
Tangannya yang ia gunakan untuk menahan antara beban tubuh di atas kedua pahanya sudah gemetar.
"Tuan, anda tidak apa-apa.. tuan, tuan!" suara Ars menyadarkannya dari alam mimpi.
Ah! Sagaara menatap ke sekelilingnya dimana ruangan UGD masih tertutup, tak terdengar suara teriakan Vely.
"Ars, kenapa kau bisa ada disini?"
"Saat saya menelefon tuan, ternyata yang menjawabnya seorang pemilik kedai dan menceritakan semuanya." memberikan hp, "Ini hp tuan.."
Tak seberapa lama pintu pun terbuka, Sagaara beranjak dari duduknya "Dokter bagaimana istri dan calon anak kami.."
"Tuan tidak perlu khawatir, keadaan nona dan kehamilan nya baik-baik saja."
Terdengar suara helaan nafas dari mulutnya sembari Sagaara mengelus dada, "Syukurlah.. terimakasih Tuhan, terimakasih.." mengusap wajah, "Dokter aku ingin menjenguknya.."
"Silahkan tuan, nona pasti sangat senang sekali."
Sagaara pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu, meninggalkan Ars dan Liora berdua di luar.
Mereka duduk bersebelahan, "Hei.." ucap Ars mencoba menghangatkan suasana.
"Iya tuan?"
"Mengapa wanita harus hamil?"
"Karena itu adalah kodratnya seorang wanita tuan, hamil dan melahirkan adalah kedua hal yang menakjubkan."
"Seperti apa rasanya?"
__ADS_1
Eh? Seperti apa rasanya, mana aku tahu! Bodoh! "Maaf tuan saya tidak tahu."
Ars melirik dengan ekor matanya, "Kenapa tidak tahu, kau kan wanita?"
Pertanyaan bodoh macam apa ini? "Karena saya belum menikah, tuan.. nanti setelah saya menikah baru bisa merasakan apa yang di rasakan nona dan wanita lainnya yang sudah menikah." memalingkan wajah setengah mati menahan malu.
"Dengan siapa kau akan menikah?"
Hah! Jangan membuatku gila!
"Kenapa diam, apakah kau memiliki simpanan pria lain?"
Simpanan? Bicara apa sih dia.
Ars jadi ikut-ikutan meremas rambut Liora, maksud hati ingin meremas tapi malah jadi menjambak membuat rambut Liora rontok beberapa helai.
"Aku tadi bertanya apakah kau memiliki simpanan pria lain -"
"Maaf tuan itu adalah hal privasi saya, dimana tuan tidak boleh ikut campur. Dengan pria manapun saya berpacaran ataupun menikah -"
"Coba saja kau lakukan, aku akan membuat hidup pria itu tak tenang."
Ars, Ars.. tolong kau perjelas semua yang telah kau katakan padanya barusan. Itu semua.tersengar ambigu alias tak jelas.
Kau ingin mengikat benang merah di lehernya dengan kondisi kalian yang samar tak jelas.
"Tuan tak berhak melakukannya -" Liora terdiam saat telunjuk milik Ars menyisiri pelipis hingga ke bawah rahangnya.
Ars ingin lanjut tapi malah terdiam, Bodoh! Aku ini kenapa sih? Kenapa aku melakukan hal yang memalukan seperti ini? Aku kan bukan tuan muda!
__ADS_1
Lalu tak seberapa lama kemudian dia menoyor bahu Liora, "Menjauh, jangan mencoba mendekati ku."
Sumpah demi apa pun ingin rasanya Liora mengobrak abrik kepala pria itu, bagaimana bisa ada pria seperti dirinya terlahir ke dunia ini?
"Aaaaaaaaaa!!!"
Teriakan Liora terdengar sampai ke bed Vely, "Sayang, apa itu.. siapa yang berteriak?"
"Biarkan saja."
"Sayang, ayo kita mandi di pemandian air panas.."
"Kau baru saja jatuh, bagaimana jika kau terpeleset lagi nanti."
"Aku akan hati-hati sayang, lagi pula aku kan tidak sendiri.." mengusap perut, "Dia ada bersama dengan ku sayang.."
"Ya sudah, ingat jika sesuatu terjadi lagi padamu ini akan menjadi hari terkahir untukmu menikmati udara bebas."
"Aaaa..." ngeyel, dia memposisikan tubuhnya duduk menghadap ke Sagaara, mengalungkan tangannya di leher sang suami, "Aku tidak mau di kurung.." manja.
Sagaara tersenyum saat melihat tingkah manja istrinya, "Kalau begitu cium dulu.." menyentuh bibir sendiri.
Ya ampun... suamiku ini benar-benar tahu bagaimana caranya mendapatkan keuntungan pribadi ya..
###
Masih romantis-romantisan ya, alur ceritanya aku buat pelan tapi pasti biar kesannya gak lompat-lompat gitu.. hehehe..
vottenya ya jangan lupa, please bantu masuk 10 besar. π₯Ίπ
__ADS_1