
Uh, senyum jahat seorang nona muda setelah dia menggenggam goodie bag merah di tangannya.
"Sayang bawakan ya.."
"Apa yang kau beli?"
"Sesuatu yang sangat bagus.."
"Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, kan?"
Vely menggeleng lalu bersikap manis dia tersenyum.
"Apa lagi yang ingin kau beli?" kenapa semakin manis saja sih?
"Mmm... kita kesana, ayo.." menunjuk toko boneka, tapi keluar masuk toko boneka tak ada satupun yang di belinya.
Membuat kaki tuan muda lelah, "Kau sengaja kan mengajak ku kesana kemari sembari membawa benda ini!" dia menggantungkan goodie bag itu di udara.
"Tidak kok... siapa juga yang sengaja, kalau kau tidak mau membawanya ya sudh tidak apa-apa.. kemarikan biar aku saja yang membawanya."
Sagaara tak sengaja mendapati pasangan dimana pria itu sedang menenteng lima goodie bag di kedua tangannya.
Aku tidak salah lihat kan? Kenapa dia bisa membawa lima goodie bag. "Tidak usah, biar aku saja yang membawanya.. ayo apa lagi yang ingin kau beli?"
__ADS_1
"Kau yakin, tidak ingin aku yang membawanya sayang?"
"Iya.." mengusap pucuk kepala Vely.
"Mm baiklah, kita ke starbucks dulu ya.."
Duduk di meja nomor lima, Sagaara meletakan goodie bag itu di atas meja kemudian keduanya menikmati minuman segar yang dapat melepaskan dahaga di kerongkongan.
***
Puas berjalan-jalan mengukur jalan, pada akhirnya mereka hanya membawa satu goodie bag saja yang berisikan switer pink.
Keduanya sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk pulang, "Lihatkan, jalan-jalan hanya membeli ini? Bahkan aku saja tidak tahu apa isinya." keluh Sagaara sembari memijat betisnya.
"Sayang, kenapa dengan kaki mu?Apakah kau lelah? Kita baru membeli ini saja loh belum yang lainnya."
"Hei, kau ini semakin berani saja ya.." menatap kesal dengan matanya yang mendelik.
"Tidak sayang, mana mungkin aku berani.."
"Kita pulang saja.. sudah cukup jalan-jalannya dan jangan tawar menawar denganku!"
Apa? Haaah.. Vely hanya menghela nafas saja, "Iya baiklah.."
__ADS_1
Sagaara segera melajukan mobilnya dengan kecepatan setengah tinggi menuju Vila. Sepanjang perjalanan pulang Vely hanya diam saja, bukan karena marah melainkan dia tertidur dengan begitu nyenyak.
"Tidur?" Sagaara menggeleng, "Bisa-bisanya dia tidur seperti itu.."
Mobil yang di kemudikan nya baru saja menepi di garasi vila, Sagaara menepuk pelan pipi Vely.
"Sayang, bangun kita sudah sampai di vila."
Vely yang terlelap dalam tidurnya pun sama sekali tak menjawab, Sagaara melepaskan sabuk pengaman mereka lalu turun dan menggendong Vely ala bridal style.
Membawanya seperti itu tak memungkinkan nya untuk membawa Vely masuk ke ruang bawah tanah, mungkin saja tuan muda akan menyudahi hukumannya.
Dengan penuh ke hati-hatian Sagaara membawanya menapaki anak tangga menuju kamar utama di lantai 2.
Meletakan tubuh Vely dengan perlahan, dia mengusap pipinya lalu berkata dengan romantis.
"Aku mencintai mu sayang, tak ku izinkan siapa pun masuk dan mengusik rumah tangga kita."
Tak lupa juga dia mencium bibir ranum dan mengusap perut Vely, tiba-tiba saja sesuatu yang mengganggu fikirannya terlintas.
Sagaara meraih hp yang ada di dalam saku celananya, kemudian mengetikan Ayah Siaga.
Banyak artikel yang membahas tentang ayah siaga itu, melihat banyak foto anak kecil yang menggemaskan justru semakin membuatnya tak sabaran ingin segera memiliki seorang anak.
__ADS_1
Anak yang lahir dari rahim seorang wanita yang ia cintai, benih cinta mereka yang sempat tertunda.