Abang jagan seperti ini ayo bangun"?..
"Tidak Abang tidak akan berdiri jika Adek belum memaafkan Abang".
"Bang degarkan Salsa,sekarang Salsa sadar cinta tidak bisa dipaksakan,bertahun-tahun Salsa selalu memuja dan merindukan Abang dan bertahun-tahun juga Salsa mencoba untuk melupakan Abang tapi selalu gagal,hati bodoh ini terlalu lemah untuk disakiti Bang,Salsa hanya gadis desa yang degan mudah dipermainkan oleh orang kota apalagi orang terpandang seperti kalian,betulkan Pak Azka"?...lirihnya sambil menatap Azka kemudian kembali berbicara.
"Apa Bapak tau Salsa sudah terbila-gila degan laki-laki ini sejak umur lima belas tahun,bahkan Salsa rela mengemis cinta sama laki-laki ini, Bapak tau bahkan Salsa yang pertama kali menyatakan cinta sama Abang,bahkan Salsa yang memaksa Abang untuk mau menerima Salsa miris ya"?...Salsa tersenyum miris mengigat kebodohannya,bahkan air mata yang terus saja mengalir.
Semen tara Azka,laki-laki itu kini membeku ditempatnya,meresapi apa yang Salsa ucapkan,bukankah itu artinya Kakaknya sudah megenal Salsa jauh dari pada dirinya,lalu kenapa Kakaknya itu mau bertunagan degan Jeny dan bahkan mnghamili wanita itu"?..pikiran-pikiran itu berputar-putar dikepala Azka,hinga iya hanya mampu berdiri saja tampa sepatah katapun.
"Tapi sekarang Salsa bukan anak kecil lagi Bang Salsa sudah tau membedakan mana yang tulus,mana yang tidak,mana cinta obsesi mana cinta yang sebenarnya".setelah megatakan itu Salsa menarik nafasnya panjang kemudian kembali berkata.
"Salsa rasa cinta Salsa selama ini untuk Abang adalah opsesi,jadi Salsa mohon maaf karna selama ini Salsa selalu membuat hidup Abang susah,bahkan Salsa selalu merepotkan Abang,dan mulai sekarang Salsa janji tidak akan lagi menyusah kan Abang Salsa pamit Bang".setelah megatakkan itu semua Salsa berjalan keluar dari ruagan.
__ADS_1
Jhonsen yang tersadar dari keterkejutannya degan cepat berdiri dan berusaha untuk mengejar istrinya.
"Salsa tunggu Abang Dek".lirih Jhonsen degan air mata yang kini sudah membanjiri wajahnya.
Sementara Salsa wanita itu kini sudah berlari menyusuri jalanan ibu kota yang padat.
"Gue harus kemana sekarang"?..lirihnya karna sekarang dirinya sama sekali tidak memiliki uang.
"Buk apa disini menerima karyawan".Salsa bertanya pada ibu-ibu pemilik warung makan.
"Maaf Dek ibuk tidak butuh karyawan".
"Nyuci piring juga gak apa-apa kok Buk".
"Maaf ya Dek".
"Iya Buk terima kasih".Salsa kembali berjalan menyusuri jalanan Ibu kota yang sudah lumayan jauh dari rumah sakit,panas lumayan terik bahkan perutnya sudah terasa sagat lapar.
"Sabar ya sayang Mama akan cari kerja agar Adek bisa makan''.Salsa mengelus lembut perutnya yang masih rata.
"Mas apa disini menerima karyawan".lagi-lagi Salsa bertanya kepada pedagang bakso.
"Maaf Mbak saya tidak punya banyak uang untuk menggaji karyawan".
"Saya gak apa-apa gak digajj kok Mas,asalkan saya bisa dapat makan".lirihnya menunduk sedih.
"Mau Mas saya mau".
"Ya sudah Ayo sini,Mbak bisa bantu saya mencuci piring kan"?..
"Bisa Mas"?..jawab Salsa degan semagat dan memulai pekerjaannya.
Tak apa lah iya bekerja disini dulu siapa tau besok iya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik".pikir Salsa sambil memulai pekerjaannya,megambil piring-piring kotor kemudian mencucinya begitu seterusnya.
"Mbak ini makan dulu".pedagang Bakso tempat Salsa bekerja menawarkan nasi bungkus yang baru saja iya beli dipedagang sebelah.
Mata Salsa tiba-tiba berbinar,perutnya sekarang sudah sagat lapar.bahkan wanita itu sudah melangkah mendekat dan megambil nasi yang disodorkan Abang penjual Bakso degan semagat.
"Lapar baget ya Mbak".
"He..he..iya''..jawabnya degan mulut yang masih penuh degan makanan.
"Ya sudah ayo makan Mbak".
"Iya makasih".lagi-lagi Salsa berbicara degan mulut penuh.
Membuat laki-laki penjual bakso yang bernama Alan itu tersenyum menatap Salsa.
__ADS_1
Ditempat lain.
Lagi dan Lagi Jhonsen kehilagan jejak istrinya.
"Aaaarrrggg".
"Laki-laki bodoh tidak berguna".umpatnya kesal sambil memukul stir mobil yang iya kendarai, sudah hampir sore iya mencari Salsa namun sama sekali iya belum menemukan istrinya itu.
Perlaham Jhonsen meraih Smartpthone yang ada disaku Jas Dokternya kemudian menelfon seseorang.
"Temui gue diaparteman gue sekarang".setelah megatakan itu Jhonsen langsung mematikan samabugan telfon tampa menunggu jawaban orang yang ada diseberang sana.
Jhonsen langsung memutar arah mobilnya setelah doi mengigat sesuatu.
"Tuan".sapa anak buah Jhonsen sambil menunduk hormat.
"Bukankah kau yang selalu ku perintahkan untuk megikuti istri ku"?
"Iya benar tuan".
"Aku mau bertanya padamu".
"Apa itu Tuan"?
"Apakah selama kau megikutinya kau pernah melihat istri ku dekat degan laki-laki lain"?..Jhonsen bertanya degan wajah menyelidik sambil duduk dikursi kerjanya diApartemen.
"Setau saya selama ini Nona Salsa tidak pernah dekat degan laki-laki lain".anak buah Jhonsen berbicara degan nada serius.
"Apa kau yakin"?..
"Yakin Tuan".
"Pyar".
Jhonsen langsung melempar pas bunga yang ada diatas meja membuat anak buahnya yang bernama Iyan terperanjat kaget.
"Lalu siapa laki-laki yang mengaku sebagai suaminya saat dirumah sakit"?..Jhonsen menatap wajah anak buahnya degan tatapan tajam.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Yah tu kan Salsa nya pergi Jo sih cemburunya kelewatan.
Hadiah mana hadiah like vite and komen.
makasih
bay..bay...πππ
__ADS_1
Tbc