Contract Marriage

Contract Marriage
Panik


__ADS_3

Sagaara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, jantungnya berdebar kencang.


Terus berdoa di dalam hati semoga saja hal buruk saat itu, tak terjadi lagi menimpanya sekarang.


"Kumohon bertahan lah sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."


Tak seberapa lama kemudian mereka pun sampai juga di rumah sakit.


Dengan tergesa tapi penuh kehati-hatian Sagaara menggendong Vely hingga masuk ke ruangan Hamish.


Di dalam ruangan itu ternyata masih ada pasien yang perlu di periksa.


"Tuan muda?"


"Pindahkan saja pasien mu, dan cepat periksa istriku.. dia tiba-tiba saja pingsan."


"Tapi tuan, pasien saya.."


"Ham!"


"Ya, baiklah.." lalu Hamish dengan tak enak hati meminta maaf, "Nyonya tolong maafkan saya, sesuatu yang gawat baru saja terjadi. Suster akan mengantarkan anda ke ruangan dokter lainnya.. sebagai tanda permintaan maaf saya untuk chek-up hari ini gratis."


"Emm.. ya baiklah.." ibu paruh baya itu menatap Vely, "Tuan apakah nona itu istri anda?"


Sagaara mengangguk.


"Mungkin saja dia hamil.."


"Nadia, tolong kau antarkan nyonya ini.." intonasi nya sedikit meninggi.

__ADS_1


Sagaara yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut nyonya itu pun seketika terhenyak. Tangannya terkepal erat. Dengan amarahnya dia menatap Hamish!


Hamish yang sudah memasang stetoskop di kedua telinganya, "Saya akan memeriksanya -"


"Menjauh!"


"Tuan?"


"Menjauh dari ku!"


Sagaara mendekat ke meja kerja, meraih telefon. "Sebutkan nomor telefon ruangan dokter Kikan!"


"Tuan, saya bisa menjelaskannya -"


"SEBUTKAN!"


Baru kali ini Hamish melihat sikap dingin tuan muda Sagaara hingga berhasil membuatnya menelan.


Telunjuk Sagaara menekan satu persatu angka sesuai dengan yang di sebutkan Hamish barusan, dan telefonnya terhubung.


"Hallo, selamat sore saya Mutia petugas bagian obgyn -"


"Berikan telefonnya pada dokter Kikan!"


"Maaf sebelumnya, saya sedang bicara dengan siapa?"


"Sagaara Arjun Wijaya!"


Tu- tuan Sagaara? Mutia menekan sebuah tombol agar tuan muda tak mendengar percakapannya dengan dokter Kikan.

__ADS_1


"Dokter Kikan, gawat!" diirinya sudah se-panik itu, "Tuan muda Sagaara menelefon, dari suaranya terdengar seperti tidak suka."


Kikan yang masih memeriksa pasien pun tertegun, Apa? Apakah tuan muda sudah mengetahuinya?


"Tuan muda ingin bicara dengan anda, dok.."


Kikan mengangguk, "Tolong kau gantikan.."


Telefon itu pun beralih suara, "Selamat sore, saya dokter Kikan -"


"Bawa alat USG mu sekarang, ke ruangan Hamish! Jika dalam waktu 5 menit kau tak bisa memenuhinya.." suaranya terdengar lebih dingin, "Bersiaplah menanggung akibatnya!!" menutup telefon.


Kedua dokter itu sudah panik saja.


Beberapa pasang kaki berjalan cepat, sambil mendorong meja medis yang berisikan alat-alat untuk USG kandungan ibu hamil.


Mereka membawanya ke ruangan Hamish.


Perlahan pintu ruangannya terbuka, Kikan saja wajahnya sudah mulai memucat saat mendapati Hamish menundukan wajahnya di hadapan tuan muda.


Tuan muda yang sedang duduk di atas meja sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Dengan angkuh dia menatap mereka.


Tak lama kemudian profesor di rumah sakit ini pun datang menyusul, "Tuan muda membutuhkan sesuatu?"


"Paman Jo, sepertinya ada yang sedang bermain-main dengan ku.. aku memerlukan mu untuk memeriksa kondisi istriku!"


Jo, dia menatap satu persatu wajah tenaga medis yang ada di dalam ruangan itu.


"Kesalahan apa yang telah kalian lakukan?"

__ADS_1


Suasana nya hening seketika, ditelan ke khawatiran. "Kenapa kalian diam.." diam sejenak, "JAWAB!!"


Tapi tak satupun yang berani membuka suara.


__ADS_2