
Masih menikmati salju yang semakin lebat turun, Vely menangguk salju di telapak tangan nya lalu menebarkan nya dan tak sengaja mengenai wajah Gaara.
Wanita itu tertawa, "Hei upik abu, berani sekali kau ya.." Gaara tersenyum lalu meraih salju di dalam genggaman tangan nya.
Sebelum Gaara melemparkan salju itu, terlebih dahulu Vely sudah kabur melarikan diri dengan suara tawanya yang khas.
Hari ini dia sangat bahagia, Gaara lantas tak diam saja. Dia tetap mengejar wanita itu hingga berlari mengitari kursi panjang lain nya.
"Kemari, sebelum aku yang menangkapmu.." Vely menggeleng, dia masih tertawa. "Upik abu, kau sungguh berani ya!"
Gaara menginjak kursi itu untuk bisa melompat melewati nya, kelakuan nya malah semakin membuat Vely takut dan ingin kabur.
"Mau kemana kau, hah?" tuan muda berhasil mencengkram tangan Vely lalu menarik nya kedalam dekapan Gaara.
Nafas mereka tersengal, suara jantung mereka sedang berdetak se irama.
"Sudah siang, ayo kita pulang kembali ke hotel.."
"I- iya.."
Jalan sembari bergandengan tangan membuat tangan dingin Vely menjadi hangat.
Dia menundukan pandangan nya, tak berani menatap wajah tuan muda di karenakan wajah nya sendiri sudah semerah tomat.
Tangan nya kekar, hangat, dan besar..
Gaara membukakan pintu mobil untuk nya, "Masuk, pakai sabuk pengaman mu dengan benar.."
Setelah duduk dan memakai sabuk pengaman, Gaara segera melajukan mobil nya menuju hotel X.
***
__ADS_1
Matahari serasa berputar dengan cepat dan sekarang sudah berganti dengan malam.
Vely baru saja selesai mengganti bajunya dengan piyama berwarna pink. Duduk sebentar di sofa dan mendadak dia mengeluh sakit di bagian perut bawah nya.
"Aaaw..." merintih sembari mengeratkan tanganya.
Gaara yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung panik, "Upik abu, kau kenapa?"
"Pe- perut saya sakit.."
"Memangnya apa yang kau makan, sampai-sampai perutmu sakit.."
"Em..." Vely menggeleng, mendadak dia tergelak saat merasakan sesuatu yang cair dan hangat keluar dari bagian V nya. Aaaa gawat, bodoh.. kenapa aku bisa lupa dengan tanggal menstruasi ku sendiri?
"Hei, kenapa diam.. jawab aku!"
"Apa?" Gaara mengernyit.
"Tu- tuan.. tolong.." bicara dengan lebih pelan, "Belikan pembalut.."
Meskipun pelan tetapi Gaara masih bisa mendengar nya dengan baik, keningnya mengkerut sebal.
"Se enaknya saja menyuruhku, beli sendiri!" wajahnya pun sudah merona merah ðŸ¤.
"Kak Damian..." rasa sakit itu membuatnya menangis!
Tangan Gaara terkepal erat, benci sekali dia mendengarnya. "Tunggu disini, awas saja kalau kau berani melangkahkan kakimu keluar dari kamar."
Gaara mengganti baju dan segera pergi untuk membeli pembalut.
__ADS_1
***
Mobil yang kendarainya melaju dengan kecepatan tinggi.
"Sialan kau upik abu, kenapa tidak menunggu setelah sampai di vila saja. Kau bisa menyuruh Nan ataupun pelayan lainnya."
Sampai juga di pusat perbelanjaan, Sial.. bikin malu saja! Seperti apa lagi bentuknya?
Tangannya merogoh saku, Benar-benar sial sekali, bahkan hp sampai tertinggal.
Mendengus kesal sembari menguatkan kepalan tangannya, Cari saja sendiri tidak usah bertanya-tanya.
Aura tuan muda memang berbeda, lihat tuh bahkan ketiga SPG itu wajahnya bersemu merah.
Gaara hanya membuang pandangannya ke arah lain, dan segera berlalu pergi.
Hampir 30 menit dia berkeliling namun tak menemukan benda itu.
Dirinya sudah sangat geram, Awas kau upik abu! Aku akan menghukum mu setelah pulang dari gedung neraka ini!
Langkahnya terhenti di sebuah rak besar tepat di hadapannya tersusun pampers dewasa.
Akhirnya ketemu juga, huh.. menghela nafas lega. Dengan polosnya dia memanggil seorang SPG untuk mengambilkan nya benda memalukan itu.
1 troli besar hanya di isi 6 pampers besar.
Aaaa ya ampun Tuhan, pria se tampan dia membeli pampers?
Tampannya... dan sangat perhatian kepada orangtuanya..
Aaa.. aku ingin menikah dengannya..
Ke tiga SPG itu tersenyum malu sembari mencuri pandang.
__ADS_1
Gaara sudah selesai melunasi pembayaran dan segera kembali ke hotel X.